Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Wednesday, September 30, 2020

TURNING POINT: BUKU SEBAGAI PRASASTI KEBERANIAN (Sebuah Kata Pengantar)

Sumber gambar: Dokumen penulis
Oleh Much. Khoiri

Untuk menulis secara ajeg (rutin, istikomah), orang perlu keberanian menaklukkan berbagai hambatan internal dan eksternal yang menghantuinya. Bahkan tak jarang serentetan godaan menghadang tatkala menulis berproses. Maka, menulis ajeg adalah bukti kemenangan yang mungkin perlu dirayakan. 

Terlebih, jika menulis buku, itu benar-benar melampaui kemenangan orang tersebut, melampaui kemenangannya dalam menaklukkan hambatan internal dan eksternal dalam menulis. Menulis buku itu satu tingkat lebih tinggi dari pada menulis tulisan non-buku secara ajeg. Bahkan, menulis buku menjadi bukti sah bagi statusnya sebagai penulis. Buku menjadi semacam kartu nama bagi penulis.

Demikianlah kira-kira gambaran singkat tentang penulis buku ini, Agung Sucipto. Sesuai Prakata yang disampaikan, dia bersyukur atas hadirnya keberaniaan untuk menerbitkan buku pertamanya ini: Turning Point. Baginya, butuh waktu tiga tahun untuk menunggu kesempatan (baca: momentum) penting itu: Berani menulis buku sendiri, apa pun bentuknya. Itu sesuatu yang telah dia impikan sejak bertahun silam.

Maka, keberanian menyusun buku itu dia tindaklanjuti dengan mengumpulkan tulisan-tulisan ringkasnya yang dia pasang di dinding Facebook pada setiap hari Jumat selama dua tahun terakhir. Tulisan-tulisan ringkas itu, dia yakini, layak untuk dibukukan—dan itulah pula sebabnya timbul keberanian untuk membukukannya. Mengapa? Dia yakin bahwa setiap tulisan menemukan pembacanya.

Pada sisi lain, dia telah menaklukkan kekhawatiran (anxiety) yang menghantaui kebanyakan orang yang seprofesi dengan penulis buku ini. Banyak guru yang khawatir atau bahkan takut untuk menulis dan menerbitkan buku, sebab mereka khawatir bahwa mereka tidak mampu menulis, dan bahwa tulisan mereka tidak layak dibaca publik. Itulah yang membelenggu kebanyakan guru dalam hal berkarya.

Penulis buku ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Surabaya. Profesinya sebagai guru pastilah membuatnya sangat sibuk dalam menunaikan tugas-tugasnya. Jika ada guru yang menyiasati aneka kesibukan, dan mau keluar dari zona nyaman serta mengobarkan keberanian untuk menyusun buku, itulah penulis buku ini. Dengan kata lain, buku ini menjadi prasasti keberanian penulisnya.

Dalam pengantar pendek ini saya tidak akan membahas tulisan-tulisan yang ada. Namun, saya lebih tertarik untuk membincang keteladanan penulis buku ini. Dalam dunia literasi keteladanan sangat penting maknanya. Dengan keteladanan, diseminasi literasi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat akan menemukan kemudahannya. Dan penulis buku ini telah menunjukkan keteladanan—yakni menyusun buku dari tulisan-tulisan Jumatnya selama ini, sesuatu yang mungkin menginspirasi para pembaca.

Dengan demikian, penulis buku ini termasuk salah satu manusia langka di antara guru-guru sejawatnya, sebab kebanyakan guru belum menulis buku. Bahkan, di antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Surabaya, guru penulis belumlah banyak jumlahnya. Penulis buku ini menambah daftar nama guru penulis yang langka tersebut.

Tentu saja, secara pribadi, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penulis buku ini atas keberanian untuk menerbitkan bukunya. Saya teringat pertama kali saya menerbitkan buku pertama kali pada tahun 2011, meski sesungguhnya saya telah menekuni menulis sejak 1986/1987. Sungguh, keberanian itu mahal harganya! Namun, ketika keberanian menemukan hasilnya, hadirlah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan.

Saya berharap, penulis buku ini terus merawat keberaniannya dalam menyusun buku, sehingga ke depan akan lahir buku-buku lain dari kreativitas dan sentuhan tangannya. Pada sisi lain, saya berharap keteladanan yang dia berikan menginspirasi para pembaca untuk membangkitkan keberanian mereka sendiri melakukan hal yang sama.

Akhirnya, untuk pembaca budiman, selamat membaca buku ini, dan selamat menemukan hikmah serta inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca budiman, selepas membaca buku ini, segera membangkitkan keberanian untuk segera menulis buku sendiri. Hanya dengan begitu, buku ini menemukan signifikansinya.[]

Driyorejo, 26/9/2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 42 buku dari Universitas Negeri Surabaya. Kata pengantar ini pendapat pribadi.

ASAH ILMU DENGAN AMAL

Sumber gambar: Dokumen pribadi

Oleh Much. Khoiri 

Sebagaimana pisau perlu diasah untuk menjadikannya tajam, ilmu perlu diasah agar menjadi “tajam” dan “manjing” (merasuk) ke dalam si empunya ilmu. Mengasahnya dengan apa? Tidak lain dan tidak bukan: dengan amal (laku, perbuatan).

Setajam apa pun sebuah pisau (yang telah dibeli dari penjualnya), ia tidak awet ketajamannya jika jarang atau tidak pernah diasah. Demikian pun, sehebat apa pun ilmu yang diperoleh seorang santri atau murid dari sang guru, ia akan kehilangan kehebatannya jika tidak diamalkan. Bahkan, sepanjang tidak diamalkan, ilmu hanya ibarat gelas tanpa isi, atau ibarat benih yang tidak pernah ditanam. Ilmu itu tidak merasuk ke dalam pemiliknya.

Orang punya ilmu tentang pentingnya sedekah, misalnya, bahwa sedekah adalah amal mulia yang selain berdimensi ukhrawiyah (karena menunaikan perintah Tuhan), juga berdimensi sosial (karena membantu orang lain). Ilmu orang itu tentang sedekah tidak pernah ada gunanya sepanjang dia tidak melakukan amal atau laku bersedekah kepada sesame. Ilmu sedekahnya kosong, tanpa membuahkan hasil, karena memang tidak ditanam dan dirawat.

Orang tahu bahwa shalat itu wajib bagi setiap muslim. Orang itu akan memetik buah manfaatnya dari shalat tersebut jika dia menunaikan shalat dengan khusyu dan istiqamah. Sebaliknya, meski dia “alim” dalam syariah shalat, jika tidak mengamalkannya, tiada hikmah manfaat yang bakal diperolehnya.

Dalam dunia persilatan, seorang murid tidak akan mencapai sabuk tertentu karena dia tidak mau mempraktikkan ilmu dan jurus-jurus yang telah diajarkan oleh gurunya. Jurus-jurus yang diberikan sang guru berhenti sebatas pengetahuan, ilmu, syariah. Karena itu, agar jurus tersebut manjing pada dirinya, dia harus berlatih setiap waktu dan tanpa kenal lelah.

Tiga ilustrasi di atas hanya untuk menggambarkan betapa ilmu menulis juga harus diasah dengan “amal” menulis. Ilmu (teori) menulis penting, namun pengamalannya jauh lebih penting. Dalam kalimat lain, teori penting, latihan wajib dilakukan. Tanpa latihan, teori menulis ibarat gelas yang kosong atau ibarat benih yang tidak pernah ditanam atau ibarat pisau yang tak pernah diasah.

Maka, mari asah ilmu menulis dengan amal menulis. Karena ilmu menulis itu sendiri luas—mulai tataran ide/gagasan, pengorganisasian ide/gagasan, hingga penggunaan bahasa--, maka seluas itu pula kita perlu mempraktikkannya dengan sebaik-baiknya. Semakin luas amal menulis yang kita jalani, semakin dalam “manjing”-nya (merasuknya) ilmu dan ketrampilan menulis dalam diri kita.

Oleh sebab itu, banyak motivator kepenulisan menyarankan penulis (pemula) untuk menulis setiap hari. Untuk apa? Ya membiasakan diri untuk mengamalkan ilmu menulis. Mungkin penulis (pemula) diminta untuk menulis dengan gaya bebas (free writing), agar menemukan kenyamaman sebagaimana dia berbicara kepada sesamnya. Seiring berjalannya waktu, amat mungkin pula, gaya bebas itu memang menjadi ars poetica penulis itu—menjadi “hak paten” gaya kepenulisan yang telah menyatu dengannya.

Dalam mengamalkan teori (ilmu) menulis, secara individual, orang akan menemukan ilmu-ilmu baru yang khas melekati si pengamal ilmu menulis. Dia akan belajar lagi bagaimana menentukan ide paling unik yang layak ditulis untuk koran, misalnya, termasuk bagaimana mengemasnya dan bagaimana bahasa ciamik (keren) digunakannya.

Dengan kata lain, pengalaman unik yang diperoleh seseorang selama mengamalkan teori (ilmu) menulis akan berkembang dan dikembangkan di dalam dirinya. Pada gilirannya, dia akan mampu mensitesiskan teori (ilmu) menulis baru yang siap dibagikan kepada orang lain. Inilah bukti manjingnya ilmu menyebabkan seseorang memanen buah ilmunya—yang bisa disuguhkan untuk pemburu ilmu setelahnya.

Maka, tak perlu ragu, mari kembali ke hakikat kepenulisan yang sesungguhnya: Mengasah ilmu dengan mengamalkannya. Memburu ilmu menulis sangat penting agar tahu apa yang harus dilakukan, namun mengamalkannya lewat serangkaian latihan adalah wajib adanya. Itu.!

 Driyorejo, 25/9/2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

Saturday, September 12, 2020

SAHABAT LITERASI

Sumber gambar: Dok pribadi

Oleh Much. Khoiri

Kedudukan makna ‘orang lain’, ‘kenalan’, ‘teman’, dan ‘sahabat’ berbeda. Makna ‘sahabat’ memiliki kedudukan makna tertinggi dan termulia dibandingkan dengan ‘teman’, ‘kenalan’, apalagi ‘orang lain’ yang bukan kenalan dan bukan teman. ‘Sahabat literasi’, dalam hal ini, dimaksudkan untuk menyebut mereka yang berkedudukan makna mulia di dalam bidang literasi.

Dalam kedudukan semacam itu, sahabat literasi—diharapkan—menjadi mitra yang paling dekat dan seia-sekata dalam perjuangan menghidupkan pembudayaan literasi di negeri ini, entah pada ranah sekolah (Gerakan Literasi Sekolah, GLS), ranah masyarakat (Gerakan Literasi Masyarakat, GLM), maupun ranah keluarga (Gerakan Literasi Keluarga, GLK). Jika kini masih bergelut dalam GLS, ia siap melanjutkan perjuangan dalam GLM dan GLK—sehingga pada gilirannya ia pun beriur dalam ikut mensukseskan gerakan literasi nasional (GLN).

Pertanyaannya, dalam pembudayaan literasi, Sahabat termasuk ketegori manakah: sahabat literasi, teman literasi, kenalan literasi, atau orang lain (dalam) literasi? Saya sendiri, tentu, berharap Sahabat menjadi sahabat literasi bagi saya—setidaknya teman literasi atau kenalan literasi yang masih memiliki rasa sayang dan kepedulian bagi gerakan pembudayaan literasi. Jangan sampai menjadi orang lain (dalam) literasi, yang cuek dan acuh tak acuh—apalagi memusuhi pembudayaan mereka yang bergerak memajukan literasi.

Tentu saja, sebagai sahabat literasi, Sahabat mau belajar menjadi menguasai konsep dan strategi gerakannya. Sahabat tahu literasi dasar baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Pahami dan kuasai dengan baik panduan gerakan literasi, baik ranah sekolah, ranah masyarakat, maupun ranah keluarga.

Dengan memahaminya dengan baik, ada kesiapan mental jika mendapati kendala-kendala tertentu selama perjuangan. Ini perjuangan, tak mungkin tidak ada kendala dan ujian—identik dengan hidup, tak mungkin tiada konflik sepanjang hidup manusia. Namun, bagi si besar hati, yang penting bukan masalahnya, melainkan fokus menemukan solusi bagi masalah tersebut. Sahabat literasi perlu menyikapinya semacam itu.

Ilustrasi di atas sengaja saya paparkan di sini guna memberikan tantangan bagi sahabat-sahabat guru yang saya ajak Ngopi (ngobrol pintar) di SMP Negeri 55 Surabaya pada 5 September 2020 kemarin. Seharusnya ada sebelas orang, namun karena alasan tertentu, ada dua orang yang tidak hadir. Jadilah sembilan orang yang hadir, plus tuan rumah, jadi totalnya sepuluh. Karena mereka representasi dari sekolah masing-masing—yang di belakang mereka ada puluhan guru—maka sejatinya saya sedang berhadapan (imajiner) dengan ratusan guru sekaligus.

Untuk semua guru yang hadir serta mereka yang berada di belakang mereka, saya tentu berharap bahwa mereka menjadi sahabat-sahabat literasi bagi saya. Meski demikian, saya tak hendak menutup kemungkinan, kadar intensitas pelibatan mereka dalam literasi boleh jadi berbeda antara satu dan lainnya. Tentu, saya tidak punya hak untuk menghakiminya. Biarlah waktu yang membuktikan apakah mereka benar-benar sahabat literasi sejati, ataukah teman literasi, kenalan literasi, dan seterusnya.

Ini yang saya pegang: Integritas sebagai sahabat literasi akan nampak bleger (wujudnya) tatkala teruji masa kritis. Ketika kesibukan menumpuk pada hari ini, misalnya, apakah para Sahabat masih meluangkan waktu (make time) untuk membaca atau menulis? Jika masih, para Sahabat berhak lulus sebagai sahabat literasi. Namun, jika tidak, integritas Sahabat boleh diragukan, bukan? Cukup jawab pertanyaan ini di dalam hati.[]

Driyorejo, 11/9/2020

 *Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

    

 


Monday, August 17, 2020

GORESAN CINTA: BERBAGI YANG MENYENANGKAN

Sumber gambar: Dok Pribadi
 Oleh: Much. Khoiri

Adalah Horace, filosof Yunani kuno, yang meyakini bahwa karya sastra diciptakan manusia dengan tujuan ganda, yakni mengajarkan suatu pelajaran moral dan sekaligus menghibur pembaca (audiens). Dia merangkum gagasannya itu ke dalam frase Latin “dulce et utile” yang artinya manis (sweet) dan bermanfaat (useful). Baginya, karya sastra yang baik adalah sastra yang mendidik dan sekaligus menghibur. 

Konsep “dulce et utile” itu telah diadopsi oleh dunia sastra, termasuk Inggris, selama beberapa generasi. Artinya, banyak orang sepakat dengan Horace. Meski para Modernis dan Postmodernis pernah menolak Horace, dengan menegaskan bahwa tujuan karya seni adalah semata mencipta atau menghibur audiens, sebagaimana genesis Teater Absurd yang diasosiasikan ke Harold Pinter dan kawan-kawan, toh konsep Horace masih tetap diakui dan berlaku sampai sekarang.

Ada yang mengidentikkan “dulce” dengan “entertainment” (hiburan), sedangkan “utile” dengan “understanding” (pemahaman). Karya sastra dipandang sebagai karya yang menghibur pembaca atau audiens, dan sekaligus memberikan pemahaman akan hakikat hidup dan kehidupan. Dalam konteks ini, karya sastra tidaklah bebas nilai, karena ia bertugas mendidik (moral) masyarakat, dan bermanfaat bagi masyarakat untuk memahami hidup dan kehidupan, secara menyenangkan.

Pada aras demikianlah himpunan cerpen dalam buku ini mengambil posisi. Entah disadari atau tidak, cerpen-cerpen dalam buku ini sebenarnya dihadirkan untuk berbagi gagasan, pengalaman, imajinasi, moralitas, dan sebagainya dengan cara menyenangkan atau menghibur. Cerpen merupakan sarana untuk berbagi kebenaran dan kebaikan tanpa menggurui. “Menjadi kewajiban kita untuk selalu mensyiarkan nilai-nilai kebaikan melalui karya tulis sebagai pegangan berkehidupan,” demikian bunyi kutipan dalam Prakata buku ini. 

Dalam buku ini pembaca dapat menemukan berbagai hikmah dan pelajaran secara menyenangkan dan tanpa tekanan (dogma, doktrin) tertentu. Pembaca diajak untuk memahami makna cinta yang luas, harapan bagi generasi penerus, serta nilai-nilai luhur yang masih dipegang teguh dalam masyarakat. Bahkan, pembaca diajak untuk melakukan refleksi secara mendalam tentang nasib generasi mendatang.

Pembaca diajak memahami aneka hikmah hidup dalam cerpen-cerpen yang ada: “Impian”, “Kehilangan”, “Pesan Mama”, “Adab Istimewa”, “Belajar Bahasa Arab Semudah Senyum”, “Belajar Sabar dari Arin”, “Dilema saat Liburan”, “Daniar dan Ken”, “Matahari di Atas Surau”, “Mbah Laning Pun Update Status”, “Atap Kasih Ajeng”, “Seragam dari Bapak”, “Supriku Sayang”, “Tanteku Cerewet”, “Bubur Asmara”, “Mengejar Kereta Malam”, “Lorong Sunyi”, “Kekuatan Cinta”, “Jejak Langkah Pengabdian”, dan “Jaran Dawuk.”

Meski demikian, di sini saya tidak secara khusus membahas kualitas cerpen-cerpen dalam buku ini. Sebaliknya, saya lebih suka mengapresiasi para penulis buku. Mereka adalah para guru, tepatnya guru penulis, yang tergabung dalam Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT). Di samping bertugas sebagai pengajar dan pendidik, mereka pun terlibat di dalam pembudayaan literasi di lembaganya. Menyukseskan pembudayaan literasi adalah tugas dan tanggung-jawabnya pula. Dalam konteks ini, para penulis buku ini sedikit guru yang mewujudkan praktik literasi. Mereka berbagi yang menyenangkan.

Dengan kalimat lain, guru penulis “yang langka” ini hendak menunjukkan bahwa keteladanan itu penting dalam pembudayaan literasi. Guru harus lebih dulu membiasakan banyak membaca (dalam arti luas) sebelum menganjurkan orang lain (terutama siswa) untuk membaca. Guru juga harus menulis (buku) sebelum menganjurkan atau mengajak orang lain untuk menulis buku. Dengan keteladanan, mereka berhak untuk diikuti.

Makna keteladanan semacam itu tercermin dari bagaimana harapan yang disampirkan oleh para guru penulis kepada para pembaca.  Dalam pengantar Ikatan Guru Penulis Tuban, samar-samar kita menangkap harapannya agar pembaca terbakar semangatnya, tersulut inspirasinya, dan kemudian mengikuti jejak langkahnya menulis buku yang bakal tak lekang oleh waktu.

Bagaimanapun, pembaca yang dapat mengikuti jejak penulis adalah mereka yang terbakar sumbu semangatnya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang telah ditangkapnya.  Mereka pun sadar bahwa selain mengembangkan ilmu dan pengetahuan, “menulis itu, adalah bekerja untuk keabadian,” kata Pramoedya Ananta Toer. Betapa mulianya kedudukan penulis.

Akhirnya, selamat membaca buku ini dengan segenap hati dan penghayatan. Mudah-mudahan pembaca sekalian mampu memetik hikmah dan inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca mengikuti keteladanan yang ada. Mudah-mudahan pula pembaca sungguh ditakdirkan menjadi penyambung kontinuitas peradaban.[] 

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Sriyatni dkk. berjudul “Goresan Cinta Sang Dwija" (Jakarta, MediaGuru Digital Indonesia, 2020). Terima kasih disampaikan kepada para penulis buku dan penerbit. *Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Friday, August 14, 2020

MENDAMPINGI ANAK DI MASJID

Sumber gambar: Harakah.id
Oleh: Much. Khoiri

Kehadiran anak-anak di masjid menyenangkan, dan sekaligus menggemaskan. Menyenangkan karena itu pertanda mereka cinta masjid, setidaknya ada kemauan pergi ke masjid. Menggemaskan ketika mereka (sebagian dari semua) hanya sibuk ramai sendiri, bahkan sewaktu shalat berjamaah, sehingga tingkah polah mereka mengganggu kekhusyu’an jamaah lain.

Tentu, sebagai jamaah kita tidak hendak menolak kehadiran anak-anak di masjid. Sebab, jika sebuah masjid menolak kedatangan anak-anak, itu pertanda awal bagi “kiamat”-nya masjid itu di masa depan. Begitulah yang diamanahkan dalam hadits-hadits terkait. Mereka justru harus dibuat untuk merasa nyaman dan suka pergi ke masjid.

Satu hal itu beres, dan tak perlu dibahas. Nah, hal lain yang jadi persoalan adalah ramainya sebagian anak-anak di masjid, terutama ketika shalat berjamaah. Dalam amatan, mereka berkelompok-kelompok. Shalat pun mereka berdekatan atau bersebelahan. Tak jarang mereka mengeluarkan suara-suara di luar bacaan shalat. Begitu salam, tanpa mengikuti wiridan, mereka cepat-cepat keluar masjid (kadang dengan melintasi jamaah yang masbuk shalatnya)—itu pun sambil berkata-kata entah apa saja.

Sepengetahuan saya, tak kurang-kurang pengurus masjid untuk menegur atau mengingatkan mereka, agar tidak ramai selama shalat berjamaah. Bahkan, ada pengurus yang mengawasi dan mengatur mereka, terutama sebelum mengikuti shalat berjamaah. Tak jarang pengurus mendelik, mengisyaratkan perintah untuk diam dan tertib. Dan hal ini sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Namun, apa yang terjadi? Mereka kembali melakukan “kesenangan” mereka untuk ramai dan bergurau.

Andaikata mereka masih balita (bawah lima tahun), mungkin tingkah polah mereka masih bisa dimaklumi. Balita belum tahu apa makna shalat dan apa fungsi masjid. Namun, mereka sudah berusia di atas balita! Mereka sudah jadi kanak-kanak seusia sekolah dasar. Mereka berarti sudah di atas tujuh tahun. Sementara, mereka masih bergurau saat menunaikan ibadah shalat berjamaah. Sudah diingatkan pun, mereka juga masih bergurau seperti sebelumnya.

Karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat dan upaya pengurus selama ini, ada baiknya untuk sosialisasi ke orangtua anak-anak tersebut untuk mendampingi mereka sewaktu bershalat jamaah di masjid. Dengan kata lain, orangtua perlu disadarkan bahwa anak-anak mereka harus didampingi. Jangan biarkan mereka ke masjid tanpa pengawalan dan pendampingan.

Praktisnya, setiap anak akan shalat di samping orangtua masing-masing. Dan orangtua perlu mengkondisikan demikian. Jangan lepaskan mereka bersama teman-teman sekelompoknya. Kalau sudah selesai shalat dan berdoa, silakan mereka bermain atau bergaul dengan teman mereka. Sebagai pendamping, orangtua bisa mengawasi dan mengendalikan anak-anak.

Masjid kita ini bukan pondok pesantren di mana pendidikan anak-anak santri diserahkan kepada pengurus pondok. Ini masjid umum di mana pengurus tidak diserahi oleh orangtua untuk mendidik agama bagi anak-anak mereka. Misalnya, untuk menjewer atau memarahi anak-anak itu, pengurus tidak memiliki hak dan wewenang. Posisi pengurus lemah untuk memberikan sanksi. Apalagi jamaah lain, justru berposisi lebih lemah lagi.

Maka, pengelolaan anak-anak di masjid perlu dipikirkan pula oleh orangtua mereka. Orangtua wajib peduli terhadap hal ini. Jangan hanya melepas anak, tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan. Bagaimanapun, pendidikan agama anak, utamanya, adalah tanggungjawab orangtua. Orangtua muslim wajib mendidik anak-anak untuk menunaikan shalat sejak berusia tujuh tahun.

Abu Daud (no. 495) dan Ahmad (6650) telah meriwayatkan dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247).

Dalam hadits tersebut, jelas apa yang seharusnya dilakukan orangtua kepada anak-anak yang suka bergurau di dalam masjid. Selain pendampingan, orangtua bisa saja mendidik anak-anak dengan memberikan sanksi tertentu. Namun, untuk melakukan tindakan, orangtua juga harus sportif. Karena menyuruh anak-anak ke masjid, orangtua juga harus ke masjid dan mendampingi mereka. Ini barulah adil. Ini sekaligus saatnya orangtua memberi keteladanan.

Dengan cara demikian, mudah-mudahan anak-anak bisa berjamaah dengan tertib dan tenang. Situasinya menjadi semakin kondusif. Akibatnya, jamaah lain dapat menunaikan shalat dan ibadah mereka dengan lebih khusyu’. Situasi sedemikian lah yang sangat diharapkan: Kita bisa berjamaah dengan penuh kekhusyu’an.**

Driyorejo, 13 Agustus 2020

#Dosen Unesa, penggerak literasi #Trainer, editor, penulis 42 buku

#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com #Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id

#Website-1: jalindo.net #Website-2:  sahabatpenakita.id

#Facebook:  much.khoiri.90 #Instagram-1: much.khoiri     

#Instagram-2: emcho_bookstore


Monday, August 10, 2020

JANGAN REMEHKAN IDE KEBETULAN

Sumber gambar: Dok. Pribadi
Oleh MUCH. KHOIRI

KHUSUS untuk (calon) penulis dan suka menulis: Jangan lupa bawa alat rekam gagasan setiap hari, siapa tahu ada ide kebetulan alias spontan. Begitu ada ide bagus, rekam dulu agar tidak hangus dan lenyap. Jangan pula remehkan ide kebetulan, sebab ia kerap menjadi ide tulisan yang sangat bagus. 

Demikian ditegaskan oleh Max Ernst: “All good ideas arrive by chance.” Semua ide yang bagus hadir secara kebetulan, tanpa disengaja sama sekali. Dalam konteks ini, ide bisa diidentikkan dengan ilham. Ia hadir bukan karena kesengajaan, melainkan seakan turun dari langit atau menyembur dari perut bumi, lalu diikat maknanya oleh akal manusia yang kreatif. 

Boleh diyakini adanya firman Allah dalam QS Al-Alaq bahwa Allah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Sebagai khalifah, manusia harus berwawasan. Manusia tidak dibiarkan hidup tanpa pelajaran apa pun. Manusia harus belajar dan Allah menyediakan sumber belajar yang melimpah tak terbatas. Hanya manusia mau atau tidak untuk belajar.

Tuhan agaknya menghujankan dan membanjirkan ide untuk manusia per sekian sekon ke seluruh muka bumi. Bermilyar-milyar ide bertebaran, menyapa alam pikiran (akal) manusia. Ada yang  bersenyawa dengan manusia A, ada juga dengan B, C, atau D. Bebas ke mana pun arah yang dituju, mencari pasangan untuk membentuk makna. Itu bergantung kondisi “wadah” (akal) pula.

Ketika “wadah” itu merupakan sawah yang subur, yakni memiliki kekayaan bekal pengetahuan (prior knowledge) maka sebuah ide akan berproses menjadi ide yang matang. Sebaliknya, jika “wadah” itu tandus, tebaran ide hanya akan layu dan kering sebelum tumbuh dan berkembang.

Masuk di akal jika terjadi suatu transendensi (lintas ruang dan waktu) dalam ide. Maksudnya, pada saat sama orang A, B, C, atau D berpikir tentang topik yang sama. Yang berbeda adalah cara berpikirnya dan cara kerja yang menyertainya. Cerpen Obsesi saya, secara kebetulan, memiliki ide dasar mirip dengan sebuah film dan drama yang saya tonton di Amerika sekian tahun lalu. Padahal, saat menulis cerpen itu, saya belum pernah menonton film dan drama tersebut.

Agar bisa memiliki “wadah” yang subur, kita harus banyak memberinya pupuk—dengan banyak membaca apa pun juga, baik tertulis maupun tak tertulis, atas nama Tuhan. Jika wadah kita subur, ide yang berkelebat akan cepat dimatangkan menjadi ide bagus (inspirasi) yang layak ditindaklanjuti. Benih-benih ide mudah tumbuh di sawah yang subur.

Dalam Rahasia Top Menulis (2014) saya telah menekankan bahwa “inspiration is prior knowledge and a trigger” (inspirasi itu hakikatnya adalah bekal pengetahuan sebelumnya dan sebuah pemicu ide). Pemicu itu bisa saja segala sesuatu yang mampir ke kita lewat panca indera (termasuk baca berita, pengalaman, pengamatan, dan sebagainya). Semua itu, amat boleh jadi, hadir secara kebetulan.

Jadi, jangan remehkan hadirnya ide kebetulan. Ia spontan hadir ke dalam alam pikiran (akal) kita tanpa permisi. Mari sambut kehadirannya, lalu kita catat atau rekam pada alat perekam gagasan (buku saku atau android note), syukur-syukur langsung dilanjutkan dengan membuatkan outline ringkas. Dari sana nanti kita akan membuat tulisan. Masalah hasil akhirnya bergantung pada keahlian kita dalam teknik menulis dan inilah yang unik di antara kita: ars poetica.[]

*Dinukil dari buku sendiri “Writing Is Selling” (Pagan Press, 2018), hal. 72-74.

Monday, August 3, 2020

OJO NGGEGE MANGSA


Sumber gambar: Dok. Pribadi
Sumber gambar: Dok. Pribadi
Oleh: Much. Khoiri

MUNGKIN Anda pernah mendengar ungkapan Jawa yang berbunyi “ojo nggege mangsa”. Lebih-kurang artinya, jangan mempercepat waktu hadirnya suatu ketentuan hidup, jangan buru-buru melampaui waktu yang ditakdirkan Tuhan.    

Ungkapan itu bisa dimaknai sebagai jangan melawan ketentuan waktu, di luar kapasitas dan kemampuan. Semua akan indah pada waktunya, dan jangan terlalu ambisius untuk menyegerakan kehadirannya. Manusia wajib berusaha keras, memang, namun usaha manusia hanya sebatas kemampuannya. Selain itu, manusia yang memimpikan suatu keinginan tertentu, ia harus mengukur diri kapan dan bagaimana ia mencapainya. Sebab, manusia diuji dengan anugerah dan cobaan sesuai kemampuannya.

Misalnya, ada seorang karyawan yang bergaji lima juta rupiah sebulan. Seharusnya, jika ingin memiliki rumah, ia akan rajin menabung untuk membayar uang muka—baik dari sebagian gajinya maupun dari pemasukan tak terduga. Setelah beberapa waktu, ia bisa membayar uang muka. Sisa bulan dan tahun angsuran, ia jalani dengan perjuangan. Sebutlah, dalam 10 tahun ke depan, dia barulah melunasi pembayaran rumah itu; semua itu sesuai ukuran kemampuannya. Nah, inilah manusia yang “lumrah”, alamiah, dan tidak nggege mangsa.

Sementara, andaikata ia nggege mangsa, ia sangat ambisius dan akan melakukan apa pun agar memperoleh uang untuk membayar uang muka atau tunai. Ia memaksakan diri untuk melakukan sesuatu di luar ukuran kemampuannya. Ia lebih peduli untuk secepatnya menghuni rumah itu, meski sesungguhnya ia belum mampu membelinya. Memang sebuah keajaiban jika ia mampu mencapainya. Namun, matematika manusia tetap bisa dihitung. Nggege mangsa namanya tatkala ia yang bergaji lima juta rupiah memaksa diri untuk memilki rumah baru yang berharga ratusan juta atau milyaran rupiah dalam waktu singkat.

Bukan berarti bahwa berkembang secara alamiah itu buruk dan tanpa semangat. Namun, itu cerminan sikap tawakal manusia setelah ia melakukan berbagai upaya terkait dengan keinginan yang diharapkan. Sebaliknya, nggege mangsa adalah ambisi sebagai cerminan nafsu. Ada semacam nafsu serakah yang harus terpuaskan dengan segera dan instan, tanpa mengukur kemampuan diri. Mungkin saja upayanya berhasil, namun kegagalannya justru akan lebih masuk akal.

Dalam dunia menulis pun, ungkapan ojo nggege mangsa juga relevan untuk dicamkan sebagai pelajaran diri. Maksudnya, jangan buru-buru dan menyegerakan waktu atau capaian yang seharusnya diikuti serangkaian prosesnya. Perlu dipahami bahwa kenikmatan (belajar) menulis bukan semata hasil menulis berupa tulisan-tulisan yang diinginkan, melainkan juga proses menulis itu sendiri. Menulis, ojo nggege mangsa.

Adakah orang yang suka nggege mangsa dalam (belajar) menulis. Kayaknya ada, namun saya tidak perlu menunjuk hidung. Sebagai ilustrasi saja, dalam pelatihan menulis, ada orang yang begitu menggebu untuk cepat menghasilkan buku karya sendiri, padahal dia belum pernah suka menulis. Ketika ditanya, dia belum tahu bagaimana membuat outline buku, bagaimana membuat prakata, bagian-bagian dalam outline buku, mengorganisasikan gagasan ke dalam paragraf, menyusun bab dan subbab, menggunakan bahasa efektif, dan seterusnya. Singkatnya, ia sedang meksa! Ia-lah suatu contoh orang yang nggege mangsa dalam menulis.

Kasus lain, orang nggege mangsa jika ia ambisius menerbitkan buku mandiri sebelum ia ikut menyusun antologi atau sebelum ia mampu menyusun artikel-artikel yang bagus. Ia juga nggege mangsa jika ia menulis ngebut (speed writing) tatkala tulisannya masih sangat kacau alias belum mahir. Lebih parah, ia nggege mangsa tatkala menerbitkan tulisan di medsos atau website sebelum ia melakukan swasunting. Ia seperti dikejar-kejar bayangan keberhasilan instan. Juga sebuah nggege mangsa jika penulis pemula berharap meraup royalti besar dari buku pertamanya.

Agaknya, sikap nggege mangsa tidak banyak manfaatnya, lebih banyak mendatangkan mudharat (kerugian). Sikap demikian memanjakan ambisi yang penuh nafsu. Dalam sebuah hikmahnya pada buku Al-Hikam, Ibn Athaillah menyebut, bahwa tidak menerima ketentuan Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan adalah kebodohan, yakni kebodohan tidak menerima takdir Tuhan. Maka, mudah-mudahan kita tidak suka nggege mangsa, dan bersedia mengikuti proses dengan upaya keras dan tawakal.

Tentu saja, konteks nggege mangsa sangat luas dan beragam. Karena itu, insyaallah saya akan membahas beberapa poin tersebut dalam tulisan mendatang. Meski demikian, karena seiring berjalannya waktu, poin-poin itu bisa saja berkembang, dan dengan demikian, tulisan-tulisannya mungkin juga akan berkembang. Jika Anda penasaran, Anda boleh menunggunya.[]


*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.


Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts