Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Monday, August 17, 2020

GORESAN CINTA: BERBAGI YANG MENYENANGKAN

Sumber gambar: Dok Pribadi
 Oleh: Much. Khoiri

Adalah Horace, filosof Yunani kuno, yang meyakini bahwa karya sastra diciptakan manusia dengan tujuan ganda, yakni mengajarkan suatu pelajaran moral dan sekaligus menghibur pembaca (audiens). Dia merangkum gagasannya itu ke dalam frase Latin “dulce et utile” yang artinya manis (sweet) dan bermanfaat (useful). Baginya, karya sastra yang baik adalah sastra yang mendidik dan sekaligus menghibur. 

Konsep “dulce et utile” itu telah diadopsi oleh dunia sastra, termasuk Inggris, selama beberapa generasi. Artinya, banyak orang sepakat dengan Horace. Meski para Modernis dan Postmodernis pernah menolak Horace, dengan menegaskan bahwa tujuan karya seni adalah semata mencipta atau menghibur audiens, sebagaimana genesis Teater Absurd yang diasosiasikan ke Harold Pinter dan kawan-kawan, toh konsep Horace masih tetap diakui dan berlaku sampai sekarang.

Ada yang mengidentikkan “dulce” dengan “entertainment” (hiburan), sedangkan “utile” dengan “understanding” (pemahaman). Karya sastra dipandang sebagai karya yang menghibur pembaca atau audiens, dan sekaligus memberikan pemahaman akan hakikat hidup dan kehidupan. Dalam konteks ini, karya sastra tidaklah bebas nilai, karena ia bertugas mendidik (moral) masyarakat, dan bermanfaat bagi masyarakat untuk memahami hidup dan kehidupan, secara menyenangkan.

Pada aras demikianlah himpunan cerpen dalam buku ini mengambil posisi. Entah disadari atau tidak, cerpen-cerpen dalam buku ini sebenarnya dihadirkan untuk berbagi gagasan, pengalaman, imajinasi, moralitas, dan sebagainya dengan cara menyenangkan atau menghibur. Cerpen merupakan sarana untuk berbagi kebenaran dan kebaikan tanpa menggurui. “Menjadi kewajiban kita untuk selalu mensyiarkan nilai-nilai kebaikan melalui karya tulis sebagai pegangan berkehidupan,” demikian bunyi kutipan dalam Prakata buku ini. 

Dalam buku ini pembaca dapat menemukan berbagai hikmah dan pelajaran secara menyenangkan dan tanpa tekanan (dogma, doktrin) tertentu. Pembaca diajak untuk memahami makna cinta yang luas, harapan bagi generasi penerus, serta nilai-nilai luhur yang masih dipegang teguh dalam masyarakat. Bahkan, pembaca diajak untuk melakukan refleksi secara mendalam tentang nasib generasi mendatang.

Pembaca diajak memahami aneka hikmah hidup dalam cerpen-cerpen yang ada: “Impian”, “Kehilangan”, “Pesan Mama”, “Adab Istimewa”, “Belajar Bahasa Arab Semudah Senyum”, “Belajar Sabar dari Arin”, “Dilema saat Liburan”, “Daniar dan Ken”, “Matahari di Atas Surau”, “Mbah Laning Pun Update Status”, “Atap Kasih Ajeng”, “Seragam dari Bapak”, “Supriku Sayang”, “Tanteku Cerewet”, “Bubur Asmara”, “Mengejar Kereta Malam”, “Lorong Sunyi”, “Kekuatan Cinta”, “Jejak Langkah Pengabdian”, dan “Jaran Dawuk.”

Meski demikian, di sini saya tidak secara khusus membahas kualitas cerpen-cerpen dalam buku ini. Sebaliknya, saya lebih suka mengapresiasi para penulis buku. Mereka adalah para guru, tepatnya guru penulis, yang tergabung dalam Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT). Di samping bertugas sebagai pengajar dan pendidik, mereka pun terlibat di dalam pembudayaan literasi di lembaganya. Menyukseskan pembudayaan literasi adalah tugas dan tanggung-jawabnya pula. Dalam konteks ini, para penulis buku ini sedikit guru yang mewujudkan praktik literasi. Mereka berbagi yang menyenangkan.

Dengan kalimat lain, guru penulis “yang langka” ini hendak menunjukkan bahwa keteladanan itu penting dalam pembudayaan literasi. Guru harus lebih dulu membiasakan banyak membaca (dalam arti luas) sebelum menganjurkan orang lain (terutama siswa) untuk membaca. Guru juga harus menulis (buku) sebelum menganjurkan atau mengajak orang lain untuk menulis buku. Dengan keteladanan, mereka berhak untuk diikuti.

Makna keteladanan semacam itu tercermin dari bagaimana harapan yang disampirkan oleh para guru penulis kepada para pembaca.  Dalam pengantar Ikatan Guru Penulis Tuban, samar-samar kita menangkap harapannya agar pembaca terbakar semangatnya, tersulut inspirasinya, dan kemudian mengikuti jejak langkahnya menulis buku yang bakal tak lekang oleh waktu.

Bagaimanapun, pembaca yang dapat mengikuti jejak penulis adalah mereka yang terbakar sumbu semangatnya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang telah ditangkapnya.  Mereka pun sadar bahwa selain mengembangkan ilmu dan pengetahuan, “menulis itu, adalah bekerja untuk keabadian,” kata Pramoedya Ananta Toer. Betapa mulianya kedudukan penulis.

Akhirnya, selamat membaca buku ini dengan segenap hati dan penghayatan. Mudah-mudahan pembaca sekalian mampu memetik hikmah dan inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca mengikuti keteladanan yang ada. Mudah-mudahan pula pembaca sungguh ditakdirkan menjadi penyambung kontinuitas peradaban.[] 

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Sriyatni dkk. berjudul “Goresan Cinta Sang Dwija" (Jakarta, MediaGuru Digital Indonesia, 2020). Terima kasih disampaikan kepada para penulis buku dan penerbit. *Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Friday, August 14, 2020

MENDAMPINGI ANAK DI MASJID

Sumber gambar: Harakah.id
Oleh: Much. Khoiri

Kehadiran anak-anak di masjid menyenangkan, dan sekaligus menggemaskan. Menyenangkan karena itu pertanda mereka cinta masjid, setidaknya ada kemauan pergi ke masjid. Menggemaskan ketika mereka (sebagian dari semua) hanya sibuk ramai sendiri, bahkan sewaktu shalat berjamaah, sehingga tingkah polah mereka mengganggu kekhusyu’an jamaah lain.

Tentu, sebagai jamaah kita tidak hendak menolak kehadiran anak-anak di masjid. Sebab, jika sebuah masjid menolak kedatangan anak-anak, itu pertanda awal bagi “kiamat”-nya masjid itu di masa depan. Begitulah yang diamanahkan dalam hadits-hadits terkait. Mereka justru harus dibuat untuk merasa nyaman dan suka pergi ke masjid.

Satu hal itu beres, dan tak perlu dibahas. Nah, hal lain yang jadi persoalan adalah ramainya sebagian anak-anak di masjid, terutama ketika shalat berjamaah. Dalam amatan, mereka berkelompok-kelompok. Shalat pun mereka berdekatan atau bersebelahan. Tak jarang mereka mengeluarkan suara-suara di luar bacaan shalat. Begitu salam, tanpa mengikuti wiridan, mereka cepat-cepat keluar masjid (kadang dengan melintasi jamaah yang masbuk shalatnya)—itu pun sambil berkata-kata entah apa saja.

Sepengetahuan saya, tak kurang-kurang pengurus masjid untuk menegur atau mengingatkan mereka, agar tidak ramai selama shalat berjamaah. Bahkan, ada pengurus yang mengawasi dan mengatur mereka, terutama sebelum mengikuti shalat berjamaah. Tak jarang pengurus mendelik, mengisyaratkan perintah untuk diam dan tertib. Dan hal ini sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Namun, apa yang terjadi? Mereka kembali melakukan “kesenangan” mereka untuk ramai dan bergurau.

Andaikata mereka masih balita (bawah lima tahun), mungkin tingkah polah mereka masih bisa dimaklumi. Balita belum tahu apa makna shalat dan apa fungsi masjid. Namun, mereka sudah berusia di atas balita! Mereka sudah jadi kanak-kanak seusia sekolah dasar. Mereka berarti sudah di atas tujuh tahun. Sementara, mereka masih bergurau saat menunaikan ibadah shalat berjamaah. Sudah diingatkan pun, mereka juga masih bergurau seperti sebelumnya.

Karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat dan upaya pengurus selama ini, ada baiknya untuk sosialisasi ke orangtua anak-anak tersebut untuk mendampingi mereka sewaktu bershalat jamaah di masjid. Dengan kata lain, orangtua perlu disadarkan bahwa anak-anak mereka harus didampingi. Jangan biarkan mereka ke masjid tanpa pengawalan dan pendampingan.

Praktisnya, setiap anak akan shalat di samping orangtua masing-masing. Dan orangtua perlu mengkondisikan demikian. Jangan lepaskan mereka bersama teman-teman sekelompoknya. Kalau sudah selesai shalat dan berdoa, silakan mereka bermain atau bergaul dengan teman mereka. Sebagai pendamping, orangtua bisa mengawasi dan mengendalikan anak-anak.

Masjid kita ini bukan pondok pesantren di mana pendidikan anak-anak santri diserahkan kepada pengurus pondok. Ini masjid umum di mana pengurus tidak diserahi oleh orangtua untuk mendidik agama bagi anak-anak mereka. Misalnya, untuk menjewer atau memarahi anak-anak itu, pengurus tidak memiliki hak dan wewenang. Posisi pengurus lemah untuk memberikan sanksi. Apalagi jamaah lain, justru berposisi lebih lemah lagi.

Maka, pengelolaan anak-anak di masjid perlu dipikirkan pula oleh orangtua mereka. Orangtua wajib peduli terhadap hal ini. Jangan hanya melepas anak, tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan. Bagaimanapun, pendidikan agama anak, utamanya, adalah tanggungjawab orangtua. Orangtua muslim wajib mendidik anak-anak untuk menunaikan shalat sejak berusia tujuh tahun.

Abu Daud (no. 495) dan Ahmad (6650) telah meriwayatkan dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247).

Dalam hadits tersebut, jelas apa yang seharusnya dilakukan orangtua kepada anak-anak yang suka bergurau di dalam masjid. Selain pendampingan, orangtua bisa saja mendidik anak-anak dengan memberikan sanksi tertentu. Namun, untuk melakukan tindakan, orangtua juga harus sportif. Karena menyuruh anak-anak ke masjid, orangtua juga harus ke masjid dan mendampingi mereka. Ini barulah adil. Ini sekaligus saatnya orangtua memberi keteladanan.

Dengan cara demikian, mudah-mudahan anak-anak bisa berjamaah dengan tertib dan tenang. Situasinya menjadi semakin kondusif. Akibatnya, jamaah lain dapat menunaikan shalat dan ibadah mereka dengan lebih khusyu’. Situasi sedemikian lah yang sangat diharapkan: Kita bisa berjamaah dengan penuh kekhusyu’an.**

Driyorejo, 13 Agustus 2020

#Dosen Unesa, penggerak literasi #Trainer, editor, penulis 42 buku

#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com #Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id

#Website-1: jalindo.net #Website-2:  sahabatpenakita.id

#Facebook:  much.khoiri.90 #Instagram-1: much.khoiri     

#Instagram-2: emcho_bookstore


Monday, August 10, 2020

JANGAN REMEHKAN IDE KEBETULAN

Sumber gambar: Dok. Pribadi
Oleh MUCH. KHOIRI

KHUSUS untuk (calon) penulis dan suka menulis: Jangan lupa bawa alat rekam gagasan setiap hari, siapa tahu ada ide kebetulan alias spontan. Begitu ada ide bagus, rekam dulu agar tidak hangus dan lenyap. Jangan pula remehkan ide kebetulan, sebab ia kerap menjadi ide tulisan yang sangat bagus. 

Demikian ditegaskan oleh Max Ernst: “All good ideas arrive by chance.” Semua ide yang bagus hadir secara kebetulan, tanpa disengaja sama sekali. Dalam konteks ini, ide bisa diidentikkan dengan ilham. Ia hadir bukan karena kesengajaan, melainkan seakan turun dari langit atau menyembur dari perut bumi, lalu diikat maknanya oleh akal manusia yang kreatif. 

Boleh diyakini adanya firman Allah dalam QS Al-Alaq bahwa Allah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Sebagai khalifah, manusia harus berwawasan. Manusia tidak dibiarkan hidup tanpa pelajaran apa pun. Manusia harus belajar dan Allah menyediakan sumber belajar yang melimpah tak terbatas. Hanya manusia mau atau tidak untuk belajar.

Tuhan agaknya menghujankan dan membanjirkan ide untuk manusia per sekian sekon ke seluruh muka bumi. Bermilyar-milyar ide bertebaran, menyapa alam pikiran (akal) manusia. Ada yang  bersenyawa dengan manusia A, ada juga dengan B, C, atau D. Bebas ke mana pun arah yang dituju, mencari pasangan untuk membentuk makna. Itu bergantung kondisi “wadah” (akal) pula.

Ketika “wadah” itu merupakan sawah yang subur, yakni memiliki kekayaan bekal pengetahuan (prior knowledge) maka sebuah ide akan berproses menjadi ide yang matang. Sebaliknya, jika “wadah” itu tandus, tebaran ide hanya akan layu dan kering sebelum tumbuh dan berkembang.

Masuk di akal jika terjadi suatu transendensi (lintas ruang dan waktu) dalam ide. Maksudnya, pada saat sama orang A, B, C, atau D berpikir tentang topik yang sama. Yang berbeda adalah cara berpikirnya dan cara kerja yang menyertainya. Cerpen Obsesi saya, secara kebetulan, memiliki ide dasar mirip dengan sebuah film dan drama yang saya tonton di Amerika sekian tahun lalu. Padahal, saat menulis cerpen itu, saya belum pernah menonton film dan drama tersebut.

Agar bisa memiliki “wadah” yang subur, kita harus banyak memberinya pupuk—dengan banyak membaca apa pun juga, baik tertulis maupun tak tertulis, atas nama Tuhan. Jika wadah kita subur, ide yang berkelebat akan cepat dimatangkan menjadi ide bagus (inspirasi) yang layak ditindaklanjuti. Benih-benih ide mudah tumbuh di sawah yang subur.

Dalam Rahasia Top Menulis (2014) saya telah menekankan bahwa “inspiration is prior knowledge and a trigger” (inspirasi itu hakikatnya adalah bekal pengetahuan sebelumnya dan sebuah pemicu ide). Pemicu itu bisa saja segala sesuatu yang mampir ke kita lewat panca indera (termasuk baca berita, pengalaman, pengamatan, dan sebagainya). Semua itu, amat boleh jadi, hadir secara kebetulan.

Jadi, jangan remehkan hadirnya ide kebetulan. Ia spontan hadir ke dalam alam pikiran (akal) kita tanpa permisi. Mari sambut kehadirannya, lalu kita catat atau rekam pada alat perekam gagasan (buku saku atau android note), syukur-syukur langsung dilanjutkan dengan membuatkan outline ringkas. Dari sana nanti kita akan membuat tulisan. Masalah hasil akhirnya bergantung pada keahlian kita dalam teknik menulis dan inilah yang unik di antara kita: ars poetica.[]

*Dinukil dari buku sendiri “Writing Is Selling” (Pagan Press, 2018), hal. 72-74.

Monday, August 3, 2020

OJO NGGEGE MANGSA


Sumber gambar: Dok. Pribadi
Sumber gambar: Dok. Pribadi
Oleh: Much. Khoiri

MUNGKIN Anda pernah mendengar ungkapan Jawa yang berbunyi “ojo nggege mangsa”. Lebih-kurang artinya, jangan mempercepat waktu hadirnya suatu ketentuan hidup, jangan buru-buru melampaui waktu yang ditakdirkan Tuhan.    

Ungkapan itu bisa dimaknai sebagai jangan melawan ketentuan waktu, di luar kapasitas dan kemampuan. Semua akan indah pada waktunya, dan jangan terlalu ambisius untuk menyegerakan kehadirannya. Manusia wajib berusaha keras, memang, namun usaha manusia hanya sebatas kemampuannya. Selain itu, manusia yang memimpikan suatu keinginan tertentu, ia harus mengukur diri kapan dan bagaimana ia mencapainya. Sebab, manusia diuji dengan anugerah dan cobaan sesuai kemampuannya.

Misalnya, ada seorang karyawan yang bergaji lima juta rupiah sebulan. Seharusnya, jika ingin memiliki rumah, ia akan rajin menabung untuk membayar uang muka—baik dari sebagian gajinya maupun dari pemasukan tak terduga. Setelah beberapa waktu, ia bisa membayar uang muka. Sisa bulan dan tahun angsuran, ia jalani dengan perjuangan. Sebutlah, dalam 10 tahun ke depan, dia barulah melunasi pembayaran rumah itu; semua itu sesuai ukuran kemampuannya. Nah, inilah manusia yang “lumrah”, alamiah, dan tidak nggege mangsa.

Sementara, andaikata ia nggege mangsa, ia sangat ambisius dan akan melakukan apa pun agar memperoleh uang untuk membayar uang muka atau tunai. Ia memaksakan diri untuk melakukan sesuatu di luar ukuran kemampuannya. Ia lebih peduli untuk secepatnya menghuni rumah itu, meski sesungguhnya ia belum mampu membelinya. Memang sebuah keajaiban jika ia mampu mencapainya. Namun, matematika manusia tetap bisa dihitung. Nggege mangsa namanya tatkala ia yang bergaji lima juta rupiah memaksa diri untuk memilki rumah baru yang berharga ratusan juta atau milyaran rupiah dalam waktu singkat.

Bukan berarti bahwa berkembang secara alamiah itu buruk dan tanpa semangat. Namun, itu cerminan sikap tawakal manusia setelah ia melakukan berbagai upaya terkait dengan keinginan yang diharapkan. Sebaliknya, nggege mangsa adalah ambisi sebagai cerminan nafsu. Ada semacam nafsu serakah yang harus terpuaskan dengan segera dan instan, tanpa mengukur kemampuan diri. Mungkin saja upayanya berhasil, namun kegagalannya justru akan lebih masuk akal.

Dalam dunia menulis pun, ungkapan ojo nggege mangsa juga relevan untuk dicamkan sebagai pelajaran diri. Maksudnya, jangan buru-buru dan menyegerakan waktu atau capaian yang seharusnya diikuti serangkaian prosesnya. Perlu dipahami bahwa kenikmatan (belajar) menulis bukan semata hasil menulis berupa tulisan-tulisan yang diinginkan, melainkan juga proses menulis itu sendiri. Menulis, ojo nggege mangsa.

Adakah orang yang suka nggege mangsa dalam (belajar) menulis. Kayaknya ada, namun saya tidak perlu menunjuk hidung. Sebagai ilustrasi saja, dalam pelatihan menulis, ada orang yang begitu menggebu untuk cepat menghasilkan buku karya sendiri, padahal dia belum pernah suka menulis. Ketika ditanya, dia belum tahu bagaimana membuat outline buku, bagaimana membuat prakata, bagian-bagian dalam outline buku, mengorganisasikan gagasan ke dalam paragraf, menyusun bab dan subbab, menggunakan bahasa efektif, dan seterusnya. Singkatnya, ia sedang meksa! Ia-lah suatu contoh orang yang nggege mangsa dalam menulis.

Kasus lain, orang nggege mangsa jika ia ambisius menerbitkan buku mandiri sebelum ia ikut menyusun antologi atau sebelum ia mampu menyusun artikel-artikel yang bagus. Ia juga nggege mangsa jika ia menulis ngebut (speed writing) tatkala tulisannya masih sangat kacau alias belum mahir. Lebih parah, ia nggege mangsa tatkala menerbitkan tulisan di medsos atau website sebelum ia melakukan swasunting. Ia seperti dikejar-kejar bayangan keberhasilan instan. Juga sebuah nggege mangsa jika penulis pemula berharap meraup royalti besar dari buku pertamanya.

Agaknya, sikap nggege mangsa tidak banyak manfaatnya, lebih banyak mendatangkan mudharat (kerugian). Sikap demikian memanjakan ambisi yang penuh nafsu. Dalam sebuah hikmahnya pada buku Al-Hikam, Ibn Athaillah menyebut, bahwa tidak menerima ketentuan Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan adalah kebodohan, yakni kebodohan tidak menerima takdir Tuhan. Maka, mudah-mudahan kita tidak suka nggege mangsa, dan bersedia mengikuti proses dengan upaya keras dan tawakal.

Tentu saja, konteks nggege mangsa sangat luas dan beragam. Karena itu, insyaallah saya akan membahas beberapa poin tersebut dalam tulisan mendatang. Meski demikian, karena seiring berjalannya waktu, poin-poin itu bisa saja berkembang, dan dengan demikian, tulisan-tulisannya mungkin juga akan berkembang. Jika Anda penasaran, Anda boleh menunggunya.[]


*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.


Friday, July 31, 2020

AL-HIJRAH BERQURBAN 6 SAPI 8 KAMBING

Sumber gambar: Dok. pribadi
Oleh: Much. Khoiri

MASJID AL-Hijrah, salah satu masjid di perumahan Kotabaru Driyorejo Gresik, telah sibuk beberapa hari menjelang shalat idul adha 1441 H. Panitia merapatkan barisan, termasuk memasang tenda, penyiapan alat-alat, briefing hal-hal teknis, dan sebagainya. Puncaknya, warga menunaikan shalat idul adha dan menyembelih hewan qurban.

Hari ini panitia menyembelih 6 ekor sapi dan 8 ekor kambing. “Ini meningkat disbanding tahun lalu,” kata  ketua ta’mir Ust. Samin. Untuk qurban kambing, rata-rata atas nama pribadi untuk setiap ekor. Sementara, untuk sapi, 5 dari 6 sapi tersebut diadakan dengan sistem urunan. Satu ekor sapi diangkat oleh 6-7 orang. “Dengan sistem urunan atau menabung, mudah-mudahan tahun depan meningkat lagi jumlahnya. Kita siapkan kartu iurannya seperti SPP anak sekolah,” pungkasnya.

Penyembelihan hewan qurban dikoordinasi ketua Ta’mir dan ketua pelaksana Abah Prihantono (ketua RT-03), didukung jamaah masjid yang berasal dari RW XV yang bekerja bergotong-royong. Mereka saling membantu. Ada yang meyembelih, ada yang menguliti, ada yang memotong daging, ada yang menimbang dan mewadahi daging qurban, dan ada pula yang mendistribusikan.

Seperti tahun 2019 silam, halaman masjid dipenuhi dengan panitia yang melaksanakan tugasnya---namun, mereka tetap mematuhi protokol kesehatan; bahkan mereka ingin secepatnya selesai. Kali ini panitia memanfaatkan mesin pemotong daging/tulang, sehingga mereka bekerja lebih cepat. “Kami berharap, sebelum shalat Jumat semua tugas sudah beres. Minimal, sebagian besar distribusi beres sebelum jumatan,” ungkap Abah Prihantono saat briefing panitia.

Begitulah, antisipasi ketua pelaksana itu tepat. Menjelang shalat Jumat, distribusi daging qurban telah selesai untuk seluruh warga dari empat RT, tinggal satu RT lagi. “Masih tersisa warga RT 5 yang belum kita kirimi daging. Insyaallah selepas Jumatan kita lnjutkan lagi,” kata Abah Prihantono.

Benar, selepas shalat Jumat, distribusi daging qurban dilanjutkan. Adik-adik karang taruna dan remaja masjid tampak masih trengginas menunaikan tugas masing-masing. Sementara, panitia yang lain membongkar tenda yang menaungi seluruh halaman masjid. Menjelang shalat ashar, semua beres: Halaman masjid bersih kembali, dan panitia berjamaah shalat ashar.

Sabar dan Tawakal

Pada sisi lain, khotbah shalat idul adha 1441 H kali ini menegaskan pentingnya kesabaran dan tawakal. Khotib mengingatkan bagaimana para jamaah haji harus menghayati sabar setiap waktu. Baik beribadah yang terkait langsung dengan Allah (secara vertikal) maupun ibadahan yang terkait dengan sesama jamaah (secara horizontal), seorang jamaah harus senantiasa sabar. Jika tidak, keikhlasan akan sirna, dan jika keikhlasan sirna, mana mungkin bersandar hanya kepada Allah?

Dengan berpijak pada peristiwa ibadah haji tersebut, jamaah diajak untuk senantiasa bersabar dalam hidup ini. Sabar untuk beribadah kepada Allah, baik ibadah mahdhoh maupun ibadah ghairu mahdhoh. Sebab, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Alangkah indah dan nikmatnya jika kita sebagai muslim dan mukmin selama dibersamai oleh Allah Subhanahu wata’alaa.

Selain itu, tawakal juga teramat penting. Manusia wajib berikhtiar dalam melaksanakan tugas-tugas hidup ini, terlebih ketika ada masalah-maslah hidup yang dihadapi, termasuk di masa pandemi. Maka, wajiblah kita untuk melakukan ikhtiar sebaik-baiknya dalam menghadapi masalah. Setelah itu, hasilnya biarkan Allah yang memutuskan. Tugas kita adalah ikhtiar dan tawakal kepada-Nya.

Dengan tawakal kepada-Nya, kita insyaa Allah belajar menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Cukuplah Allah saja sebagai tempat bersandar dan berpasrah diri. Selagi kita bersandar kepada-Nya, apa pun masalah yang kita hadapi akan menemukan solusinya. Inna ma’al ‘usrii yusraa (Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.)[]

Driyorejo, 31 Juli 2020  


Monday, July 27, 2020

PEREMPUAN MELAWAN DENGAN TULISAN

Oleh MUCH. KHOIRI

"The Colonel’s Lady" adalah sebuah cerita pendek karya William Somerset Maugham, cerpenis, novelis dan dramawan Inggris yang lahir pada 1876 dan wafat di Prancis pada 1965. Cerpen Maugham ini sempat kami review dan bahasa bersama di kelas kuliah Literary Appreciation: Prose. Cerpen ini telah menggugah setiap mahasiswa di dalam kelas.

Cerpen ini berkisah tentang Kolonel George Peregrine dan reaksinya terhadap buku puisi yang sukses berjudul When Pyramids Decay (Saat Piramid Membusuk) oleh E.K. Hamilton. Kebetulan, sang penyair adalah istrinya, Eva, yang mempublikasikan buku itu dengan nama semasa gadisnya (maiden name).

Terhadap buku itu, semula sang kolonel tidak berpikir apa pun tentang puisi-puisi istrinya, dan menganggap karya itu dengan sikap acuh tak acuh. Namun, saat buku itu meledak sukses di toko-toko buku dan bagus di mata para kritikus sastra, ia barulah menaruh perhatian besar terhadap karya tulis itu. 

Buku itu begitu cepat masyhur karena penyair itu mengilustrasikan kisah hubungan rahasianya yang telah lama hilang dengan seorang lelaki yang lebih muda. Ditambah lagi, publik pembaca kemudian tahu bahwa sang penyair itu ternyata adalah istri sang kolonel. Ada pintu terbuka bagi membludaknya rasa penasaran pembaca.

Tak ayal, sang kolonel menjadi cemburu karenanya, meski ia telah lama mencintai istrinya, ya sang penyair, saat ia melamarnya untuk menikah, setidaknya cukup cinta bagi laki-laki yang ingin menikah dan hidup tenang, namun ia mendapati bahwa sebenarnya “they had nothing much in common” (tidak memiliki banyak kesamaan). Mereka dua insan yang berbeda.

Ironisnya, meski sang kolonel sendiri mencurangi istrinya dengan menyelingkuhi Daphne, seorang gadis yang dengannya ia biasa menghabiskan jam-jam yang menyenangkan setiap kali pergi ke luar kota—toh kolonel merasa terluka pula oleh pengkhianatan yang diakui istrinya (yang terpantul lewat puisi-puisi dalam buku tersebut).

Melawan dengan Tulisan

Sebenarnya, ada sejumlah pendekatan untuk memahami cerpen ini, terutama dalam konteks hubungan antara kolonel dan istrinya. Namun, salah satu hal yang mencolok, adalah bagaimana di sini perempuan melawan dengan tulisan. Dalam konteks ini, perempuan melawan dengan puisi.

Amat boleh jadi Eva, sebagai istri, kurang mendapat perhatian dari suaminya yang berkedudukan sebagai kolonel. Eva yang merindukan keromantisan bertemu dengan orang yang disimbolkan dengan kolonel—gelar militer dengan pangkat tinggi, serta ada selisih usia yang tajam. Ada suatu kekontrasan di antara mereka. Itulah yang menegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki banyak kesamaan.

Terlebih, Eva lama-kelamaan juga mengetahui bahwa suaminya, selagi berpergian ke luar kota, selalu ditemani oleh Daphne. (Sang kolonel biasa menghabiskan jam-jam yang menyenangkan bersama Daphne setiap kali pergi ke luar kota.) Mengapa tidak mengajak Eva sendiri sebagai istrinya? Ini sungguh menyakitkan: Tidak mengorangkan Eva adalah sebuah kecurangan yang tidak main-main.

Sementara itu, tanpa kehadiran anak, telah membuat Eva hampa dan kesepian, meski dari segi materi, boleh dibilang keluarga ini sudah amat berkecukupan. Namun, tanpa basis kasih sayang dan kesaling-pengertian yang mendalam, keluarga itu sebenarnya rapuh dan keropos. Ibaratnya, ia digerogoti dari dalam sendiri. Rumah tak berpondasi kuat, akan roboh, bukan?

Kerapuhan rumah tangga mereka itu ditulis Eva dalam sebuah buku puisi yang berjudul When Pyramids Decay (Saat Piramid Membusuk). Judul ini simbolisasi yang tajam tentang kondisi hubungan antara sang penyair dan suaminya. Dengan nama gadisnya, Eva K. Hamilton, sang penyair bahkan mendeskripsikan hubungan rahasianya dengan laki-laki lain.

Amat boleh jadi Eva telah ingin menyampaikan isi hatinya dengan langsung. Namun, karena kesibukan sang kolonel bertugas ke luar kota—yang ditemani Daphne--, Eva tidak bisa bebas berkeluh kesah, bermanja-manja, atau sekadar mendapat perhatian sang suami. Seakan ada dinding menjulang tanpa lubang untuk saling mengintip dan menyapa.

Maka, Eva melawan dengan tulisan. Itulah perlawanan diam yang memiliki daya hantam yang keras. Ia tidak harus disampaikan lewat suara gaduh di depan khalayak, melainkan lewat medium literasi yang berkembang dan dikembangkan sebanyak pembaca aktif buku tersebut. Melawan dengan tulisan menebarkan kekuatan tak terbatas.

Ternyata, perlawanan itu mengenai sasaran, dan membawa hasil. Buku puisi itu menjadi pukulan telak bagi sang kolonel. Kritikus sastra dan publik pembaca menjadi tahu kisah apa di balik buku tersebut. Ini bisa menjatuhkan martabat dan nama baik sang kolonel. Reputasinya bisa jeblok karenanya.

Setidaknya, yang lebih mendasar, sang kolonel merasa terluka juga atas pengakuan perselingkuhan rahasia istrinya dengan lelaki lebih muda—meski itu sudah lama hilang. Ya, semua rahasia itu telah hilang ditelan masa, kecuali mengabadi dalam tulisan. Dan kisah itu masih tetap hidup dan berkembang aktif di alam pikiran pembacanya.

Dalam dunia nyata, kita mengenal tokoh R.A Kartini, yang dikenal sebagai pahlawan emansipasi Indonesia. Tentang tokoh ini, kita dapat membuka sejarah, dan mendapati bahwa di masanya beliau telah mencoba melawan budaya patriarkhi dan ketertindasan dengan menggunakan tulisan-tulisan yang terhimpun dalam buku ­Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dewasa ini di negeri ini juga telah tumbuh perempuan-perempuan penulis (termasuk para guru-penulis) yang lewat karya-karya mereka, mereka melakukan perlawanan, baik individual maupun sosial. Ketertindasan, ketidakadilan, dan berbagai ketimpangan sosial dilawan oleh mereka lewat karya-karya yang tersebar di berbagai media--baik buku, majalah, surat kabar, tabloid, website, blog, serta media sosial. Itulah yang membuat mereka istimewa.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.



Friday, July 24, 2020

BACA BUKU, DOAKAN PENULISNYA

Sumber gambar: Dokumen Pribadi

Oleh: MUCH. KHOIRI

SETIAP hari Anda membaca buku, bukan? Membaca buku (atau kitab dalam bahasa Arab) adalah sebagian dari membaca (iqra’) dalam arti luas, yang wajib ditunaikan, sehingga ia menjadi kegiatan Anda sehari-sehari, bukan? Namun, ada pertanyaan kecil, apakah Anda mendoakan penulis buku yang Anda baca?

Jika Anda belum melakukan hal itu, maka mulai lakukanlah sekarang. Yakni, mendoakan penulis dari buku yang sedang  Anda baca. Apa pun buku yang Anda baca, dengan tema dan genre apa pun juga. Bayangkan Anda membaca kitab dari seorang syeikh yang Anda kagumi.

Meski demikian, doa yang dimaksud merupakan tambahan dari doa utama yang biasa Anda panjatkan seperti ini: Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu dan berikanlah aku rizqi akan kepahaman, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang shaleh.” Doa ini Anda panjatkan secara istikomah, bukan?

Atau, mungkin Anda sudah lebih terbiasa membaca doa berikut ini: “Ya Allah, bukakanlah ke atas kami pintu ilmu dan kebijaksanaanMu, dan limpahkanlah ke atas kami rahmatMu, wahai Yang Memiliki Kebijaksanaan dan Kemuliaan.” Doa ini adalah doa yang dihapalkan bersama di madrasah-madrasah atau pondok pesantren, jadi Anda pastilah sudah lebih terbiasa.

Namun, yang dimaksud di sini bukanlah doa-doa tersebut, melainkan doa tambahan, wabil khusus bagi penulis buku. Misalnya, Anda berdoa agar penulis buku dianugerahi kesehatan, kebaikan, dan keberkahan sehingga tetap mampu menghasilkan buku-buku baru. Lebih khusus, Anda berdoa agar penulis buku memperoleh pahala jariyah ilmu yang telah dituangkan ke dalam buku tersebut.

Dengan mendoakan penulis buku, Anda seakan sedang menghubungi dan menghadirkan diri secara spiritual di depan penulis, dan bertawadlu’ serta memohon restu kepada beliau untuk mempelajari ilmu yang telah tertuang ke dalam buku itu. Bahkan, seakan Anda sedang “mengaji” di depan beliau, sehingga ada suasana yang mengandung relasi emosional antara Anda dan penulis buku.

Bagaimanapun, itulah etika murid yang berguru kepada guru, termasuk penulis buku yang sedang And abaca. Saat membaca, Anda adalah murid yang sedang menuntut ilmu, sementara guru bisa siapa saja (tanpa mengenal usia), sehingga penulis buku yang ada di rak-rak Anda adalah guru-guru yang pantas dihormati dan didoakan. Beliau-beliau adalah sumber ilmu yang wajib didoakan demi nilai kejariyahan ilmunya.

Mendoakan itu, secara implisit, sejatinya memohon restu dari guru (penulis) atas ilmu yang ingin dikuasai. Kalau sudah direstui, artinya diridhai, insyaa Allah ada kelapangan dan kemudahan bagi ilmu untuk “merasuk” ke dalam pikiran dan kalbu Anda. Bagaimanapun, tawadlu kepada guru itu salah satu syarat penting dalam menuntut ilmu.

Nah, jika Anda belum melakukan hal sederhana tersebut, tancapkan niat kuat di dalam hati. Mulai hari ini Anda doakan penulis-penulis dari buku yang Anda dalam rangka memakmurkan kejariyahan ilmu mereka. Dan yakinlah, sebagaimana gema suara di antara dua tebing tatkala Anda berteriak, para pembaca buku Anda juga akan melakukan hal yang sama dengan perbuatan Anda, yakni mendoakan Anda tatkala membaca buku-buku Anda.[]

­Driyorejo, 24 Juli 2020

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen, editor, penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts