Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Tuesday, April 7, 2020

Kata Pengantar: MEMBACA LITERASI CINTA

Kumpulan Puisi karya Cecep Gaos

Oleh MUCH. KHOIRI

Literasi cinta bukan semata membaca dan menulis (tentang) cinta. Literasi cinta lamat-lamat disampaikan oleh penulis buku ini sebagai kemampuan menangkap ruh informasi cinta, memahami, mengolahnya, dan mengungkapkannya. Manusia yang literat cinta bukan hanya menghayatinya makna cinta itu sendiri, melainkan juga mampu mengungkapkannya dengan berbagai moda yang memungkinkan.

Penyair—tepatnya penulis buku ini—, dengan kapasitasnya sendiri, telah mencoba menangkap ruh cinta, memahami, mengolah, dan mengungkapkannya lewat bahasanya sendiri. Cinta itu, baginya, bukan hanya cinta kepada kekasih, melainkan kepada cinta kepada siswa, keluarga, ibu, istri, dan sesama. Cinta mengandung keluasan dan kedalaman yang sulit diukur namun bisa diungkapkan—meski hanya sebagian dari keseluruhan. Seakan ia sedang membicarakan fragmen-fragmen suara hati kepada yang dicintainya.

Inilah catatan pertama dari buku ini: puisi-puisi dalam buku ini seakan persembahan-persembahan cinta dengan sepenuh penghayatan untuk mereka yang dicintainya. Cinta kekasih, misalnya, dapat ditelisik di dalam puisi “Bersandarlah di Bahuku”, cinta siswa di dalam “Itu Semua Karena Cinta”, cinta keluarga di dalam “Malamku, Tidurku”, cinta ibu di dalam “Umnuha, Umnuha, Umnuha”, dan cinta istri di dalam “Istriku, Aku Pena untuk Kertas Putihmu” atau “Istriku, Kau Dokter Cintaku.”

Lewat puisi-puisi yang ada kita diajak untuk memahami (kembali) atau memaknai cinta dengan aneka rasa. Sejatinya kita sangat akrab dengan cinta, karena kita mengalaminya setiap waktu. Namun, kadangkala kita terlena atau abai dalam mengungkapkannya dengan cerdas dan pas. Maka, kehadiran buku ini mencubit kita untuk menyadari betapa cinta harus senantiasa dijaga, dihidupkan, dan disuburkan—tidak cukup untuk dianggap sudah bersemayam di dalam jiwa.

Catatan kedua, penulis buku menyelipkan judul puisi-puisinya di dalam salah satu baris atau bait, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bagian. Menariknya, hal ini konsisten diterapkan, entah sengaja atau tidak, dalam puisi-puisi yang ada. Jika dicermati, teknik demikian seakan telah terbiasakan oleh penyair ini, seakan mengalir mengikuti luapan perasaan yang deras, tanpa rekaan yang semu. Agaknya hal ini merupakan licentia poetica penyair, yakni kekhasan pengucapan dalam berkarya yang berbeda dengan penyair lain, sehingga kekhasan itu merupakan ikon bagi dirinya.

Misalnya, dalam puisi “Bersandarlah di Bahuku”, kita bisa melacak judul ini di baris pertama bait keempat: Jika kau ingin berkeluh kesah, bersandarlah di bahuku. Telah kusediakan bahu yang kokoh untukmu. Tuk menopang segala beban yang kaurasakan. Hingga ia menjadi ringan, seringan kapas butih yang terbang melayang ditiup angin malam. Dalam puisi “Ingin Kuungkap Sebuah Rahasia Malam”, kita juga bisa menengok judul ini dalam bait kedua: Ingin kuungkap sebuah rahasia malam. Rahasia tentang keindahan malam berpadunya insan dalam syahdunya temaram.

Yang ketiga, buku kumpulan puisi ini adalah wahana komunikasi penyampai pesan (speaker) kepada sesuatu benda, person, atau yang dipersonifikasikan. Ada semacam model komunikasi yang disampaikan oleh “aku” kepada “kau” dalam arti luas. Seakan tidak ada jarak sosial dan emosional antara “aku dan “kau”—bahkan kadang digunakan sebutan “kita”, sebuah upaya pelibatan empatik pembaca di dalamnya. Hal ini tampak dalam puisi “Membicarakan Hati” berikut ini:

Membicarakan hati tak seperti memakan sepotong roti. Yang bisa
dimakan sesuka hati. Tanpa harus menunggunya hingga basi.

Membicarakan hati tak seperti bernyanyi di kamar mandi. Tak peduli
apakah ada orang lain yang menikmati. Yang penting rasa senang di hati
sendiri sudah terpenuhi.

Membicarakan hati itu seperti meminum secangkir kopi. Sesekali kita
tiupi. Kita aduk agar rasanya tak saling melebihi. Sesekali kita cicipi. Agar
tahu rasanya apakah sudah pas di hati. Sesekali kita hirup aromanya.
Lalu kita menikmatinya.

Dalam puisi ini penggunaan “kita” menyiratkan adanya “aku” dan “kau” untuk diajak memahami hakikat membicarakan hati. Ada ruang berbagi tentang membicarakan hati—yang bukan seperti memakan roti atau bernyanyi di kamar mandi, melainkan seperti meminum secangir kopi. Simile yang indah dan menarik: secangkir kopi—minuman yang rasanya bisa diatur dan diolah sesuai selera peminumnya.

Komunikasi yang tanpa jarak inilah yang, agaknya, telah menyebabkan penyair untuk mengungkapkan suara hatinya dengan lancar—bahkan kadang terkesan begitu lugas dan telanjang. Bahkan penyair memposisikan diri sebagai speaker sebegitu dekatnya sehingga keduanya tak terpisahkan, menjadi kanal yang mulus untuk komunikasi. Bagaimanapun, puisi merupakan wahana komunikasi.

Di samping itu, kita sebagai pembaca dapat mengambil posisi sebagai “aku” ataupun “kau”—atau “kita” sekalian, namun kita mesti bersiap untuk tidak menemukan pengelompokan tema cinta. Tema-tema cinta yang ditanamkan oleh penyair disebar ke segala arah buku ini. Kita tidak disandera olehnya untuk memahami cinta secara kaku; sebaliknya, kita diberi kebebasan untuk memilih mana bunga-bunga cinta yang bermekaran di taman luas—yang telah ditanam dengan penuh penghayatan.

Puisi, sebagaimana karya sastra lain, memang terbuka untuk ditafsirkan, diinterpretasi; dan seberapa kualitas interpretasi bergantung pada seberapa luas pengalaman penafsirnya. Karena itu, terhadap puisi-puisi yang ada, kita mungkin memiliki keluasan dan kedalaman penafsiran yang berbeda. Itu sah-sah saja, sebagaimana kita juga bebas memaknai ayat-ayat alam tak tertulis sepanjang hidup ini. 

Sejauh itu, itulah puisi. Puisi adalah bahasa jiwa. Setiap penyair memiliki keunikan, kekhasan, dan seleranya sendiri dalam licentia poetica. Apapun bentuknya, sebagai bahasa jiwa, puisi-puisi dalam buku ini adalah bukti betapa penyair memiliki literasi cinta yang cukup paripurna. Sementara itu, sebagai pembaca, mari menjadi pembaca baik dan cerdas. Seberapa dalam dan luas dampaknya bagi kita, mari bawa hasil pembacaan kita ini untuk membaca literasi cinta kita sendiri.

Selamat membaca serta memetik inspirasi dan hikmahnya.

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Cecep Gaos berjudul “Literasi Cinta: Kumpulan Puisi” (Bogor, Seraung Dharma Dahana, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789



6 comments:

  1. Terima kasih Pak Emcho atas perkenannya memberikan kata pengantaar untuk karya kecil saya 🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Pak CepGa. Selamat terus berkarya dan sukses.

      Delete
  2. Selamat dan sukses bapak. kata pengantar yang indah dan menggugah penasaran untuk membaca bukunya secara utuh. Salam hormat dari muridmu.

    ReplyDelete
  3. Selamat. Kata pengantar yang indah. Semoga suatu saat mengimbas kepada saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Omank, terima kasih telah berkenan mampir dan memberi komen. Pada saatnya insyaallah saya akan memberi pengantar buku panjenengan.

      Delete

Terima kasih banyak atas apresiasi dan krisannya. Semoga sehat selalu.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts