 |
Sumber gambar: Dok Pribadi
|
Oleh: Much. Khoiri
Adalah Horace,
filosof Yunani kuno, yang meyakini bahwa karya sastra diciptakan manusia dengan
tujuan ganda, yakni mengajarkan suatu pelajaran moral dan sekaligus menghibur
pembaca (audiens). Dia merangkum gagasannya itu ke dalam frase Latin “dulce et
utile” yang artinya manis (sweet) dan
bermanfaat (useful). Baginya, karya
sastra yang baik adalah sastra yang mendidik dan sekaligus menghibur.
Konsep “dulce
et utile” itu telah diadopsi oleh dunia sastra, termasuk Inggris, selama
beberapa generasi. Artinya, banyak orang sepakat dengan Horace. Meski para
Modernis dan Postmodernis pernah menolak Horace, dengan menegaskan bahwa tujuan
karya seni adalah semata mencipta atau menghibur audiens, sebagaimana genesis
Teater Absurd yang diasosiasikan ke Harold Pinter dan kawan-kawan, toh konsep
Horace masih tetap diakui dan berlaku sampai sekarang.
Ada yang
mengidentikkan “dulce” dengan “entertainment” (hiburan), sedangkan “utile”
dengan “understanding” (pemahaman). Karya sastra dipandang sebagai karya yang
menghibur pembaca atau audiens, dan sekaligus memberikan pemahaman akan hakikat
hidup dan kehidupan. Dalam konteks ini, karya sastra tidaklah bebas nilai,
karena ia bertugas mendidik (moral) masyarakat, dan bermanfaat bagi masyarakat
untuk memahami hidup dan kehidupan, secara menyenangkan.
Pada aras
demikianlah himpunan cerpen dalam buku ini mengambil posisi. Entah disadari
atau tidak, cerpen-cerpen dalam buku ini sebenarnya dihadirkan untuk berbagi
gagasan, pengalaman, imajinasi, moralitas, dan sebagainya dengan cara
menyenangkan atau menghibur. Cerpen merupakan sarana untuk berbagi kebenaran
dan kebaikan tanpa menggurui. “Menjadi kewajiban kita untuk selalu mensyiarkan
nilai-nilai kebaikan melalui karya tulis sebagai pegangan berkehidupan,”
demikian bunyi kutipan dalam Prakata buku ini.
Dalam buku ini
pembaca dapat menemukan berbagai hikmah dan pelajaran secara menyenangkan dan
tanpa tekanan (dogma, doktrin) tertentu. Pembaca diajak untuk memahami makna
cinta yang luas, harapan bagi generasi penerus, serta nilai-nilai luhur yang
masih dipegang teguh dalam masyarakat. Bahkan, pembaca diajak untuk melakukan
refleksi secara mendalam tentang nasib generasi mendatang.
Pembaca diajak
memahami aneka hikmah hidup dalam cerpen-cerpen yang ada: “Impian”,
“Kehilangan”, “Pesan Mama”, “Adab Istimewa”, “Belajar Bahasa Arab Semudah Senyum”,
“Belajar Sabar dari Arin”, “Dilema saat Liburan”, “Daniar dan Ken”, “Matahari
di Atas Surau”, “Mbah Laning Pun Update Status”, “Atap Kasih Ajeng”, “Seragam
dari Bapak”, “Supriku Sayang”, “Tanteku Cerewet”, “Bubur Asmara”, “Mengejar Kereta
Malam”, “Lorong Sunyi”, “Kekuatan Cinta”, “Jejak Langkah Pengabdian”, dan “Jaran
Dawuk.”
Meski
demikian, di sini saya tidak secara khusus membahas kualitas cerpen-cerpen
dalam buku ini. Sebaliknya, saya lebih suka mengapresiasi para penulis buku. Mereka
adalah para guru, tepatnya guru penulis, yang tergabung dalam Ikatan Guru
Penulis Tuban (IGPT). Di samping bertugas sebagai pengajar dan pendidik, mereka
pun terlibat di dalam pembudayaan literasi di lembaganya. Menyukseskan
pembudayaan literasi adalah tugas dan tanggung-jawabnya pula. Dalam konteks
ini, para penulis buku ini sedikit guru yang mewujudkan praktik literasi. Mereka
berbagi yang menyenangkan.
Dengan
kalimat lain, guru penulis “yang langka” ini hendak menunjukkan bahwa
keteladanan itu penting dalam pembudayaan literasi. Guru harus lebih dulu
membiasakan banyak membaca (dalam arti luas) sebelum menganjurkan orang lain
(terutama siswa) untuk membaca. Guru juga harus menulis (buku) sebelum
menganjurkan atau mengajak orang lain untuk menulis buku. Dengan keteladanan,
mereka berhak untuk diikuti.
Makna
keteladanan semacam itu tercermin dari bagaimana harapan yang disampirkan oleh
para guru penulis kepada para pembaca. Dalam
pengantar Ikatan Guru Penulis Tuban, samar-samar kita menangkap harapannya agar
pembaca terbakar semangatnya, tersulut inspirasinya, dan kemudian mengikuti
jejak langkahnya menulis buku yang bakal tak lekang oleh waktu.
Bagaimanapun,
pembaca yang dapat mengikuti jejak penulis adalah mereka yang terbakar sumbu
semangatnya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang telah ditangkapnya. Mereka pun sadar bahwa selain mengembangkan
ilmu dan pengetahuan, “menulis itu, adalah bekerja untuk keabadian,” kata
Pramoedya Ananta Toer. Betapa mulianya kedudukan penulis.
Akhirnya, selamat
membaca buku ini dengan segenap hati dan penghayatan. Mudah-mudahan pembaca
sekalian mampu memetik hikmah dan inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca mengikuti
keteladanan yang ada. Mudah-mudahan pula pembaca sungguh ditakdirkan menjadi
penyambung kontinuitas peradaban.[]
*Artikel ini adalah
kata pengantar untuk buku Sriyatni dkk. berjudul “Goresan
Cinta Sang Dwija" (Jakarta, MediaGuru Digital Indonesia, 2020). Terima
kasih disampaikan kepada para penulis buku dan penerbit. *Pesan buku, hubungi
HP/WA: 081331450689 / 081233838789