Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Friday, November 13, 2020

MOTIVASI MENERBITKAN-ULANG BUKU SOS

Sumber gambar: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri

DALAM sebuah wawancara ulas buku dengan Radio Unesa belum lama ini, ada pertanyaan menarik dari host: “Apakah motivasi Anda menerbitkan-ulang buku SOS?” Yang dimaksud SOS adalah “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (edisi revisi, 2020). Dan saya sebagai penulis buku diminta untuk menjelaskannya. Harapan saya, catatan berikut ini lebih lengkap dari pada yang streaming radio atau di youtube.

Yang pertama dan mendasar, saya menerbitkan-ulang buku itu untuk memenuhi kewajiban menulis saya. Ya, menulis itu bagi saya wajib hukumnya, wajib sebagai sebuah ibadah yang harus saya tunaikan—sama dengan ibadah-ibadah lain. Dengan menerbitkan SOS edisi revisi itu, kewajiban menulis buku saya terbayar lunas. Tiada utang yang harus saya bayar lagi. Setidaknya hingga buku terbit.

Jujur saya tegaskan, kewajiban menulis ini semula saya abadikan di dalam buku “Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku” (2017). Dalam buku itu, saya turunkan dari perintah Allah dalam QS Al-Alaq 1-5. Membaca tentu perlu ada sesuatu yang dibaca, dan yang dibaca adalah teks; sementara, teks harus diproduksi lewat kegiatan menulis. Maka, menulis sama wajibnya dengan membaca. Jadi, sejak 2017 itu, menulis jadi ibadah yang wajib saya tunaikan; jika tidak, saya akan berdosa.

Kedua, tuntutan teman dan pembaca. Baik langsung maupun tak langsung, banyak teman dan pembaca yang ingin membaca buku SOS, sebab mereka penasaran, berkat promosi buku yang saya lakukan di medsos atau forum pelatihan. Dalam promosi, saya selalu menyebut 5 buku teori menulis saya: Rahasia Top Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2017), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Writing Is Selling (2018), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2016, 2020).

Tuntutan hadirnya kembali SOS, ternyata, dibawa serta oleh empat buku lainnya. Hal yang sama terjadi pada empat buku itu; misalnya Rahasia Top Menulis (2014) kini kembali diburu oleh pembaca setelah saya promosikan bersama empat buku lain. Istilahnya, satu gendong-indit yang lain. Maka, buku SOS yang pertama kali terbit pada 2016 harus saya terbitkan dengan edisi revisi pada 2020.

Ketiga, menjadi teladan bagi diri sendiri, keluarga, para sahabat, dan masyarakat. Artinya, untuk menyikapi tuntutan pembaca, penulis juga perlu sigap dan bijak dalam menerbitkan (kembali) bukunya. Dalam konteks ini, sesuai masukan pembaca,  dalam edisi baru ini saya menambah lima artikel pelengkap. Artikel mana saja, semua saya jelaskan dalam “Prakata” dalam buku edisi baru tersebut.

Keteladanan itu penting dalam pembudayaan literasi. Bukan hanya untuk orang lain, melainkan juga untuk diri sendiri. Diri sendiri perlu meneladani diri dari apa yang telah dilakukannya dengan baik sebelumnya. Kesuksesan pada tahap tertentu adalah cermin untuk tahap selanjutnya. Tatkala sekarang saya mampu memenuhi harapan pembaca dengan baik, ke depan saya akan melakukannya dengan lebih baik lagi. Itulah maksud keteladanan bagi diri sendiri.

Terakhir dan yang paling penting dan praktis adalah bahwa saya menerbitkan buku edisi revisi adalah untuk menghadiahi diri buku-buku karya sendiri pada saat ulang-tahun. Menulis buku untuk hadiah ulang tahu pada Maret 2020, sangatlah istimewa, karena saya berusia tepat 55 tahun. Karena itu, sejak September 2019, materi buku sudah saya siapkan: Praktik Literasi Guru Penulis Bojonegoro, Virus Emcho: Melintas Batas Ruang Waktu, dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan.

Tatkala waktunya tiba, Maret 2020, tepatlah rencana saya. Ketiga buku tersebut menjadi hadiah terindah pada saat saya ulang tahun ke-55. Semula ketiga buku akan saya launching dalam acara bedah buku secara luring, namun karena pandemi, launching tidak bisa terlaksana. Maka, saya hanya mengumumkannya di ruang-ruang medsos atau media baru yang saya miliki.

Di samping itu, saya juga menulis artikel “Menulis Buku untuk Hadiah Ultah” yang dimuat di sebuah surat kabar (Radar Surabaya, 22 Maret 2020). Tulisan ini merupakan penanda bagi konsistensi saya dalam menghadiahi diri buku karya sendiri pada saat ulangtahun—ya sudah konsisten dalam 4-5 tahun terakhir. Meski demikian, tahun 2020 ini, terasa istimewa karena pada ultah ke-55, saya menghadiahi diri tiga judul buku.

Demikianlah motivasi terpenting saya dalam menerbitkan kembali buku SOS. Dan sekarang, saya bersyukur, bahwa buku SOS tersedia cukup banyak di pasaran dan di rumah. Satu persatu pesanan buku juga sudah meluncur ke alamat para pemesan. Mudah-mudahan buku segera tiba, dan mereka segera membacanya. Dengan membacanya, mereka berpeluang untuk memetik hikmah dan inspirasinya.[]

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (edisi revisi, 2020). Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Wednesday, November 11, 2020

SEPATAH KATA UNTUK MAHASISWA YANG DIYUDISIUM

Yudisium Online Mahasiswa: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

SETIAP ada perpisahan, sumedhot rasaning ati, hati saya rasanya tersedot. Hari ini ada yudisium bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris—di antaranya 50 mahasiswa prodi Sastra Inggris, dan saya diberi penghormatan untuk memberikan sepatah dua patah kata. Nah, inilah saatnya perpisahan itu—dan saya rasakan sumedhot rasaning ati. Bahkan, tanpa ada yang menyurur, saya sampai mbrebes mili.

Mungkin saya gembeng, mudah mewek. Namun, itulah nyatanya. Yudisium itu, ibarat nikahan, adalah ijab qabul-nya, sudah sah dan halal, sedangkan wisuda itu pesta (wedding party) syukurannya. Substansinya ya di yudisium itu—sedangkan wisuda hanya seremonial. Jadi, tatkala mereka, anak-anak saya, yang telah bersama di kampus selama 4-5 tahun, diyudisium, itu artinya mereka sudah lulus—dan lulus artinya mereka telah mencapai destinasi akhir dari kuliah. Bagaimanapun, itu gong perpisahan.

Maka, tatkala diminta untuk memberikan sepatah kata kesan atau apa pun namanya, saya seperti blangkemen (kelu) untuk bicara; sehingga saya menyampaikannya pelan-pelan. Maaf, saya agak berpura-pura tampak seperti orang yang tegar, padahal pada momen ini saya sedang keropos dan rapuh: Ada yang membuat saya nyaris tak berdaya. Ibaratnya, saya memberikan pesan terakhir guna melepas anak untuk pergi jauh. Bayangkan…!

Saya sampaikan selamat kepada Putu, Aulia, Yoga, Kristin, dan seluruh anak-anak yang yudidium. Empat-lima tahun sudah mereka bersama belajar memahami hidup dari lingkungan akdemik. Saya ingatkan, bagaimana dalam Indonesian Society and Culture (ISC), individu harus belajar bernegosiasi, berintegrasi atau memasang resistensi pada individu lain dalam ranah keluarga, komunitas, masyarakat, etnik, nation, dan dunia. Ada sistem nilai dan norma yang harus dihayati, ada impian yang harus diperjuangkan.

Menyelesaikan studi bukanlah berakhirnta sebuah perjalanan. Yudisium itu destinasi dari impian mahasiswa alias anak-anak saya untuk lulus studi. Tentu, lulus bukanlah destinasi akhir. Sebab, setelah itu, mahasiswa masih akan tetap punya tempat belajar—memang belum tentu sebuah lingkungan akademik, justru akan menempati lingkungan non-akademik di luar sana. Mulai detik ini mereka malah wajib membuat impian baru untuk destinasi-destinasi baru ke depan.

Saya tegaskan, “The world is like a school, and the book is just like a book to read and write.” Dunia ini laksana sekolah, dan hidup ini laksana buku untuk dibaca dan ditulis. Jika dunia dianggap sebagai sekolah, barang tentu, ia harus dipelihara dan dirawat agar ia nyaman dan aman untuk tempat belajar. Sementara itu, hidup ini, laksana buku, perlu dibaca, dipelajari, dihayati, dan ditulislah kebaikan-kebaikan untuk dibagi dengan sesama.

Dengan secuil statemen itu, anak-anak yang yudisium hari ini seharusnya tidak berhenti di sini (sebab ini bukanlah destinasi terakhir). Mereka masih harus mewujudkan impian baru: Mencari kerja, bekerja untuk meniti karir, atau melanjutkan studi. Masih ada jalan membentang di depan sana, yang harus dilalui dengan hati gembira. Mereka menjemput setiap bakul rezeki (dalam arti luas) yang dihujankan Tuhan dari langit, atau disemburkan oleh Tuhan dari dalam perut bumi. Mereka diharapkan mampu menghayati ungkapan “The world is like a school…..” dalam kehidupan.

Maka, meniti jalan hidup ke depan, tentulah berbeda dengan jalan tatklala berkulak ilmu di lingkungan akademik. Mungkin akan lebih berat dan lebih kompleks. Namun, perlu diyakini sepenuh hati, bahwa setiap manusia akan diuji sesuai dengan kekuatannya—dan dia dianugerahi rewards per individu. Jadi, ujian tidak akan pernah keliru. Jika manusia merasa berat dengan suatu ujian, perlu diyakini bahwa Allah maha tahu, manusia itu memang kuat menjalaninya.

Akhirnya, kini, dengan semedhot rasaning ati dan mbrebes mili yangd dalam, saya lepas dan biarkan mereka berjuang melaksanakan kata-kata impian yang mereka yakini.  Pada saat sama saya hanya berdoa, mudah-mudahan mereka dianugerahi bersihnya hati beningnya pikiran, serta selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah, dalam kisah perjuangan mereka menuju destinasi berikutnya. Bismillah, insyaallah bisa! [

Driyorejo, 11 November 2020 pkl 13.00.

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

Saturday, November 7, 2020

BUKU NAGUIB MAHFOUZ, KIRIMAN RATIH DARI MESIR

Sumber gambar: Dokumen Pribadi
Oleh Much. Khoiri

Beberapa waktu lalu ada kiriman buku dan lain-lain dari seseorang yang dulu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Dulu dia menulis skripsi tentang Midaq Alley—salah satu karya Naguib Mahfouz, penulis penerima hadiah Nobel sastra yang kini karyanya dipaketkan olehnya ke saya.

Ratih Rahmasari, nama mahasiswa itu, S-1 angkatan 2005, saya bimbing menulis skripsi dengan judul “A Study of Social Mobility of the Characters in Naguib Mahfoudz’s Midaq Alley” (2009). Dia tertarik menulis tentang Naguib sejak kuliah membahas karya penerina hadiah Nobel itu. Tak heran, penulisan skripsinya lancar dan hasilnya bagus.

Sekarang Ratih tinggal di Mesir, mengikuti sang suami yang tahun 2019 mulai kerja sebagai asisten atase pertahanan di KBRI di Mesir. Bersama dua putranya, Ratih dan suami memulai hidup baru sebagai ‘migran’ di negeri orang. Serangkaian ikhtiar dan doa telah memungkinkan mereka berada di negeri impian itu.

Dalam sebuah pesan WA pada 21 Desember 2019 lalu, dia menulis: “10 tahun lalu saya menulis [skripsi] dengan karya ini, dan sekarang ada di sini. Semacam mimpi kok jadi nyata.” Yang dimaksud “karya ini” adalah novel “Midaq Alley”, dan “di sini” adalah kafe legendaris Naguib Maguib. Dia merasa bersyukur dan takjub!

“Naguib Mahfouz coffee shop” itu nama yang sengaja ingin Ratih napaktilasi. Dia bermimpi, jika suatu saat bisa pergi ke Mesir, setting dalam karya Naguib Mahfouz harus bisa dikunjungi satu persatu. Dan impian itu terwujud. Kini dia sudah mengunjungi kafe itu, dan bergambar bersama dua jagoannya yang ganteng. Benar-benar sebuah kafe legendaris!

Ratih dan dua jagoannya di Naguib Mahfouz coffee shop

Ratih tahu persis bahwa saya mengagumi Naguib Mahfouz, pengarang yang memang pantas dikagumi itu, baik pribadi maupun karyanya. Karena itu, ketika tapak tilas kawasan dan objek-objek dalam novel yang dia tulis dalam skripsi, dia menemukan buku-buku Naguib terbaru; maka Ratih langsung mengontak saya, mengabarkan semuanya.

Dia juga mengabarkan adanya bazar buku yang besar-besaran. “Internasional book fair terbesar yang pernah saya kunjungi. Untuk buku berbahasa Inggris ada 1 hall besar sendiri, yang bahasa Arab 4 hall,” tulisnya lewat WA. Apakah yang ingin dikejarnya? Buku karya Naguib Mahfouz. Maka, dia juga mengujungi bazar buku tersebut, guna memuaskan apa yang ingin dicarinya.

Tak lama kemudian, dia mengirimi saya buku-buku baru Naguib Mahfouz. "Hadiah khusus untuk Bapak," katanya, ketika saya tanyakan berapa saya harus transfer untuk semuanya. Dia memang berniat memberi hadiah; dan saya tak bisa menolaknya. Itu buku-buku yang tidak tersedia di toko-toko buku di kota saya.

Judulnya adalah “Karnak Café”, “Children of the Alley”, dan “Voices from the Other World”. Semua baru, jreng, kinyis-kinyis. Saya kenal dengan tema dan gaya tulisan Naguib Mahfouz, pastilah ketiga karya ini juga bagus. Sebenarnya ketiganya sangat menggoda untuk membacanya satu persatu. Namun, saat ini waktunya belum memungkinkan. Saya masih terikat untuk mengerjakan tugas-tugas akademik yang sama wajibnya.

Karena itu, saya harus tunduk pada prioritas! Akhirnya, buku-buku itu saya relakan mengantri di rak buku yang khusus belum saya baca. Ada beberapa yang lain, memang, termasuk buku “Lentera Kegelapan”, buku serial Ensiklopedia, sebagian “Al-Hikam” karya Ibn Athaillah, dan lain-lain. Maklum, saya membaca buku secara ngemil, pelan-pelan, di sela berbagai kesibukan dan tugas akademik yang menyita tenaga, pikiran, dan waktu. Pada gilirannya saya pasti membacanya, insyaallah.[*]

#Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Friday, November 6, 2020

PROLOG: PANDEMI, KREATIVITAS, DAN LITERASI

Oleh: Much. Khoiri

Dalam sejarah peradaban manusia, manusia menjadi hebat akibat ditempa oleh kondisi yang sulit, keras, dan memprihatinkan—bahkan kerap menguras keringat, melinangkan air mata, dan mengucurkan darah. Manusia hebat tidak dihasilkan dari kemalasan dan kemanjaan. Mereka kreatif menemukan solusi atas semua kesulitan yang dihadapinya.

Mereka menemukan solusi karena mereka tidak fokus pada masalah melainkan pada solusi ketika masalah datang menghadang. Agaknya, mereka yakin bahwa berbagai kesulitan dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ujian yang akan menghasilkan hadiah atau anugerah tatkala ujian telah dilalui. Mereka juga yakin bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan; di balik masalah pastilah ada solusinya. Semua itu soal sikap.

Sumber Gbr: https://lpmpjatim.kemdikbud.go.id/site/detailpost/kunci-gerakan-literasi-di-masa-pandemi

                                  

Saat ini Tuhan mengirimkan pandemi covid-19 ke seluruh penjuru bumi. Sekarang, bagaimana sikap manusia dalam menghadapi pandemi? Jika pandemi disikapi secara negatif sebagai musibah atau hukuman, maka dampaknya pastilah merugikan. Lagi pula, untuk apa mengeluh, apatis, dan pesimistik terhadap serangan pandemi? Tidak ada manfaatnya. Maka, lebih bijak kiranya jika pandemi disikapi positif ebagai ujian.

Jika pandemi disikapi secara positif sebagai ujian, masih ada harapan untuk hidup. Mengapa? Dalam hidup sebagai anugerah, manusia memang selalu diuji alias tidak dibiarkan begitu saja. Sadar bahwa hal itu ujian, hidup bersama pandemi harus dilakoni dengan sebaik-baiknya agar mendapat kelulusan terbaik—agar mendapat ganjaran dari apa yang diujikan, mungkin akan berupa naik-tingkat kemuliaan.

Demikianlah, pandemi covid-19 mungkin disikapi negatif oleh sebagian orang, namun di mata orang-orang optimistis pandemi harus disikapi secara positif sebagai ujian. Tatkala mereka bersikap positif, mereka akan mudah terinspirasi untuk melakukan sesuatu, dan kemudian kreatif menemukan berbagai cara untuk melaksanakannya. Jadi, sikap positif sejalan dengan tumbuh-berkembangnya kreativitas.

Para penulis dalam buku ini—para kepala sekolah dan pengawas—bukanlah pihak yang tidak dinaungi mendung pandemi. Mereka juga mengalami (minimal merasakan) semua penderitaan, kesulitan, dan keprihatinan akibat pandemi. Namun, mereka bukan pecundang; melainkan pemenang—setidaknya calon pemenang, dalam menunjukkan kreativitas, yakni menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kali ini mereka bertindak sebagai penulis (mudah-mudahan penulis bukan hanya untuk buku ini.)

Maka, dengan kreativitas masing-masing, para penulis menuangkan gagasan, pengalaman, dan refleksi terkait dengan pandemi. Ada yang menulis tentang lockdown versi guru: belajar di rumah dan mengajar dari rumah. Ada yang menampilkan kontribusi (kecil) peningkatan kesadaran masyarakat terkait covid-19. Ada pula yang membidik sisi positif di balik pandemi covid-19. Ada pula yang menyorot tentang dampak pandemi pada implementasi perubahan kebijakan pendidikan.

Selain itu, ada topik-topik menarik lain yang mereka angkat terkait pandemi: Pandemi menjadi momentum menguji kreativitas guru, pendidikan religi, kesantunan berbahasa, peningkatan literasi teknologi, eksistensi guru pembelajar, eksplorasi nilai kearifan lokal Jawa, rekonstruksi psikologi di balik pandemi, serta refleksi kinerja selama semester ini.

Home learning juga diabadikan di dalam buku, bahkan ditulis oleh beberapa penulis, misalnya home learning sebagai momentum belajar, yang menyuburkan tren pembelajaran virtual yang memanfaatkan teknologi informasi. Ada pertanyaan, memang, apakah orangtua siap menghadapi home learning? Ada yang menjawab dalam tulisan, bahwa mau tak mau orangtua harus siap menjadi guru di rumah. Maka, siapa pun terkondisikan untuk menyiasati home learning.

Tak ketinggalan, ada paparan gagasan tentang konseling di masa pandemi, yakni bertopik cyber counseling. Konseling, yang biasa dilakukan luring (offline, tatap muka), kini ditempuh secara daring (online). Bagaimana rincian paparannya, tentu dapat diikuti selengkapnya di dalam buku ini. Lalu, jangan lupa untuk menemukan artikel yang tak kalah menarik, yakni tentang berliterasi dari rumah dan membangun literasi bangsa.

Dari artikel-artikel mereka di atas, tersusunlah buku ini—sebuah antologi yang menghimpun sekitar duapuluh artikel karya para penulis yang terdiri atas kepala sekolah dan pengawas. Artikel-artikel tersebut telah mereka kerjakan dalam masa sulit dan memprihatinkan, sebagai jawaban nyata atas ujian yang dihadirkan Tuhan. Maka, tak ayal lagi, buku antologi ini merupakan buah perjuangan yang tak kenal lelah.

Tentu, upaya para penulis buku ini patut dihargai sedalam-dalamnya, sebab dengan menyusun buku itu, mereka telah menunjukkan pentingnya nilai keteladanan. Kendati buku ini ditulis bersama, nilai keteladanan tersebut tetap melekat di dalamnya. Dan itu klop dengan tuntutan pembudayaan literasi. Bukankah pembudayaan literasi sangat membutuhkan keteladanan yang nyata?

Keteladanan, ya keteladanan dalam pembudayaan literasi. Para penulis di dalam buku ini agaknya ingin memberikan keteladanan dalam menulis dan menerbitkan buku. Buku tidak harus disusun sendiri, melainkan dapat pula bersama-sama sebagai antologi. Lewat antologi, penulis mengusir kekhawatiran akan dinilai negatif oleh pembaca, dan bahkan menjadi lebih berani menampilkan tulisan. Bukan tak mungkin, penulis-penulis antologi akan menghasilkan buku-buku mandiri.

Keteladanan itu diharapkan berdampak positif bagi sesama kepala sekolah, pengawas, guru, dan pembaca pada umumnya—yakni diteladaninya penulisan antologi atau buku mandiri. Setidaknya, ketika mereka mengajak orang lain untuk menulis buku, mereka telah memiliki otoritas dan kepercayaan diri berkat kapasitas dan pengalaman menulis antologi.

Akhir kata, mudah-mudahan buku ini menemukan takdir terbaiknya di hati pembaca budiman. Mudah-mudahan akan hadir banyak pembaca yang terinspirasi oleh keteladanan para penulis antologi ini. Dengan begitu, disadari atau tidak, mereka akan berupaya untuk menyuburkan titian-titian kontinuitas pengetahuan dari generasi ke generasi. Itulah salah satu tugas penting dunia literasi.[]

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Buku terbarunya “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

Thursday, November 5, 2020

TATKALA RTM MASIH DIBURU

Sumber gambar: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

Di luar dugaan, buku Rahasia Top Menulis (RTM) kini masih diburu pembaca. Buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada akhir 2014 itu selalu ditanyakan publik ketika saya memposting buku-buku teori menulis saya—entah lewat status WA, facebook, atau instagram. Tak saedikit yang masih berharap untuk dapat membeli dan memilikinya.

Seharusnya itu menjadi angin segar bagi saya karena buku yang sudah bertahun berada di pasaran, termasuk toko buku online, ternyata masih dicari pembaca. Ya, tentu, berkat upaya saya yang selalu mengingatkan imej buku itu ke tengah publik. Strategi kecil saya adalah mengingatkan ‘brand’ atau ikon bersama barang sejenis senyampang memperkenalkan barang baru. Itu menguatkan imej.

Kenyataannya, buku RTM masih terus saya promosikan bersama 4 buku teori menulis saya lainnya: Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Writing Is Selling (2020), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (edisi revisi, 2020). Jadi, RTM ikut nebeng keempat buku lain, sekaligus menguatkan eksistensi keempat buku itu.

Kini seharusnya saya bahagia ketika masih cukup banyak publik, terlebih teman dan kenalan dari berbagai status sosial, yang belum sempat membaca RTM itu sekarang ingin memesannya. Namun, apa daya, saya merasa galau, sebab sejujurnya saya sudah kehabisan stok RTM di rumah—tidak seperti empat buku teori menulis lainnya. Yang lainnya ready stock alias tersedia, namun khusus RTM benar-benar habis!

Tahun 2015-2017 saya memiliki stok cukup untuk buku itu, meski ia terpajang di rak-rak sekitar 142 TB Gramedia selama 1,5 tahunan. (Saya kerap mengeceknya secara periodik di dua toko buku Gramedia di Surabaya sepanjang tahun itu.) Saya menyetoknya untuk njagani keperluan mendadak, entah pelatihan, pemesanan, pameran, bedah buku, dan sejenisnya. Jika stok habis, saya memesannya ke gudang Gramedia di Surabaya.

Sejalan bergulirnya waktu, stok RTM pun menyusut dan menipis, mengingat pembelian RTM biasanya bersamaan pembelian sebagian atau seluruh buku teori menulis saya. Lalu, waktu yang khawatirkan itu tiba, yakni tatkala stok RTM benar-benar habis. Dan hal ini terjadi dalam beberapa bulan ini, terutama selama pandemi covid-19 ini. Ketika banyak orang banyak waktu luang dan ingin membaca, stok buku RTM tidak ada.

Sementara itu, saya cukup yakin, di gudang Gramedia cabang Surabaya, buku RTM agaknya tidak tersedia lagi. Pada pemesanan stok terakhir, saya hanya dapat membeli sekitar 100 eksemplar; dan saat itu saya sudah mendapat informasi akan habisnya stok di gudang. Maka, satu-satunya peluang yang paling memungkinkan untuk memenuhi permintaan pasar adalah mencetak ulang kembali.

Poin inilah yang perlu dipertimbangkan. Pada satu sisi, saya ingin memenuhi harapan pembaca agar buku RTM tersedia lagi, sehingga keterbacaannya makin meningkat. Pada sisi lain, saya juga menghitung berbagai konsekwensinya kalau saya memutuskan untuk menghubungi penerbit dalam rangka cetak ulang lagi.

Mudah-mudahan semua ini segera ada solusinya. Saya yakin, bersama kesulitan selalu ada kemudian. Setiap masalah akan ada solusinya. Itu saja!(*)

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

Tuesday, November 3, 2020

MENATAP RASUL, BETAPA KECILNYA AKU

Sumber gambar: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

Membaca buku “Lentera Kegelapan” (640 halaman) ini, meski baru sebagian saja, memperkuat kesadaran diri betapa aku begitu kecil--sepersekian butir debu--dihadapkan pada (ibaratnya) hamparan gurun pasir Rasulullah SAW, manusia sempurna dalam segala hal, sejak beliau dalam kandungan hingga beliau wafat. Benar-benar manusia terpilih dan paling istimewa!

Saking istimewanya, Allah Subhanahu wata’alaa berfirman begini, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi (Muhammad SAW). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya.”

Sungguh, manusia muslim diserukan untuk banyak-banyak membaca (dan menghayati) shalawat atas Nabi SAW dalam sebarang waktu yang memungkinkan. Bukan hanya manusia yang harus bershalawat. Allah dan para malaikat pun melantunkan shalawat atas Nabi SAW. Betapa nistanya manusia sombong yang tidak mau bershalawat.

Di samping itu, Nabi SAW adalah teladan yang nyata, dengan kemuliaan akhlak yang tak tertandingi. Bahkan beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Justru keteladanan dengan akhlak karim inilah yang menjadi bukti bahwa beliau adalah rahmatan lil 'aalamiin (rahmat bagi seluruh alam).

Ya, beliau adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya orang Islam, melainkan orang lain dari berbagai religi, serta makhluk-makhluk lain. Beliau menjadi rahmat bagi sekalian makhluk yang ada. Karena itu, dalam bahasa mahabbah (bahasa cinta), beliau digambarkan sebagai “anta samsun, anta badrun, anta nuurun fauqa nuurin…” (Engkaulah surya yang menyinari kelamnya hati manusia, Engkaulah purnama penerang gelapnya jiwa manusia, Engkaulah cahaya di atas cahaya).

Sementara aku--sepersekian debu ini--begitu dhaif hanya untuk berusaha meneladani beliau. Aku kecil, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tenggelam dalam ketakberdayaan. Hanya kepada Allah segala sesuatu disandarkan. Hanya atas izin dan ridha-Nya, aku si kecil ini belajar meneladani bagaimana Nabi SAW berpikir, bersikap, bertutur, dan berperilaku.(*)

Driyorejo, 2-11-2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Monday, November 2, 2020

BERGURU PADA PENULIS ANDAL

Sumber: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

Untuk menjadi orang yang hebat dalam suatu urusan, seseorang harus berguru pada orang lain yang hebat dalam urusan itu. Jika ingin menjadi petinju hebat, orang perlu berguru dengan benar pada petinju yang hebat. Jika ingin menjadi pendakwah yang hebat, orang juga perlu berguru pada kiai atau syeikh yang hebat dalam ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, hadits, dan sebagainya.

Demikian pun dalam dunia menulis. Untuk menjadi penulis andal, bergurulah kepada penulis andal. Penulis andal pastilah telah berguru pada penulis andal sebelumnya. Penulis andal juga telah mengalami berbagai kisah proses kreatif, dan telah tegak berdiri pada posisi mereka. Mereka memiliki kedudukan masing-masing. Karena itu, berguru kepada penulis andal adalah pilihan yang tepat.

Agaknya itulah yang hendak disampaikan oleh Milati Masruroh, penulis buku “Berburu Ilmu Menjadi Penulis Handal” (2020) ini. Mbak Mila—demikian sapaan akrab Milati Masruroh—merasa sangat perlu berguru kepada penulis-penulis yang dianggapnya andal. Dan kebetulan penulis-penulis itu telah dihadirkan oleh Wijaya Kusumah (OmJay), Sekjen IGTK & Founder KSG, ke dalam kuliah online bertajuk “Belajar Menulis Gelombang 12”.

Mbak Mila mengikuti seluruh sesi kuliah online—yang berjumlah 20 sesi. Para narasumbernya antara lain meliputi: Hati Narahayu, Sri Sugiastuti, Emi Sudarwati, Agung Pradini, Bambang Purwanto, Th. Sri Rahayu, dan sebagainya. Mereka menyampaikan topik-topik yang berbeda dalam setiap sesi, bergantung pada kepakaran yang mereka miliki.

Sementara itu, dalam setiap sesi kuliah online tersebut, Mbak Mila bertugas membuat resume dari materi yang disampaikan oleh para narasumber. Beragamnya topik materi yang disampaikan, seberagam itu pulalah resume yang dibuat oleh Mbak Mila. Karena Mbak Mila tertib dalam mengikuti kuliah online, maka lengkaplah pula resume yang dihasilkannya.

Kemudian dia menyusun buku ini berdasarkan resume dari materi-materi yang disampaikan oleh para narasumber. Dengan demikian, secara substansial, buku ini menyuguhkan materi yang bagus dan layak untuk dijadikan sumber belajar atau berguru. Dengan kemasan Mbak Mila, materi-materi tersebut terasa enak untuk dinikmati dan dimanfaatkan sebagai sumber referensi.

Sekadar informasi, subtopik-subtopik yang disajikan di dalam buku ini meliputi: (1) Mengubah PTK menjadi buku; (2) Virus literasi Ibu Kanjeng; (3) Langkah mudah menerbitkan buku; (4) Literasi di daerah pelosok negeri; (5) Berbagi ilmu menjadi blogger; (6) Membukukan tulisan di blog; (7) Tips menulis resume; Dan sebagainya. Tak diragukan lagi, untuk penulis pemula, semua itu sangat berguna untuk sumber belajar dan referensi.

Pada sisi lain, layak digarisbawahi, bahwa menyusun buku dari resume pun dapat dilakukan, terutama bagi penulis pemula—sebagaimana diakui Mbak Mila, bahwa buku ini adalah buku perdananya. Membuat resume, asalkan dikerjakan dengan cermat, akan menghasilkan tulisan yang bagus, sebab substansi atau materinya sejatinya sudah disampaikan oleh para narasumber, tinggal menangkap dan merangkumnya menjadi tulisan resume. Keterampilan penulis dalam membuat resume menentukan kualitas dari resume yang dihasilkan.

Menurut catatan Wijaya Kusumah (OmJay) dalam Kata Pengantar buku ini, membuat resume akan berhasil baik jika dibarengi dengan serangkaian latihan tak kenal lelah. “Segala sesuatu yang sudah jadi kebiasaan, biasanya akan membuat ketagihan…Dalam menulis tidak ada yang salah atau jelek.” Maka, latihan menjadi sesuatu yang wajib dilakukan. Hanya dengan banyak latihan, kualitas tulisan akan terpenuhi secara berangsur-angsur, dan harapan menjadi penulis andal dapat tercapai.

Sebagai penutup, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terbitnya buku ini, terutama atas keberanian penulis dalam mengalahkan keraguan diri sendiri. Sungguh, menerbitkan buku perlu keberanian dan perjuangan tersendiri. Sekarang, penulis adalah pemenang pada tahap awal meniti jalan menjadi penulis andal. Mudah-mudahan dia istikomah dalam melampaui kegelapan ruang-ruang perjuangan dalam proses kreatifnya.(*)  

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

BARTER BUKU BARU

Sumber gambar: Dokumen pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

Barter buku adalah cara praktis untuk menghargai karya kreatif penulis, di samping (terutama) membeli karyanya. Ini berlaku, terutama, antara mereka yang sama-sama penulis buku—sehingga buku-lah sesuatu yang dibarterkan. Dan itu kebetulan P Jack Parmin dan saya sendiri adalah penulis!

Bukan berarti bahwa saya—juga Pak Jack—bersikap sombong dengan mengaku sebagai penulis. Jika ada yang menilai demikian, mohon maaf. Namun, malah saya luruskan: Saya justru bangga dan lega menekuni profesi tambahan (avocation) sebagai penulis, di samping profesi utama sebagai dosen. Pada kartu nama saya tertulis, pada satu sisi profesi dosen, pada sisi lain profesi penulis.

Saya bangga menjadi penulis, karena saya yakin bahwa penulis itu sebuah profesi dengan kedudukan mulia. Kata Imam Al-Ghazali: “Jika kamu bukan anak seorang raja, bukan juga anak seorang ulama besar, maka menulislah!” Sastrawan Budi Darma juga menulis: “Begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak dapat diambil alih orang lain. Sebaliknya, kalau dekan, camat, atau mantri polisi mati, dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikannya.”

Jadi, saya tidak ragu-ragu lagi dengan profesi (tambahan) sebagai penulis. Itulah sebabnya ada semacam “ruhshah” (keringanan) untuk mendapatkan buku penulis lain dengan cara barter. Sebenarnya ingin saling membeli buku. Namun, karena toh transaksi malah tidak menunjukkan keakraban, maka barter lah yang diambil.

Lagi pula, jangan bayangkan Pak Jack dan saya tinggal berjauhan, semisal Surabaya dan Bandung, atau Surabaya dan Singapore. Sebaliknya, kami bertetangga satu rukun tetangga (RT), berjalan kaki pun hanya perlu beberapa menit. Karena itu, tatkala Pak Jack mengantarkan buku ke rumah saya, tak lama kemudian saya sudah tiba di depan pintu beliau untuk melakukan hal sama.

Kali ini, yang dibarterkan adalah buku Pak Jack berjudul "Solilokui Suto: Belajar dari Sekitar" (2020) dan buku saya "SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan" (2020). Keduanya masih gres dan kinyis-kinyis. Dan kini kedua buku saling berpindah tangan. Sejatinya, ini jual beli (transaksi) kuno atau tradisional namun tetap menemukan relevansinya kini.

Jika ditelisik, buku pertama tentang catatan reflektif atas peristiwa sehari-hari di sekitar lingkungan Pak Jack—tentu, lingkungan dalam arti luas. Ternyata, ada banyak peristiwa yang menebarkan mutiara hikmah dan inspirasi. Sementara, buku kedua tentang alasan filosofis dan pragmatis mengapa perlu menyiasati kesibukan dan tentang 17 strategi menyiasati kesibukan untuk menulis.

Tentu saja, substansi kedua buku tersebut berbeda. Namun, saya tidak mempertajam perbedaan itu. Justru perbedaan itulah yang menyebabkan barter ini lebih bermakna—satu dapat memperkaya yang lain—terlebih bagi kami yang sedang ‘macak’ menjadi pembaca kreatif dan kritis. Karena perbedaan itu pula, banyak yang dapat dipetik oleh masing-masing pihak.

Saya berharap, mudah-mudahan barter buku ini bukan destinasi terakhir. Saya yakin, ada banyak teman yang dapat saling barter buku. Pada satu sisi, kita dapat saling menghargai karya teman; pada sisi lain, kita dapat segera berkarya lagi untuk dibarterkan (mungkin) dengan penulis lain.(*)

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak litrerasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapar pribadi.


Sunday, November 1, 2020

NABI MUHAMMAD SAW TIDAK LITERAT?

Oleh Much. Khoiri 

JUDUL di atas diangkat dari pemikiran bahwa Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai rasul yang ummi—tidak bisa membaca dan menulis. Pemikiran ini, dalam konteks kekinian, tentu tidak rasional, bahkan aneh. Bagaimana mungkin seorang nabi dan rasul tidak mampu membaca dan menulis? Bagaimana menyebarkan fatwanya kepada umat jika tidak menguasai dua kemahiran bahasa ini?

Namun, itulah faktanya. Dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW lahir di dalam masyarakat ummi, yang dikonotasikan sebagai buta baca dan tulis, akibat kekuatan menghafalnya luar biasa. Kaum ummi mampu menghafalkan ratusan syair dan silsilah nasab mereka dengan sangat baik. Sementara itu, beliau merupakan rasul dari golongan mereka—artinya kaum ummi tersebut, bukan dari golongan kaum lain.

Sumber gambar: https://regional.inews.id/berita/
dalil-anjuran-merayakan-maulid-nabi-muhammad-saw


Kala itu k
emampuan membaca-menulis bisa dianggap sebuah aib yang menunjukkan lemahnya daya hafal orang tersebut. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia bermohon, “Mohon jangan beritahu siapa pun, karena kemampuan-menulis bagi kami adalah aib.” Ini menunjukkan betapa budaya hafalan lebih tinggi tingkatannya dari pada membaca-menulis.

Selain itu, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, saat malaikat Jibril berkata, “Bacalah!”, Nabi menjawab secara spontan, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat Jibril kembali berkata, “Bacalah!” Nabi menjawab dengan jawaban yang sama, sampai ketiga kalinya. Malaikat Jibril pun membacakan surat al-Alaq ayat 1-5. Pada peristiwa ini, ayat Alquran pertama kali muncul dan Muhammad diangkat menjadi Rasul. Peristiwa ini mutawatir!

Dengan demikian, ke-ummi-an Nabi SAW benar adanya. Namun, ke-ummi-an itu bukanlah cela dan aib, melainkan suatu keutamaan beliau bersama masyarakatnya. Sekaligus, dari kaca mata kekinian, ke-ummi-an beliau ternyata sangat ampuh untuk menangkal tuduhan bahwa beliau telah mengarang kitab suci Alquran. Dalam pemahaman para penuduh, mana mungkin seorang tak bisa baca-tulis bisa menyusun kitab setebal itu?

Kemudian, apakah Nabi Muhammad SAW tidak literat? Mengapa ini saya kemukakan, sebab dalam berbagai literatur modern, apa yang disebut literat banyak diacukan ke kemahiran atau kemampuan membaca dan menulis—kendati hal ini sebenarnya sebuah pemaknaan yang telah disempitkan.

Setidaknya, dalam praktiknya, literasi banyak dipahami sepadan dengan membaca dan menulis. Ini bisa dimaklumi ketika untuk menularkannya kepada generasi penerus, kedua keterampilan bahasa inilah yang mudah diajarkan atau diturunkan. Setidaknya, pembudayaan kedua keterampilan ini terukur karena senantiasa terdeteksi oleh dan terfasilitasi dengan teks-teks.

Untuk memahami pertanyaan di atas, tentu lebih baik kita kembali ke makna literasi yang sesungguhnya—yakni literasi dalam arti luas. Dalam aras ini, literasi bukan hanya mengacu ke kemahiran membaca dan menulis, melainkan kemahiran untuk menerima informasi, memahami, mengolahnya, dan meresponsnya untuk berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan apa yang dipahaminya.

Sebagai ilustrasi, ketika orang berkendara menjumpai tanda lalu lintas, ia membaca dan memahami apa arti lampu hijau, kuning, dan merah; lalu dia menjalankan kendaraannya ketika lampu hijau menyala, siap-siap berhenti atau siap berjalan ketika lampu kuning menyala, dan berhenti ketika lampu merah menyala. Orang ini orang literat dalam perlalulintasan.

Orang itu juga seorang literat jika ia antre ketika membeli minuman di swalayan, ketika masuk gedung pertunjukan, atau ketika mengurus paspor di kantor imigrasi. Jika ia tidak melaksanakan tindakan-tindakan ini, atau sebagaimana tidak taat lampu lintas, maka ia tergolong orang yang tidak literat. Ia termasuk iliterat.

Bisa digarisbawahi, orang yang literat itu orang yang melek hidup. Luas cakupannya. Orang yang literat itu mampu memahami berbagai aspek hidup dengan sangat baik, menyikapinya dengan baik, dan bertindak dengan sangat baik pula. Bisa dikatakan bahwa semakin multi-talenta seseorang, semakin tinggi pula tingkat literasinya.

***

Dalam kerangka makna demikian, bisa dikatakan bahwa mustahil Nabi Muhammad SAW itu tidak literat. Memang benar bahwa beliau ummi, tidak bisa membaca-menulis (sesuatu yang justru menunjukkan kelebihan dan keutamaan beliau); namun, tentulah gegabah jika beliau dianggap tidak literat. Sebaliknya, justru beliau seorang teladan manusia literat dan teladan pembudayaan literasi.

Mengapa demikian, tak dimungkiri, beliau sangat melek hidup. Beliau mampu memahami berbagai aspek hidup dengan baik, menyikapinya dengan baik, dan bertindak dengan baik pula. Allah telah menganugerahkan kepintaran dan kebijakan yang luar biasa, serta kemuliaan yang indah—bahkan apa pun yang dikatakan dan dilakukan sejalan dengan syariah. Ibaratnya, beliau adalah Alquran yang berjalan.

Semua ini tercermin dari dua film dan satu buku yang saya nikmati seputar maulud Nabi tahun ini. Saya membaca buku Lentera Kehidupan: Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW (Tim FKI Sejarah ATSAR, 2015) yang setebah 640 halaman—meski belum kelar semuanya. Saya menonton film “Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad SAW” (Kamis 29/10/2020) dan film “Masa Kecil Nabi Muhammad SAW” (Jumat, 30/10/2020). Karya-karya inilah yang mendasari saya untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paripurna, yang melek hidup.

Selain itu, beliau juga selalu memberikan keteladanan—sebuah prasyarat penting yang harus dipenuhi dalam pembudayaan literasi dewasa ini. Sudah digariskan bahwa beliau diutus memang untuk menyempurnakan akhlak kaumnya agar menjadi mulia. Selain itu, beliau juga disebut menjadi rahmatan lil ‘aalamiin, rahmat bagi sekalian alam. Keteladanan beliau bukan sekadar ucapan, melainkan juga tindakan nyata. Beliau itu satunya kata dan perbuatan.

Dalam beribadah, tak diragukan lagi, beliau adalah teladan yang harus dicontoh oleh siapa pun para pengikutnya. Kalau berzikir, dada beliau seakan bergemuruh akibat intensitasnya berzikir—itu mencontohkan agar zikir harus dilakukan sepenuh kalbu, penuh kekhusyukan. Demikian pun ketika shalat, beliau mencontohkan seluruh gerakan dan bacaan shalat, dengan sangat tertib—termasuk doa-doa yang dipanjatkan. Bahkan, dalam perang pun beliau selalu tampil di depan.

Dalam mendidik, sebagai seorang ummi, beliau merupakan pendidik yang luar biasa dan indah keteladanannya. Hal ini diungkapkan oleh Dr. M. Syafii Antonio dalam bukunya Muhammad SAW The Super Leader Manager, yang menuliskan 20 metode dan teknik pengajaran sebagai “holistic learning methods”. Di antaranya: learning conditioning, active interaction, applied learning, scanning dan levelling, discussion and feedback, storytelling, analogy and case-study, teaching and motivating, body language, picture and graph technology, reasoning and argumentation, self-reflection, dan sebagainya.

Singkat kata, pemikiran, perkataan dan perbuatan beliau adalah teladan-teladan yang luar biasa indahnya. Kita bisa membacanya di dalam hadis-hadis beliau. Semuanya memang bukan tulisan beliau, sebagaimana beliau juga tidak menulis Alquran, melainkan tulisan para perawi (periwayat) hadis yang masyhur. Inilah keluarbiasaan beliau. Pemikiran, perkataan, dan perbuatan beliau diabadikan ke dalam buku (hadis)—pegangan bagi umat Islam, di samping kitab suci Alquran.

Maka, tak diragukan lagi, beliau itu manusia yang sangat literat. Berbagai keistimewaan manusia melekat pada beliau—bukan hanya dalam dimensi spiritual dan pemikiran, melainkan juga dimensi ucapan dan tindakan. Beliau teladan manusia literat dan teladan pembudayaan literasi bagi masyarakatnya. Nah, pertanyaannya, kapankah kita meneladani beliau?[]

*Much. Khoiri adalah dosen Unesa, penggerak literasi, editor, dan penulis buku. Tulisan ini pendapat pribadi.

Wednesday, October 28, 2020

KANGEN JAGUNG REBUS

Oleh Much. Khoiri

Sumber gambar: https://www.harapanrakyat.com/
2019/10/manfaat-jagung-manis/

Kangen jagung itu persis menggodaku petang ini, seperti halnya dua pekan silam, aku juga membeli jagung ke penjual yang sama. Matanya berbinar-binar, dan selalu tergopoh-gopoh menyambutku. “Duapuluh ribu saja, Pak,” kataku. Dia memilihkan enam biji jagung rebus, dan berterima kasih dengan santun. Dalam hitungan detik, sekresek jagung rebus itu sudah berpindah tangan. Dan sekarang, petang ini, kami melahapnya.

Subhanallah, betapa sederhananya hidup ini—jika disyukuri dengan hati yang sareh penuh syukur. Jagung rebus sebiji atau dua saja sudah amat mengenyangkan perut. Non-kolesterol pula—jauh lebih sehat daripada fastfood atau makanan ala resto asing modern di mal-mal. Sementara itu, di luar sana masih banyak saudara kita yang masih kelaparan, atau belum makan seharian. Sungguh, aku tahu maknanya lapar karena memang pernah mengalaminya di musim paceklik, berkali-kali.

Hal ini menyadarkan bahwa hidup tidak perlu rakus alias serakah. Bekerja keras dan cerdas ya, tapi jangan serakah. Berupaya maksimal itu harus, tapi jangan rakus. Mengapa? Karena yang kita butuhkan sebenarnya hanya sedikit dari yang kita kejar-kejar sampai lupa segalanya, termasuk kadang lupa saudara sendiri. Petang ini saya hanya butuh jagung rebus, dan ternyata cukuplah sudah. Murah sekali, hanya duapuluh ribu rupiah!

Aku tak tahu persis apakah orang-orang yang berpenghasilan jutaan atau milyaran per jam atau per hari juga sama puasnya dengan aku kalau makan jagung rebus? Aku hanya tahu bahwa tubuh manusia itu relatif sama, membutuhkan asupan makanan yang relatif sama—meski sumber dan jenisnya berbeda. Aku juga tahu, manusia seharusnya makan sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Hanya saja, apakah mereka sadar bahwa jagung rebus itu lebih sehat dari pada pizza daging?

Keinginan memang tidak ada habisnya, berbeda dengan kebutuhan. Keinginan tak akan mungkin dibatasi oleh horizon langit, bahkan oleh batas-batas semesta ini, termasuk batas ruang dan waktu. Namun, kebutuhan bisa dibatasi oleh rasa puas dan rasa syukur atas anugerah yang manusia terima bahwa sebelum jadi orang, manusia terlahir telanjang tak punya apa-apa.

Nah, aku di sini bersama jagung rebus. Ternyata jagung rebus pun membukakan pintu hikmah bersyukur. Kita diingatkan dalam QS. Ar-Rahman berkali-kali, “Fabiayyi âlâ'i Rabbikumâ tukadzdzi bân. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Sungguh, Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan).*

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya.


Tuesday, October 27, 2020

MENULIS BUKU, BERKEMBANG BERSAMA TULISAN: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

SESUNGGUHNYA bersama kesulitan ada kemudahan. Sepenggal firman Allah itu sengaja saya kemukakan di sini, guna memperteguh keyakinan kita akan pesan terdalam dari ayat tersebut. Seberapa sulitnya urusan atau masalah yang kita hadapi, pastilah ada solusi, jalan keluar, kemudahan—tentu bagi kita yang mengimaninya dan berusaha keras untuk mengatasi kesulitan itu.

Pandemi covid-19 hadir di antara kita, bahkan menjadi ujian untuk kita semua. Pada sisi tertentu, ia dipandang sebagai kesulitan, mengingat ada perubahan besar dalam tata kehidupan yang harus disesuaikan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan, ada perubahan mendasar dalam pembelajaran, yakni diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan aneka konsekwensinya.

Namun, para guru SMPN 13 Surabaya yakin bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, mau tak mau mereka harus mendisrupsi diri dan sekaligus melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran, baik materi, metode, media, maupun asesmen. Semua menjadi pengalaman mahal bagi para guru. Saking mahalnya, pengalaman itu urgen untuk diabadikan ke dalam tulisan. Buku ini adalah bukti nyata para guru mengabdikan pengalaman PJJ selama pandemi ke dalam tulisan.

Demikianlah pesan pertama yang hendak disampaikan dalam buku ini. Meski kesulitan menghantui PJJ, beberapa penulis dalam buku ini mampu menyulap kesulitan itu sebagai tantangan untuk menulis. Mereka berhasil menjawab tantangan itu dengan karya nyata—berupa tulisan yang amat mungkin dibaca publik, lalu menginspirasi dan dikembangkan menjadi berbagai tulisan, yang intesitasnya tak terduga.

Pesan lainnya, meski hanya beberapa saja, mereka berhasil menambah jumlah guru penulis di negeri tercinta ini. Itu sebuah prestasi yang tak dapat diabaikan. Di tengah kebutuhan buku yang tinggi, kehadiran guru penulis dalam buku ini ibaratnya angin segar yang berhembus di tengah layunya dunia perbukuan. Bahkan, jika mereka ingin meniti profesi tambahan sebagai penulis buku, inilah saatnya mereka untuk memulainya. Dan buku ini adalah tonggak momentum yang terbaik!   

Dalam hal ini, marilah buka kartu! Menurut data statistik nasional, pada 2020 angka melek huruf telah mencapai 98% dari sekitar 268 juta jiwa penduduk Indonesia. Semestinya ini merupakan ladang penerbitan buku sangat subur. Sayangnya, profesi penulis sering dipandang sebelah mata karena kurang menjanjikan penghasilan yang layak, terlebih adanya miskonsepsi tentang kegiatan menulis buku yang kurang memberikan manfaat bagi perkembangan perbukuan di Indonesia.

Mari bandingkan perbukuan di Amerika dan Indonesia. Di Amerika Serikat sejak tahun 2018 telah terbit 75 ribu buku; di Indonesia hanya 10% dari buku terbit di Amerika, bahkan dapat lebih kecil lagi. Padahal dari segi jumlah penduduknya, tahun 2020 penduduk Amerika 330 juta jiwa dan Indonesia 268 juta jiwa. Inilah saatnya kita seharusnya belajar banyak tentang penerbitan buku ini.

Tentu saja ada variabel lain yang menjadi penyebab perbedaan penerbitan buku antara Amerika dan Indonesia, antara lain rendahnya daya beli buku dan budaya membaca masyarakat kita. Dua variabel penting inilah yang justru harus kita perhatikan untuk digarap secara sungguh-sungguh. Karena itu, hadirnya buku-buku karya guru tampaknya akan membantu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain itu, hingga saat ini masih ada miskonsepsi mengenai profesi menulis buku. Banyak yang berpandangan bahwa menulis buku adalah pekerjaan yang sulit sekali, memerlukan waktu yang banyak, perlu serius dan memerlukan bakat yang luar biasa untuk buku-buku (genre tertentu). Bahkan ada mitos bahwa menulis buku adalah pekerjaan orang orang yang superkreatif dan para petualang. Semua ini kadang dianggap sebagai mitos-mitos.

Pemerintah memang telah memasukkan program literasi ke dalam kurikulum pendidikan dengan harapan program ini mampu menumbuhkan minat baca bagi masyarakat Indonesia, dan berharap pula bahwa kegiatan membaca nantinya dapat menjadi budaya yang ditumbuhkan mulai dari sekolah-sekolah di Indonesia. Diharapkan pula, program literasi mampu menumbuhkan generasi yang mampu dan hobi membaca serta menulis buku.

Dalam konteks demikian, penting kiranya untuk mengapresiasi para guru penulis yang telah berjuang keras dalam menyusun buku ini. Mereka telah mengalahkan mitos-mitos dalam menulis. Bahkan mereka telah menjadi teladan untuk diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, serta berkembang bersama tulisan.  Mudah-mudahan budaya literasi membaca dan menulis di Indonesia segera berkembang pesat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.[]

Surabaya, 21 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

 

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts