Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Tuesday, March 31, 2020

MEMBANGUN RUANG UNTUK BERKARYA DAN BERBAGI

Buku karya Dwi Arianti, M.Pd.

Oleh: MUCH. KHOIRI

Dalam pengantar kumpulan cerpennya Malam Terakhir (2017), sastrawan Leila S. Chudori mengaku bahwa seorang penulis membutuhkan sebuah ruang, baik ruang fisik maupun ruang imajinatif. Bahkan, baginya, penulis perempuan membutuhkan ruang yang lebih besar, lebih kukuh dan pribadi untuk membuat sebuah karya yang jujur dan bercahaya.

Di luar ruang khusus tersebut, Leila S. Chudori tentu terlibat di dalam ruang-ruang yang mengikatnya, semisal tugasnya sebagai jurnalis dan ibu rumah tangga, serta tugas-tugas lain di luar kendalinya. Pembatas-pembatas inilah yang sejatinya "menyiksa" dirinya sehingga memaksanya untuk menciptakan ruang baru. Dengan ruang baru itu, Leila S. Chudori berkarya dan berbagi untuk pembacanya.

Demikian pula yang dihayati oleh penulis kumpulan cerpen ini (Karena Jarang Goyang, 2018), Ryanti Corliss alias Dwi Arianti, entah disadari atau tidak. Di tengah kesibukannya sebagai guru dan ibu bagi dua anaknya, dia juga membutuhkan ruang pribadi dan imajinatif untuk berkarya dan berbagi. Tidak cukup rasanya berbagi hanya lewat lisan dan medium pembelajaran di kelas, yang terasa seperti pembatas bagi ruang geraknya. Maka, lewat menulis cerpenlah dia merasa lebih bebas menyampaikan suaranya.

Kelahiran tujuh-belas cerpen dalam kumpulan ini adalah buah ekspresi penulis dari ruang khusus yang dimilikinya. Ada perjuangan dan pengorbanan yang telah dipertaruhkan dalam rangkaian prosesnya. Sebagai buah kreativitas, cerpen-cerpen yang ada beragam temanya, laksana pelangi di rintik hujan, namun tak terlepas dari tema induknya, yakni hakikat cinta dan pernik-perniknya. Mungkin tak disadari, penulis sedang menebarkan quiz untuk memahami cinta dengan apa adanya.

Meski demikian, tak dimungkiri, selain sebuah ekspresi, menulis hakikatnya juga sebuah komunikasi. Dalam perspektif ini, penulis kumpulan cerpen ini sejatinya ingin mengkomunikasikan suaranya, aspirasinya, tentang tema yang dimaksud, dengan caranya sendiri. Bagaimanapun, cerpen, sebagai sebuah karya sastra, diciptakan untuk memanggul fungsi ganda: dulce et utile (keindahan dan kemanfaatan).

Adapun bagaimana dulce, nilai keindahan atau estetika, dimainkan pada cerpen-cerpen dalam buku ini, saya tidak membahasnya secara khusus. Saya persilakan pembaca menikmatinya sendiri, dan memberikan penafsiran masing-masing. Sebaliknya, saya lebih tertarik untuk sekilas menyinggung dimensi utile-nya, kemanfaatannya, bagi pembaca, termasuk orang-orang di sekitar penulis.

Dalam konteks ini, menulis cerpen bagi penulis adalah upaya untuk menebarkan amanat atau pesan kepada pembaca. Sementara, cerpen, sebagai karya sastra, terbuka bagi penafsiran siapapun juga. Karena cerpen terbuka bagi aneka penafsiran, dan penulis berhasrat menyampaikan amanat tertentu, termasuk tentang cinta, maka pilihan penulis untuk menggunakan cerpen sebagai medium ekspresi tepat adanya. Dengan cerpen, amanat bukanlah doktrin, melainkan sebuah entitas sumber penafsiran. Penulis memposisikan diri sebagai teman berbagi bagi pembaca. Sementara, pembaca adalah subjek yang aktif dan bebas dalam penafsiran.

Untuk itu, penulis mengedepankan sebuah keteladanan alih-alih memberikan doktrin atau ceramah. Keteladanan inilah yang bisa ditangkap dari upaya penulis dalam penyusunan buku ini. Keteladanan bukan hanya diucapkan dan diperintahkan, melainkan perlu dipraktikkan dan diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Penulis telah memberikan teladan bahwa untuk menanamkan pemahaman tentang cinta, cerpen bisa digunakan sebagai medium. Sebuah teladan pula, bahwa untuk mengajak orang lain membaca dan menulis, dirinya sendiri harus sudah membaca dan menulis. Implisitnya, dia ingin mengajak orang lain menulis buku, karena dia juga telah menulis buku.

Penulis buku ini memang belum menjadi Leila S. Chudori. Baik kuantitas maupun kualitas bukunya belum bisa disandingkan pada posisi sejajar. Namun, jika Leila S. Chudori telah membangun ruang pribadi dan imajinatif untuk menciptakan karya-karyanya, dan penulis buku ini juga telah melakukan hal yang sama, maka apakah yang membedakannya? Intelektualitas dan kepekaan dalam berkarya. Inilah yang perlu dibayar lunas oleh penulis buku ini, agar berkarya sebagus karya Leila S. Chudori. Masalah hasilnya, itu hanya soal waktu.

Sebelum penutup, saya berikan ilustrasi Leila S. Chudori yang sangat menarik direnungkan: "Di rumah ini, di ruang-ruamg kedap suara ini, saya kembali  bertemu dengan huruf, kata yang kemudian lahir, tumbuh, dan kawin antar  satu sama lain, dan memilih bentuknya menjadi sebuah cerita. Ketika berhubungan dengan pembaca, maka terciptalah ruang baru yang pribadi. Cerita itu menjadi milik pembaca. Dan saya perlahan mundur ke belakang dan menghilang ke dalam ruang pribadi itu."

Nah, pertanyaannya, Andakah pembaca dengan ruang baru itu, yang siap menciptakan karya baru dan berbagi dengan pembaca berikutnya? Andakah pula yang siap menjadi penyangga kontinuitas pengetahuan yang mencerahkan dan menginspirasi bagi anak-anak bangsa? Silakan jawab pertanyaan ini dengan hati yang lapang.[]

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 42 buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). 

20 comments:

  1. Mantap, Pak. Sy juga suka Leila S. Chudori yg Laut Bercerita.

    ReplyDelete
  2. keren Aba. demikian jg dg sy membutuhkn ruang disela kesibukan sy merawat suami yg sakit stroke utk bs berkarya

    ReplyDelete
    Replies
    1. B Hanum, di sela waktu apa pun perlu kita sempatkan untuk menulis. Semoga bersabar merawat sang suami, dan semoga lekas sembuh

      Delete
  3. Yeah, a writer needs some chambers or spaces to xpress his/her thought and imagination...

    ReplyDelete
  4. Estafet ruang baru untuk kontinuitas pengetahuan, ya Pak. Insyaallah, siap.

    ReplyDelete
  5. Kepekaan dalam berkarya itulah pembedanya. Hal yang tak dimiliki oleh semua orang, termasuk oleh komentator ini

    ReplyDelete
  6. Mantafff
    Teman saya itu penulisnya
    Jadi teringat...di BDK SBY
    Congrat...jeng...

    ReplyDelete

Terima kasih banyak atas apresiasi dan krisannya. Semoga sehat selalu.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts