Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Thursday, April 23, 2020

Prakata: Tiga Ranah Praktik Literasi*

Sumber gambar: Dok. Pribadi

Oleh MUCH. KHOIRI

Untuk memahami konsep praktik literasi, perlu kiranya kita menelisik dua konsep penting dalam New Literacy Studies (NLS) yang melihat literasi sebagai bagian dari praktik sosial secara luas. Dua konsep itu adalah praktik literasi (literacy practices) dan peristiwa literasi (literacy events).
Dalam studi literasi tentang tiga komunitas di South Carolina, AS, Shirley Heath (1983) (dalam Dewayani dan Retnaningdyah 2017: 10-12), mendefinisikan peristiwa literasi sebagai peristiwa apa pun di mana bentuk teks menjadi bagian dari interaksi peserta dan pemaknaan teks. Lebih sederhana lagi, istilah peristiwa literasi bisa dipahami sebagai peristiwa apa pun — yang bisa diamati — di mana produk tertulis dimungkinkan. Sementara itu, praktik literasi tidak hanya mencakup peristiwa yang bisa diamati tetapi juga nilai-nilai dan perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang yang terlibat dalam praktik literasi.
Dalam kalimat lain, dalam buku Situated Literacies, Barton, Hamilton & Ivanic (2000) menyatakan, praktik-praktik literasi adalah sebarang kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang dalam kaitannya dengan literasi. Praktik-praktik literasi bisa diasumsikan sebagai sesuatu yang abstrak karena mereka mencakup "nilai, sikap, perasaan, dan relasi sosial." Sementara itu, peristiwa literasi adalah komponen-kompomen praktik sosial yang bisa dilihat dan diamati.
Dalam pengertian ini, Barton, Hamilton, dan Ivanic (2000) mengusulkan konsepsi penting untuk memahami literasi sebagai praktik sosial: (1) Literasi dimaksudkan sebagai serangkaian praktik sosial yang bisa dilacak dari berbagai peristiwa yang berkaitan dengan teks tertulis; (2) Ada berbagai bentuk literasi dalam berbagai aspek kehidupan; (3) Praktek literasi dibangun melalui institusi sosial dan hubungan kekuasaan. Beberapa praktik literasi lebih dominan dan berpengaruh daripada yang lain; (4) Praktik literasi memiliki tujuan tertentu dan terkait erat dengan tujuan sosial dan praktik budaya secara umum; (5) Literasi terjadi dalam konteks historis; dan (6) Praktik literasi terus berubah, dan bentuk-bentuk baru litrerasi secara teratur diperoleh melalui proses pembelajaran informal dan pembuatan makna.
Berdasarkan konsepsi tersebut, pembelajaran literasi terjadi lebih dekat pada model ideologis literasi daripada model literasi otonom. Street (1995) mengusulkan "model otonom" dan "model ideologis" literasi. Model otonom mengasumsikan literasi sebagai pengembangan kognitif: keterampilan atau seperangkat keterampilan yang dikembangkan oleh seorang individu, terlepas dari konteks sosial. Sementara itu, model ideologis adalah literasi kritis yang berakar pada agensi sosial yang melihat individu sebagai tertanam erat dalam konteks sosial dan budaya di mana praktik literasi memiliki makna (Lotherington 2007).
Pertanyaannya, apakah praktik  literasi dan pembelajaran literasi juga terjadi di negeri ini, serta mengacu pada konsepsi di atas? Literasi dewasa ini dipahami bukan hanya kemampuan melek aksara, melainkan lebih jauh lagi, termasuk melek informasi dan melek hidup. Literasi bukan hanya dipelajari, melainkan juga harus dipraktikkan. Sejak gerakan literasi nasional (GLN) dideklarasikan tahun 2016, ada tiga ranah gerakan literasi yang dijalankan, yakni gerakan literasi sekolah (GLS), gerakan literasi keluarga (GLK), gerakan literasi masyarakat (GLM). 
Dalam praktiknya, gerakan literasi sekolah (GLS)  dilaksanakan dengan mengintegrasikannya dengan kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pelaksanaannya bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas yang didukung oleh orang tua dan masyarakat.
Gerakan literasi keluarga (GLK) dilaksanakan dalam bentuk penyediaan bahan bacaan keluarga, penguatan pemahaman tentang pentingnya literasi bagi keluarga, dan pelaksanaan kegiatan literasi bersama keluarga. Semua anggota keluarga bisa saling memberikan tauladan dalam melakukan literasi di dalam keluarga dengan berbagai macam variasi kegiatan.
Gerakan literasi masyarakat (GLM) dilaksanakan dalam bentuk penyediaan bahan bacaan yang beragam di ruang publik, penguatan fasilitator literasi masyarakat, perluasan akses terhadap sumber belajar, dan perluasan pelibatan publik dalam berbagai bentuk kegiatan literasi. (Retnaningdyah et.al. 2016).
Di beberapa daerah di negeri ini gerakan literasi dalam tiga ranah tersebut telah dilaksanakan dengan intensitas masing-masing. Ada daerah yang baru melaksanakan gerakan literasi sekolah, namun ada juga daerah yang telah mulai menjalankan ketiga ranah tersebut dengan baik. Surabaya termasuk salah satu kota yang telah menjadi pionir dalam menjalankan gerakan literasi tiga ranah itu.
Dengan demikian, guru, orangtua, dan masyarakat terlibat, langsung atau tidak langsung, dalam praktik dan pembelajaran literasi--tentu dengan model yang berbeda. Dalam ranah keluarga dan masyarakat, model ideologis amat boleh jadi lebih dominan ketimbang ranah sekolah. Pembelajaran literasi ranah sekolah cenderung bermodel onotom, yakni lebih mengedepankan pengembangan kognitif siswa: keterampilan atau seperangkat keterampilan yang dikembangkan oleh siswa, cenderung terlepas dari konteks sosial; meski dalam praktiknya, kegiatan-kegiatan "sosial" juga dilibatkan.
Karena pelaksanaan gerakan literasi nasional sangat beragam antara daerah satu dan daerah lain, beragam pulalah pengalaman para penggiat literasi (termasuk guru) dalam mengemban tugas literasi mereka. Menariknya, ada penggiat literasi yang memiliki kekayaan pengalaman menggerakkan literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat--mengingat ada di antara mereka yang juga terlibat langsung di dalamnya.  Yang lebih menarik, ada pula guru yang peduli untuk mengabadikan pengalaman praktik literasi mereka ke dalam tulisan.
Buku ini menghimpun tulisan-tulisan tentang praktik-praktik literasi berdasarkan pemahaman dan pengalaman penulisnya--tentu, dengan kapasitas dan gaya penulisan masing-masing. Mereka ingin berbagi praktik-praktik literasi lewat tulisan dengan pembaca. Mereka keluar dari zona nyaman yang biasanya melenakan sesama teman sejawat mereka. Mereka ingin berbeda. Tak dimungkiri, lewat tulisan, mereka sedang melakukan konstruksi identitas mereka sendiri, yakni identitas sebagai penulis. Lengkapnya, mereka akhirnya bisa menyandang status sebagai "guru penulis".
Barangkali tulisan-tulisan dalam buku ini hanya merupakan potret lanskap kecil dari hamparan praktik dan pembelajaran literasi di negeri ini. Di luar sana kiranya masih banyak lanskap luas yang perlu diabadikan. Ke depan, bahkan, lanskap itu akan makin kaya dengan beragam tanaman praktik literasi. Yang indah bukan banyaknya lanskap itu, melainkan itikad kuat para penulis dalam memotretnya. Kata Pramoedya Ananta Toer,  “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
Mudah-mudahan praktik-praktik literasi yang tertuang di dalam buku ini mampu memberikan hikmah dan inspirasi bagi pembaca sekalian. Bahkan, sangat diharapkan, hikmah dan inspirasi itu berkembang dan dikembangkan menjadi tulisan-tulisan yang kelak juga menawarkan hikmah dan inspirasi berantai. Dengan aras demikian, ditulisnya praktik-praktik literasi ini menemukan makna sesungguhnya.[]

*Artikel ini adalah prakata editor untuk buku Sri Sugiastuti dkk. berjudul “Pelangi Praktik Literasi: Antologi Praktik Lterasi 21 Penulis AGM” (Karanganyar, CV Pupa Media, 2019). Terima kasih disampaikan kepada para penulis buku dan penerbit. 
**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789
#Dosen Unesa, penggerak literasi
#Trainer, editor, penulis 42 buku
#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com
#Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id
#Web-1: jalindo.net
#Web-2:  sahabatpenakita.id
#FB:  much.khoiri.90
#IG-1: @much.khoiri
#IG-2: @emcho_bookstore


Wednesday, April 22, 2020

Penulis Sebagai Pencipta dan Penyebar Virus Literasi


Oleh Much. Khoiri

Inilah "rumah" kreatif kita, rumah virus literasi, komunitas yang kita cintai. Namun, mari maknai rumah di sini sebagai tempat hunian (home), bukan hanya bangunan rumah (house). Loh, memang apakah bedanya?

Hunian itu wujudnya bisa macam-macam---bisa gedung, gubuk reyot, ruang di bawah jembatan. Yang penting, penghuninya merasa nyaman dan kerasan di dalamnya. Di situ ada sumber kebahagiaan. Karena bahagia, penghuninya riang melakukan apa yang disukainya.

Sementara, rumah itu merujuk ke bentuk fisik bangunan. Ada rumah orang kota, ada rumah orang desa. Ada rumah cor, ada rumah gedhek, ada rumah triplek. Ada rumah khas orang Arab, orang Jawa, orang Eskimo, dan sebagainya. Bentuk rumah itu sejalan dengan nilai-nilai budaya setempat.

Orang membangun rumah, tentu agar menjadi tempat hunian, agar merasa kerasan, nyaman, dan bahagia di dalamnya. Namun, faktanya tidak selalu begitu. Rumah kadang sama sekali bukan serasa hunian, malah seperti neraka. Sebaliknya, 'rumah kardus' di bawah jembatan bisa jadi surga bagi penghuninya.

Maka, pada aras inilah kita perlu melihat komunitas WAG komunitas kita. Kita anggap WAG komunitas kita sebagai sebuah hunian yang menyamankan dan membahagiaan, dari mana kita menjadi kreatif dan produktif dalam berkarya, terutama bertekun dalam dunia literasi tulis-menulis.

Mari kita membuat diri nyaman di WAG komunitas ini. Lebih sering melihat grup, syukur-syukur memberi apresiasi dan krisan (kritik saran) kepada tulisan anggota keluarga sendiri. Syukur lagi kalau ajeg (istikamah) memposting tulisan sendiri, betapa pun tulisan itu sederhana. Jangan hanya jadi silent reader (membaca tapi tidak berani atau kurang berminat komen), apa lagi hanya terdaftar namanya di dalam keluarga.

Mari jadikan WAG komunitas ini hunian tempat kegiatan homeschooling berlangsung. Kita saling belajar, saling mendukung, untuk meningkatkan pengembangan diri dan kualitas tulisan. Mari posting tulisan agar memperoleh krisan; jangan tidak sama sekali. Jika tidak posting sama sekali, bagaimana anggota lain memberi krisan untuk peningkatan diri. Menulis dan memberi krisan tidak bisa hanya lewat angan-angan!

Mengapa kita harus mendidik diri dalam literasi (membaca dan) menulis di homeschooling WAG komunitas ini? Ya, sebagai (calon) penulis, kita adalah kreator (produsen) dan penyebar virus literasi kepada masyarakat. Virus literasi di sini merujuk kebiasaan membaca dan menulis, terutama dalam tataran praktiknya.

Pembudayaan literasi perlu keteladanan, dan di homeschooling ini kita mengasah diri untuk menjadi teladan. Karena itu, wajib bagi kita untuk mendidik diri untuk menjadi mahir membaca dan menulis, agar ke depan kita pantas dijadikan teladan. Jika kita rakus membaca dan gila menulis, amatlah mudah bagi kita mengajak orang lain untuk membaca dan menulis.

Maka, WAG komunitas ini perlu kita manfaatkan untuk mengkreasi dan berbagi karya tulis. Apa pun tulisan yang diminati, kita pasang: reportase oke, feature boleh, opini yes, catatan perjalanan siip, cerpen atau puisi silakan. Kalau dapat menguasai berbagai genre menulis, malah lebih bagus. Yang penting: menulis, menulis, dan menulis. Banyak menulis akan meningkatkan kuantitas dan kualitas sekaligus.

Lalu, tatkala tulisan (yang mengandung virus literasi) kita posting, kita sejatinya sedang menyebarkan virus-virus literasi kita. Tulisan melesat ke berbagai WAG, website, blog, facebook, dan media lain. Atau, tulisan itu mengendon ke dalam buku mandiri atau antologi, entah di sini entah di luar sana. Virus literasi akan menyebar secara halus ke puluhan, ratusan, atau jutaan pembaca.

Begitulah cara kerja virus literasi berlangsung. Ia menjangkiti pembaca tanpa disadari, dan akhirnya menghegemoni. Bahkan, virus literasi (misalnya gagasan tulisan atau teknik menulis) akan dicontoh, dikutip, dan dikembangkan menjadi tulisan baru. Adakah? Mari yakini, pastilah ada rekreator dari apa yang kita kreasikan. Hanya tinggal menunggu waktu.

Sekarang kita duduk di sini, menyaksikan bahwa kita belum optimal berperan dalam keluarga virus literasi kita ini. Mari renungkan, apakah kita siap menjariyahkan waktu-tenaga-pikiran untuk menjadi kreator dan penyebar virus literasi? Tak usah dijawab dengan kata-kata, cukup kita buktikan dengan tindakan nyata. Titik.[]

Driyorejo Gresik, 20/4/2020

#Dosen Unesa, penggerak literasi
#Trainer, editor, penulis 42 buku
#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com
#Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id
#Web-1: jalindo.net
#Web-2:  sahabatpenakita.id
#FB:  much.khoiri.90
#IG-1: @much.khoiri
#IG-2: @emcho_bookstore


Tuesday, April 21, 2020

Prakata “Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku”

Sumber gambar: Dok. Pribadi

Oleh: Much. Khoiri

Semasa perang para pejuang berteriak, “Merdeka atau Mati!”
Kini, hai pejuang literasi, ayo tekadkan, “Menulis atau Mati!”

SELAMAT DATANG di buku ini, sebuah buku yang bakal mengajak Anda untuk berniat dan bertekad mengamalkan ibadah menulis dengan semboyan “Menulis atau Mati!”, dan pada irisan waktu yang sama Anda juga menunaikan ibadah membaca. Selamat datang di taman pawiyatan literasi membaca dan menulis ini.
Pertama, saya akui bahwa buku ini saya kembangkan dari semboyan menulis yang saya tetapkan pada tahun baru 2014, yakni “Menulis atau Mati!” (write or die!). Di luar sepengetahuan saya, Scott Nicholson juga memberi judul bukunya yang sangat menggugah, ‘Write Good or Die: Survival Tips for the 21st Century”. Nicholson, dalam merampungkan bukunya, pastilah telah menerapkan semboyan yang kemudian mengejawantah menjadi judul buku tersebut. Ada kekuatan tak terkendalikan ketika sebuah semboyan bekerja mempengaruhi dan menguatkan seorang penulis.
Bagi saya sendiri, semboyan “Menulis atau Mati!” saya adaptasi dari semangat semboyan Arek-Arek Surabaya ketika mempertahankan negeri tercinta, yakni Merdeka atau Mati! Pada tahun 1945 perjuangan Arek-Arek Surabaya telah diperkuat dengan semboyan yang diteriakkan bertalu-talu lewat radio oleh Bung Tomo. Dan itu berhasil, tentu dengan izin Tuhan. Maka, semangat ini saya adaptasi menjadi “Menulis atau Mati!”. Dengan semboyan ini, saya berharap mewarisi semangat para pejuang dalam konteks berbeda, bukan dalam mengusir tentara Inggris, melainkan dalam menulis.
Selanjutnya, saya memberikan makna lebih pada semboyan “Menulis atau Mati!” itu, yakni kewajiban menulis. Dalam pemahaman saya terhadap firman Tuhan dalam QS. Al-‘Alaq: 1-5, menulis (uktub) itu sama wajibnya dengan membaca (iqra). Allah-lah yang mengajarkan (menulis) dengan pena. Mengapa wajib? Sebab, kewajiban membaca diperintahkan Tuhan agar manusia membaca sesuatu, yakni qalam. Sementara itu, qalam perlu disediakan dengan menulis (uktub). Meski membaca di sini bermakna luas, bukan sekadar teks tertulis, kehadiran qalam yang tertulis mutlak diperlukan untuk memuaskan pembaca. Maka, saya wajib menulis, sebagaimana saya juga wajib membaca. Sebagai sebuah kewajiban, menulis harus saya tunaikan. Terus terang, saya takut akibat dosa yang harus saya tanggung seandainya saya tidak menulis. Inilah hakikat semboyan yang telah menguatkan saya.
Kedua, marilah kita melihat hubungan tak terpisahkan antara membaca dan menulis. Keduanya merupakan unsur keterampilan literasi yang memengaruhi satu sama lain. Membaca itu keterampilan reseptif, dan menulis itu keterampilan produktif. Produk kegiatan menulis menjadi bahan untuk dibaca; dan hasil bacaan memungkinkan orang untuk menulis. Maka, kehadiran salah satu unsur mewajibkan kehadiran unsur yang lain.
Orang membaca karena ada sesuatu yang dibaca. Sesuatu yang dibaca itu adalah naskah atau teks yang berupa tulisan—berarti sesuatu yang telah ditulis. Kita diperintahkan membaca Kitab Suci, karena Kitab itu telah ditulis sebelumnya; dan membaca pun harus atas nama Tuhan. Dalam pengertian yang sederhana ini saja terbukti bahwa hubungan membaca dan menulis sangatlah dekat dan tak terpisahkan.
Jika ada perlambang bahwa manusia diperintahkan untuk “membaca ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis”—berupa berbagai kondisi alam dan fenomena yang terjadi di sekeliling kita setiap hari—, kita juga bisa berdiri dalam posisi perlambang. Sangat boleh jadi Tuhan sengaja “menulis ayat-ayat-Nya” pada lembar-lembar hidup dan kehidupan manusia untuk dibaca dan dipelajari demi kemaslahatan. Ayat-ayat tak tertulis yang terhampar di atas bumi ini adalah buku-buku yang mesti kita baca untuk memahami makna dan memetik hikmahnya.
Praktisnya, ada hubungan sebab-akibat antara membaca dan menulis. Jika Anda mau menulis, Anda harus suka membaca, terutama bahan-bahan bacaan tentang apa yang akan Anda tulis. Jika Anda menulis tanpa membaca secara memadai, tulisan Anda akan miskin gagasan, data, dan informasi mutakhir.  Jika tulisan Anda miskin gagasan, data dan informasi mutakhir, Anda dipastikan tidak akan digemari (dan dirindukan) pembaca karena tulisan Anda kering, kaku, dan monoton.
Sejenak bukalah fakta menyedihkan tentang minat baca masyarakat kita yang rendah. Menurut Djaelani (2012), Human Development Report 2008/2009 menunjukkan, minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Kondisi ini sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Pada medio 2009 ada berita berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD) bahwa budaya baca msyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.
Dalam buku Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2016), jujur saya prihatin menyimak hasil tes Program of International Student Assessment (PISA) 2012: Siswa Indonesia menempati ranking 64 dari 65 negara peserta dalam hal reading literacy (comprehension and habit). Sementara, hasil tes Progress of International Reading Literacy Study (PIRLS) 2011 : Ranking 42 dari 45 negara peserta, dengan skor 420 (di bawah standar minimal 500). Karena itu, seribu persen saya mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sekarang sedang dijalankan Pemerintah, dengan program awal pentingnya ‘’15 Menit Membaca di Sekolah”.
Saya mengajak Anda untuk menggelorakan kebiasaan membaca, agar ranking di atas bisa diubah secara drastis. Memang perlu perjuangan yang habis-habisan, dan hal itu bukan suatu kemustahilan. Satu-dua dekade silam, Jerman dan Prancis termasuk bangsa yang literasinya sangat tinggi, sekarang posisi itu telah bergeser. Berikut ini urutan 10 negara paling literat di dunia: (1) Finland, (2) Norway, (3) Iceland, (4) Denmark, (5) Sweden, (6) Switzerland, (7) USA, (8) Germany, (9) Latvia, dan (10) Netherlands. Untuk mengejar ranking itu, memang tidak mudah, namun kita harus gigih memperjuangkannya.
Sementara itu, budaya menulis masyarakat kita masih jauh tertinggal dari budaya membaca, dan budaya membaca mereka juga jauh tertinggal dibandingkan masyarakat negeri-negeri maju. Masyarakat kita masih lebih suka sebagai konsumen buku atau tulisan daripada sebagai produsen. Meski seseorang suka membaca, misalnya, dia tidak serta-merta menuliskan (tentang atau terkait dengan) apa yang dibacanya. Maksudnya, budaya menulis belum membuahkan banyak hasil.  
Buktinya, jumlah buku yang dihasilkan sangat sedikit.  Menurut International Publisher Association (IPA) Kanada, Indonesia hanya mampu menerbitkan 5.000 judul/tahun, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jepang 65.000 judul/tahun, Jerman 80.000 judul/tahun, dan Inggris 100.000 judul/tahun. Dari 250.000 sekolah di Indonesia hanya 5% yang memiliki perpustakaan. Dengan kondisi demikian, bagaimana penanaman budaya membaca dapat diharapkan akan menuai keberhasilan?
Padahal, untuk membangun bangsa yang berbudaya menulis, dibutuhkan ribuan atau jutaan penulis. Inilah peluang dan tantangan untuk menjalani kewajiban menulis.  Hanya, untuk menekuninya, kita harus siap mengobarkan semboyan “Menulis atau Mati!”. Semboyan ini akan memberikan kekuatan motivatif kepada kita untuk senantiasa berproses dalam menulis atau mencurahkan segala tenaga, pikiran, dan energi ke dalam menulis. Mengapa semboyan itu pantas kita canangkan? Lalu, apakah sejatinya yang menyebabkan kita memutuskan untuk mencanangkan semboyan itu?
Kata kunci yang menggerakkan kita mencanangkan semboyan “Menulis atau Mati!” adalah impian yang berlandaskan kewajiban menulis. Dalam hal ini istilah “impian” mengacu pada cita-cita (dreams), tujuan hakiki dari suatu gerak hidup kita, atau target utama yang harus dicapai.  Impian tentu tidak identik dengan angan-angan kosong, sekadar keinginan atau harapan (wish). Impian menyimpan kekuatan jauh lebih kuat, dan daya motivatif yang dahsyat.
Ketika kita memiliki impian kuat biasanya impian itu menjadi obsesi, bahwa impian hidup kita haruslah terwujud; sebab jika tidak, kita mungkin tidak akan sanggup menanggung akibatnya.  Ada semacam kewajiban yang harus ditunaikan dalam mengejar impian itu; dan jika tidak menunaikan kewajiban itu kita akan merasa berdosa dan bersalah sepanjang masa.
Dalam sebuah puisinya “Dreams” yang inspiratif dan aspiratif, Langston Hughes, seorang penyair kulit hitam Afrika-Amerika, bertutur berikut ini:
Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly

Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow

Menurut Hughes, tanpa impian, hidup adalah burung yang patah sayapnya yang tak kuasa terbang melanglang angkasa. Pun tanpa impian, hidup adalah ladang tandus yang membeku bersama salju. Dus, impian haruslah dipegang erat-erat, dirawat dan diwujudkan. Hanya dengan impian kuat, manusia memiliki arah hidup jelas dan selalu terdorong untuk “menghidupkan” hidup dan menjadi manusia sesungguhnya. Kualitas kehidupan yang sempurna dimulai dengan impian besar.
Ketiga, dalam buku ini akan dipaparkan 8 sumber impian yang mendasari kita bersemboyan “Menulis atau Mati!”: menulis sebagai kewajiban, menulis untuk melatih berpikir, menulis untuk penghidupan, menulis untuk perjuangan, menulis untuk personal branding, menulis untuk warisan, menulis untuk berbagi kebaikan, dan menulis membangun peradaban.
Bagaimana cara kerja sumber impian itu dalam diri kita? Menulis sebagai kewajiban, misalnya, menjadi sumber impian yang dahsyat. Selagi ia mengobsesi dalam diri kita, misalnya, ia akan menggerakkan kita menulis setiap saat yang kita inginkan. Jika tidak, kita akan merasa berdosa karena telah mengabaikan kewajiban. Kekuatan menunaikan kewajiban inilah yang mengejawantah menjadi kekuatan dahsyat sumber impian. Analogi yang sama berlaku untuk sumber-sumber impian yang lain.
Secara akumulatif, semboyan “Menulis atau Mati!” akan menjadi kekuatan tersendiri bagi pengamalnya. Menulis itu kewajiban; dan jika tidak ditunaikan, dosalah yang menjadi akibatnya. Ekstrimnya, jika tidak menunaikan kewajiban menulis, itu sama saja dengan memperpanjang daftar kesalahan dan dosa. Daripada menanggung akibat seberat ini, mati itu agaknya lebih terhormat. Maka, jika tidak ingin mati, menulis harus ditunaikan!
Semua itu akan dipaparkan di dalam buku ini. Bahkan, buku ini juga membahas tentang apa yang sebaiknya ditulis, agar tulisan langsung laris dalam pasar gagasan dan menginspirasi pembaca luas. Di sini tren dan kecenderungan selera pembaca dibincangkan. Di dalamnya juga disinggung tentang hakikat menulis sebagai ekspresi dan komunikasi dan sebagai seni. Bahkan, menulis itu hakikatnya menjual.
Pada bagian berikutnya, buku ini membeberkan ulasan khusus tentang keajaiban semboyan “Menulis atau Mati!”, terutama pengalaman penulis dalam menghasilkan buku. Saya berharap Anda memerik buah-buah keajaiban sebagaimana yang pernah saya alami, di antaranya terjaganya semangat dan stamina menulis, meningkatnya produktivitas dan kreativitas, serta terbukanya peluang meniti jalur writerpreneurship.
Lebih dari itu, buku ini akan berusaha menguatkan semangat pembaca untuk bertekad menulis, bahkan dengan persuasi yang mendesak dan menantang: menulis dari kata pertama. Di dalamnya disajikan tentang hakikat dari satu kata topik, ide kebetulan, pengembangan tulisan, sisipan humor dalam tulisan, ungkapan filosofis dalam tulisan, dan ars poetica penulis.
Mengingat menulis itu kewajiban yang begitu penting, guna melengkapi kewajiban membaca, di bagian akhir buku ini ada saran bagi pembaca untuk dilakukan guna meniti jalan menulis. Saran itu berbunyi: Ayo menulis setiap hari. Kemudian, sebagai epilog, ada sebuah catatan penting untuk direnungkan dan dicamkan secara mendalam: Jangan mati sebelum menulis buku.
Nah, sekarang silakan rileks sejenak, dan endapkan pemahaman Anda saat ini betapa pentingnya kewajiban menulis dalam hidup ini. Lalu, silakan endapkan lebih dalam lagi, guna menemukan mutiara semangat untuk menulis sebuah buku Anda sendiri. Setelah itu, silakan Anda mengikuti buku ini dengan membuka pikiran dan hati sebagaimana payung yang terbuka. Mari belajar dan berbagi bersama untuk kebaikan.[] 

Surabaya, 01 April 2017


#Dosen Unesa, penggerak literasi
#Trainer, editor, penulis 42 buku
#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com
#Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id
#Website-1: jalindo.net
#Website-2:  sahabatpenakita.id
#Facebook:  much.khoiri.90
#Instagram-1: @much.khoiri

#Instagram-2: @emcho_bookstore
*Tulisan di atas diambil dari buku Much. Khoiri “Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku” (Pagan Press, Lamongan, 2017), halaman 2-7.
**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789


Monday, April 20, 2020

MENULIS, MEMBANGUN BUDAYA LITERASI, Sebuah Kata Pengantar

Sumber gambar: Dok Pribadi

Oleh Much. Khoiri

Dunia literasi di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang semakin pesat, setidaknya terdapat praktik-praktik literasi yang dinamis terjadi di lingkungan sekolah. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu pokok muatan kurikulum pendidikan memberikan andil besar. Sinergitas dari berbagai pihak juga menggerakkan arus  literasi ke segala pelosok. Memang harus diakui bahwa menggalakkan literasi menjadi budaya butuh serangkaian perjuangan yang tidak ringan. Masih ada jalan panjang terbentang.
Pada saat kita membangun budaya literasi di segala lini secara bersamaan, masyarakat kita dikelilingi berbagai konten melalui media online dan media sosial. Akibatnya, ada kegagapan di antara sebagian besar masyarakat dalam memaknai gerakan (budaya) literasi. Pelajar dan guru pun mengonsumsi karya literasi melalui media online dan media sosial secara parsial. Akibatnya, karya tulis di media online yang tidak jelas sumbernya dianggap sebagai sumber kebenaran.
Sementara itu, tak dimungkiri, gerakan (budaya) literasi merupakan kebutuhan dan tuntutan yang mendesak untuk membangun dan meningkatkan martabat bangsa. Untuk itulah, gerakan kultural ini perlu dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan guna menebarkan virus literasi.
Pada praksis pendidikan, menggerakkan budaya literasi merupakan langkah strategis. Ada berbagai pihak yang akhirnya terlibat langsung jika dimulai dari sekolah, yakni siswa, guru, orangtua, dan masyarakat. Gerakan literasi sekolah yang dimulai dengan membaca 15 menit sebelum pelajaran harus bergerak ke kemampuan literasi yang menghasilkan karya.
Dengankalimat lain, gerakan literasi perlu melewati tiga tahap yang dasariah, yakni pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Membaca 15 menit hanyalah gong awal kegiatan pembiasan, yang harus dilanjutkan dengan pengembangan dan pembelajaran. Pada tahap terakhir ini, hasil karya layak diharapkan dari para pembelajar literasi. Inilah tantangan yang harus dijawab secara nyata.
Guru sebagai katalisator harus memiliki inisiatif untuk menjadi role model (teladan) dalam literasi. Keteladanan itu jauh lebih berkekuatan daripada sekadar perintah atau larangan lisan. Mereka tidak hanya sebagai pengatur jadwal membaca, melainkan juga harus tergerak untuk menghasilkan karya tulis. Sebab, dengan karya yang dihasilkan, guru dapat menjadi inspirasi bagi murid.
Sayangnya, banyak guru yang identik dengan kegiatan tulis menulis, faktanya, masih berkesulitan dalam menghasilkan karya tulis berupa artikel, penelitian ilmiah, dan buku. Tuntutan karya tulis pada jenjang karir dan kepangkatan semakin dirasakan menjadi beban oleh sebagian besar guru. Sudah sangat banyak fakta guru kesulitan tidak mudah naik pangkat karena ketiadaan karya tulis.
Padahal keterampilan menulis bisa dipelajari dan dikuasai oleh siapa saja, lebih-lebih oleh profesi guru. Yang dibutuhkan hanyalah ketekunan untuk berlatih secara konsisten. Keterampilan perlu banyak praktik dan latihan, bukan semata pengetahuan teoretik. Cukup banyak guru yang berhasil. Mereka sebelumnya tidak mahir dalam menulis tapi akhirnya bisa menghasilkan karya berupa buku setelah tekun berlatih secara konsisten.
Maka, para sahabat guru yang belum mampu dan mahir menulis disarankan untuk mengikuti jejak-jejak guru yang telah menulis buku. Ada baiknya guru mengikuti pelatihan menulis, dan kemudian mempraktikkannya--yakni menulis, menulis, dan terus menulis guna menghasilkan karya yang hebat. Pratice makes all things perfect, praktik dan latihan membuat segala sesuatu sempurna. Sekali lagi, tekun berlatih itu kunci penting.
Salah satu bukti ketekunan itu adalah buku Cara Mudah Menulis Kreatif, Reportase 350 Kata yang Anda pegang ini. Berkat ketekunan dalam menulis, akhirnya berbagai tulisan dalam rubrik 'Citizen Reporter' bisa dihimpun menjadi buku. Di dalamnya tersimpan mutiara semangat, komitmen, kerja keras, dan harapan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan bagi sesama.
Akhirnya, saya berharap, setiap tulisan dalam buku akan menemukan takdirnya sendiri, untuk berkembang dan dikembangkan menjadi tulisan-tulisan berikutnya. Semoga hadirnya buku ini memantik semangat dan inspirasi untuk terus berkarya bagi siapa saja yang membacanya.  Salam literasi!*

#Dosen Unesa, penggerak literasi
#Trainer, editor, penulis 42 buku
#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com
#Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id
#Website-1: jalindo.net
#Website-2:  sahabatpenakita.id
#Facebook:  much.khoiri.90
#Instagram-1: @much.khoiri

#Instagram-2: @emcho_bookstore
*Artikel ini adalah kata pengantar buku Abdul Majid Hariadi berjudul Cara Mudah Menulis Kreatif, Reportase 350 Kata” (Yogyakarta, Diva Press, 2018). Terima kasih disampaikan kepada para penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789



Sunday, April 19, 2020

Prakata “Mata Kata: Dari Literasi Diri”

Sumber gambar: Kover Dok. Pribadi

Oleh Much. Khoiri
SELAMAT DATANG di buku ini yang menyajikan berbagai catatan pemikiran dan refleksi saya berdasarkan hasil amatan dan penghayatan dari waktu ke waktu, terkait dengan dunia literasi dan khususnya dunia menulis. Darinya Anda bebas untuk memetik hikmah dan inspirasi entah dari sisi mana saja. Ibarat proses transaksi jual beli, sayalah penjual dan Anda pembelinya.
Sejalan dengan Robert Louis Stevenson dalam buku Donny Herdianto Creative Selling Everyday (2016), “Everyone lives by selling something”—setiap orang hidup dengan menjual sesuatu. Setiap orang, tanpa kecuali, tak bisa terlepas dari peristiwa transaksi jual-beli “sesuatu” ini. “Setiap orang” bisa meliputi saya dan Anda, dan “sesuatu” bisa mencakup objek yang begitu luas, termasuk gagasan (karya tulis). 
Ya, menulis itu ibaratnya juga menjual, writing is selling—persisnya menjual gagasan lewat tulisan. Sementara itu, reading is buying, membaca itu membeli gagasan. Dalam buku ini komoditas yang saya jual adalah gagasan-gagasan pemikiran dan refleksi dengan kemasan struktur dan bahasanya. Seberapa tertarik dengan makna yang dikandungnya, Anda yang menentukan. Jika Anda tertarik dan memetik gagasan saya, di situlah Andalah telah membelinya.
Meski demikian, pengemasan “komoditas” buku ini hanya upaya kecil saya untuk menghimpun tulisan saya yang berserakan di media cetak dan online (blog). Itulah tulisan-tulisan yang saya hasilkan  (hampir) setiap hari—yakni setiap pukul 03.00 hingga subuh menyapa. Bagi saya menulis setiap hari adalah kewajiban yang harus ditunaikan dengan rasa gembira dan ikhlas. Mengemasnya menjadi buku juga terasa nikmatnya.
Mengingat tulisan-tulisan yang ada semula tidak khusus dimaksudkan untuk menyusun buku, maka keberagaman topik tulisan dalam buku ini tampak di sana-sini, baik tentang dunia literasi maupun dunia menulis. Karena itu, buku ini bisa diibaratkan sebagai hasil tenunan berbagai warna benang untuk mendapatkan kain yang indah dan harmonis. Jangan tertarik dulu, tunggu hingga membaca prakata ini dengan tuntas.
Sekarang, mengapa saya menentukan judul buku ini dengan "Mata Kata: Dari Literasi Diri"? Ada alasan mendasar untuk itu. Pertama, artikel-artikel dalam buku ini memang merupakan saksi nyata bagi pemikiran dan praktik literasi saya sendiri, bukan orang lain. Frase “dari literasi diri” memang dimaksudkan untuk sebuah pengakuan dan penegasan. Sebagian berbincang tentang praktik-praktik literasi yang saya hayati; sebagian lagi tentang menulis, dunia yang saya tekuni selama ini.
Saya menyadari bahwa apapun yang saya angankan dan pikirkan akan lenyap, apapun yang saya katakan akan terlupakan, dan apapun yang saya lakukan tak akan berbekas—kecuali dituliskan. Dengan menuliskan pemikiran dan praktik literasi, saya mencoba mengabadikan apa yang seharusnya saya abadikan. Kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selagi ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Kedua, saya yakin, hakikatnya kata itu memiliki mata, sebab kata selalu hidup dan dinamis. Dalam dunia seorang subjek, mata mampu  melihat objek di mana ia akan menemukan maknanya secara lebih lengkap. Satu kata akan menjadi frase jika bertemu satu atau kebih kata lain. Ia juga akan bertemu kata-kata lain untuk membentuk klausa, kalimat, paragraf, esai, paper, dan karya yang lebih kompleks.
Di mata penulis kata benar-benar hidup. Kata digunakan untuk menangkap dan memproduksi makna ke dalam wacana yang bisa dipahami orang lain. Semakin tajam naluri penulis dalam menggunakan perbendaharaan kata, maka semakin kerap kata memainkan perannya. Sebaliknya, semakin miskin perbendaharaan kata, maka semakin monoton dan kering wacana yang dihasilkannya.
Pada sisi lain, semakin kaya penulis dalam perbendaharaan kata, semakin mudah pula penulis itu menghadirkan makna bagi pembaca. Setiap ide yang berseliweran di dalam akalnya mendapatkan simbolnya berupa kata-kata, sehingga maksudnya bisa ditransfer ke atas kertas secepat ia memikirkannya. Ada yang menganggap, menulis itu berpikir di atas kertas.
Maka, cintailah kata—dan kata akan mencintaimu, begitu ungkapan Gol A Gong, penulis prolifik dengan 128 judul buku. Ungkapan itu menyiratkan, jika kita banyak belajar untuk menambah perbendaharaan kata, maka saat menulis kita akan lebih mudah memilih diksi yang representatif bagi gagasan kita. Dalam konteks demikian, mata kata kita tajam dan berwibawa serta cerdas dalam mewakili kita mengamati, mengevaluasi, dan menyuarakan maksud kita. 
Sebaliknya, jika kita malas membaca dan memperkaya perbendaharaan kata, kita tunggu saja “pembalasan” kata. Kita akan berkesulitan menemukan kata tertentu hanya untuk mengungkap sesuatu maksud. Akibatnya, kemacetan menulis melanda kita. Maka benar adanya bahwa bacaan bagus akan menghasilkan karya bagus, sedangkan bacaan kurang bagus akan menghasilkan karya bobrok.
Mudah-mudahan buku sederhana ini menemukan surga dan galeri kreatifnya di hati pembaca yang budiman. Diharapkan ia membaca bathin pembaca sekalian, dan menginspirasinya untuk menghasilkan karya yang jauh lebih  baik. Jika hal ini tercapai, di situlah tanaman ilmu atau pengetahuan menghasilkan bunga dan buah-buahnya.*

Surabaya, 3 Januari 2017
#Dosen Unesa, penggerak literasi
#Trainer, editor, penulis 42 buku
#Blog-1: muchkhoiriunesa.blogspot.com
#Blog-2: muchkhoiri.gurusiana.id
#Website-1: jalindo.net
#Website-2:  sahabatpenakita.id
#Facebook:  much.khoiri.90
#Instagram-1: @much.khoiri
#Instagram-2: @emcho_bookstore


*Tulisan di atas diambil dari buku Much. Khoiri “Mata Kata: Dari Literasi Diri” (Pagan Press, Lamongan, 2017), halaman v-viii.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts