Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Thursday, April 2, 2020

GURU PENULIS: MELITERASI DIRI UNTUK KETELADANAN


Buku karya Husni Mubarrok
Oleh MUCH. KHOIRI

SESAAT selesai membaca naskah buku ini, setidaknya ada tiga hal penting yang melekati benak. Pertama, penulis buku ini, dengan antusiasme dan kelancaran bertutur, mengajak sesama guru untuk menjadi guru berbeda alias guru istimewa. Katanya, “Menjadi guru yang berbeda itu harus, menjadi guru yang istimewa itu keren.” Untuk itu, tiada cara lain bagi guru kecuali mengenali potensi diri—menulis, khususnya—untuk dikembangkan. Tak ayal, penulis buku mengarahkan guru untuk menjadi guru penulis.

Siapakah yang dimaksud dengan guru penulis? Memang, konsep guru penulis (teacher-writer) dalam buku ini belum dinyatakan secara tegas sebagaimana yang digunakan Christine M. Dawson dalam bukunya The Teacher Writer: Creating Writing Groups for Personal and Professional Growth (2016). Namun, penulis buku ini memaksudkan guru penulis sebagai guru yang profesional dan melengkapi diri dengan vokasi tambahan sebagai penulis. Guru penulis itu seorang guru dan sekaligus penulis.

Kedua, penulis buku yakin, menjadi guru penulis itu pasti dapat diwujudkan. Lewat judul buku dia mengabarkan: Menjadi Guru yang Berbeda: Merajut Asa, Mewujudkan Mimpi Menjadi Guru Penulis.  Penulis buku begitu yakin dalam hal ini karena dia sangat percaya nilai sebuah impian. Impian akan terwujud manakala dijalani dengan penuh komitmen, aksi nyata, dan kegigihan dalam meraihnya. Tegasnya, menjadi guru penulis, pasti bisa diraih; menjadi guru penulis, pasti bisa direngkuh.

Ketiga, penulis buku juga mengajak guru dengan memberikan berbagai uraian dan jurus jitu yang mudah dipraktikkan. Penulis buku menyebutnya sebagai “ramuan” mujarab yang berjumlah lima, yakni (1) percikan motivasi guru, (2) menyelami curhatan siswa, (3) jalan menuju guru penulis, (4) celoteh perjalanan menulisku, (5) Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menjadi guru penulis. Masing-masing “ramuan” memiliki sejumlah artikel yang kaya dan mencerahkan. Kelima “ramuan” disajikan dengan cara dan bahasa yang mudah dipahami.

Sekarang, mengapa penulis lancar menyampaikan gagasannya? Satu dan lain hal, dia mendasarkan tulisan pada pengalaman dan proses reflektif atas aneka fenomena yang terjadi dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Sementara itu, dia menulis apa yang paling diketahui dan diakrabi, bahkan menyatu dengan dirinya. Dengan kondisi demikian, dia begitu kaya bahan untuk disampaikan kepada orang lain—termasuk, dalam hal ini, lewat tulisan dalam aneka sub-topik.

Selain itu, dia memiliki kemampuan public speaking yang bagus—namun dimanfaatkan untuk berkomunikasi secara tertulis. Dia juga cerdas memilih sudut pandang menulis, dan menempatkan guru sebagai pembaca pada posisi teman berbincang yang menyenangkan. Seakan tidak ada jarak emosional dan sosial-psikologis antara dia dan pembacanya. Pada kesempatan tertentu, dia seakan sedang bercakap kepada sahabatnya: Ayo kenali potensimu, gali bakatmu dan poles ketrampilanmu hingga ia menjadi istimewa dan menjadikanmu guru yang berbeda.
***
Catatan penting lain adalah bahwa penulis buku ini telah menjalani dunia literasi diri hingga “lulus” menjadi guru penulis, dan ingin menularkannya kepada orang lain. Dalam hal ini dia bertindak sebagai teladan dalam pembudayaan literasi.  Dia menjalani literasi diri untuk kemudian mengarah ke orang lain.

Literasi diri, yang hakikatnya juga bagian dari budaya individu, memiliki potensi untuk mewarnai budaya kolektif suatu komunitas atau masyarakat. Seberapa besar intensitas literasi diri menentukan seberapa signifikan pewarnaan yang ditimbulkannya. Sebagai budaya individu, literasi diri urgen dipraktikkan bagi siapapun—tak terkecuali penulis buku ini—juga yang berghirah besar untuk memperkaya budaya komunitas atau masyarakat. Semakin banyak individu yang mempraktikannya, semakin cepat proses pewarnaan budaya itu.

Lalu, bagaimana budaya individu, khususnya literasi menulis, berperan dalam mewarnai budaya kolektif masyarakat? Perlu dicatat, budaya individu yang aktif akan berpotensi mempengaruhi dan mewarnai budaya komunitas. Kemudian, budaya komunitas yang aktif akan mempengaruhi budaya masyarakat. Kuncinya, jika budaya individu ini memiliki kekuatan pengaruh yang besar; maka, warna budaya yang dipengaruhi juga kentara. Kumpulan individu penulis sangat potensial untuk ikut memberi warna pelangi budaya masyarakat luas.

Praktisnya, menulis itu memiliki kekuatan keabadian yang jauh lebih kokoh dari pada pikiran, ucapan, dan tindakan. Apa yang kita pikirkan akan lenyap, apa yang kita ucapkan dan lakukan akan tak berbekas—kecuali benar-benar dituliskan. Padahal, gerak pikiran, ucapan, dan tindakan itu sendiri merupakan praktik budaya. Dalam hal ini literasi menulis merekam dan mengabadikan praktik budaya manusia. 

Sementara itu, hasil tulisan itu akan dibaca sekian banyak orang. Tulisan-tulisan yang ada akan menyegarkan, mencerahkan, dan menginspirasi sekian banyak orang. Tulisan-tulisan itu akan beranak-pinak menjadi dua kali lipat, sepuluh kali lipat, atau seribu kali lipat dari pada sebelumnya. Jumlah tulisan yang tumbuh belakangan dapat tak terhingga karena melampaui batas ruang dan batas waktu. Inilah yang agaknya diimpikan oleh penulis buku ini.

***
Lalu, mengapa keteladanan? Sebeb, keteladanan sangat penting dalam pembudayaan literasi. Keteladanan itu sebetulnya bersumber dari proses mendidik diri (meliterasi diri), sebelum kemudian seseorang mendidik orang lain. Sementara itu, tak dimungkiri, mendidik orang lain agar menjadi apa yang kita inginkan, tidaklah mudah alias sangat sulit. Lebih sulit lagi adalah mendidik diri sendiri agar mampu mendidik orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan. 

Untuk membuat orang lain memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku sejalan dengan apa yang kita inginkan, kita harus memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang patut dididikkan. Implikasinya, kita harus bisa dijadikan cermin atau suri tauladan yang pantas. 

Dalam hal ini seorang kiai, pendeta, pedanda, atau tokoh religi lain harus sudah ahli dalam kitab suci yang merupakan pedoman dan pegangan untuk berdakwah. Dia juga mengamalkan dzikir, semedi, sembahyang atau ritual lain dengan sebenar-benarnya. Lalu, perilaku kesehariannya mencerminkan kesalehan kalbu dan jiwanya. Jika tidak demikian, hilanglah segala statusnya.

Mendidik diri untuk keteladanan adalah memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai sesuai yang kita didikkan kepada orang lain. Mendidik diri untuk keteladanan juga membangun sikap dan perilaku agar patut diteladani; karena itu, ia harus menghayatinya lebih dulu sebelum menerapkannya pada orang lain. 

Maka, mendidik diri untuk keteladanan juga “membudayakan” diri dalam apa yang kita tularkan kepada orang lain. Kita harus membudayakan diri dengan mengaji, shalat, bersedekah, dan sebagainya sebelum kita mendidik anak-anak untuk membudayakan hak serupa.  Demikian pula kita harus berbudaya literasi (termasuk membaca dan menulis) dulu sebelum mengajak orang lain untuk berbudaya literasi. 

Begitulah, penulis buku ini telah meliterasi diri dan berupaya untuk memberikan teladan pada orang lain, terutama mereka yang belum  menjadi guru penulis. Di bagian penutup dia, antara lain, menulis: Teruslah berjuang kawan, jangan pernah patah arang. Teruslah berkarya kawan, jangan pernah merasa bosan. Teruslah menulis kawan dengan goresan karya-karya indahmu agar dunia mengenalmu dan mencatatmu dalam keabadian. Sebuah ungkapan yang sarat ajakan dan harapan yang menggelora dan yakin akan hadirnya kenyataan.

Selamat membaca buku ini dengan riang dan menemukan mutiara-mutiara hikmah dan inspirasi dari dalamnya. Jika perlu, silakan baca lagi dan lagi, dan setelah itu menulislah. Dalam hal ini, bahkan sejak awal pengantar ini, Anda memasuki proses literasi diri untuk kemudian diharapkan mampu meliterasi orang lain. Mudah-mudahan.[]

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Husni Mubarrok berjudul “Menjadi Guru yang Berbeda (Merajut Asa, Mewujudkan Mimpi Jadi Guru Penulis” (Bojonegoro, Pustaka Intermedia, 2017). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789




No comments:

Post a Comment

Terima kasih banyak atas apresiasi dan krisannya. Semoga sehat selalu.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts