Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Wednesday, October 28, 2020

KANGEN JAGUNG REBUS

Oleh Much. Khoiri

Sumber gambar: https://www.harapanrakyat.com/
2019/10/manfaat-jagung-manis/

Kangen jagung itu persis menggodaku petang ini, seperti halnya dua pekan silam, aku juga membeli jagung ke penjual yang sama. Matanya berbinar-binar, dan selalu tergopoh-gopoh menyambutku. “Duapuluh ribu saja, Pak,” kataku. Dia memilihkan enam biji jagung rebus, dan berterima kasih dengan santun. Dalam hitungan detik, sekresek jagung rebus itu sudah berpindah tangan. Dan sekarang, petang ini, kami melahapnya.

Subhanallah, betapa sederhananya hidup ini—jika disyukuri dengan hati yang sareh penuh syukur. Jagung rebus sebiji atau dua saja sudah amat mengenyangkan perut. Non-kolesterol pula—jauh lebih sehat daripada fastfood atau makanan ala resto asing modern di mal-mal. Sementara itu, di luar sana masih banyak saudara kita yang masih kelaparan, atau belum makan seharian. Sungguh, aku tahu maknanya lapar karena memang pernah mengalaminya di musim paceklik, berkali-kali.

Hal ini menyadarkan bahwa hidup tidak perlu rakus alias serakah. Bekerja keras dan cerdas ya, tapi jangan serakah. Berupaya maksimal itu harus, tapi jangan rakus. Mengapa? Karena yang kita butuhkan sebenarnya hanya sedikit dari yang kita kejar-kejar sampai lupa segalanya, termasuk kadang lupa saudara sendiri. Petang ini saya hanya butuh jagung rebus, dan ternyata cukuplah sudah. Murah sekali, hanya duapuluh ribu rupiah!

Aku tak tahu persis apakah orang-orang yang berpenghasilan jutaan atau milyaran per jam atau per hari juga sama puasnya dengan aku kalau makan jagung rebus? Aku hanya tahu bahwa tubuh manusia itu relatif sama, membutuhkan asupan makanan yang relatif sama—meski sumber dan jenisnya berbeda. Aku juga tahu, manusia seharusnya makan sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Hanya saja, apakah mereka sadar bahwa jagung rebus itu lebih sehat dari pada pizza daging?

Keinginan memang tidak ada habisnya, berbeda dengan kebutuhan. Keinginan tak akan mungkin dibatasi oleh horizon langit, bahkan oleh batas-batas semesta ini, termasuk batas ruang dan waktu. Namun, kebutuhan bisa dibatasi oleh rasa puas dan rasa syukur atas anugerah yang manusia terima bahwa sebelum jadi orang, manusia terlahir telanjang tak punya apa-apa.

Nah, aku di sini bersama jagung rebus. Ternyata jagung rebus pun membukakan pintu hikmah bersyukur. Kita diingatkan dalam QS. Ar-Rahman berkali-kali, “Fabiayyi âlâ'i Rabbikumâ tukadzdzi bân. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Sungguh, Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan).*

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya.


Tuesday, October 27, 2020

MENULIS BUKU, BERKEMBANG BERSAMA TULISAN: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

SESUNGGUHNYA bersama kesulitan ada kemudahan. Sepenggal firman Allah itu sengaja saya kemukakan di sini, guna memperteguh keyakinan kita akan pesan terdalam dari ayat tersebut. Seberapa sulitnya urusan atau masalah yang kita hadapi, pastilah ada solusi, jalan keluar, kemudahan—tentu bagi kita yang mengimaninya dan berusaha keras untuk mengatasi kesulitan itu.

Pandemi covid-19 hadir di antara kita, bahkan menjadi ujian untuk kita semua. Pada sisi tertentu, ia dipandang sebagai kesulitan, mengingat ada perubahan besar dalam tata kehidupan yang harus disesuaikan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan, ada perubahan mendasar dalam pembelajaran, yakni diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan aneka konsekwensinya.

Namun, para guru SMPN 13 Surabaya yakin bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, mau tak mau mereka harus mendisrupsi diri dan sekaligus melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran, baik materi, metode, media, maupun asesmen. Semua menjadi pengalaman mahal bagi para guru. Saking mahalnya, pengalaman itu urgen untuk diabadikan ke dalam tulisan. Buku ini adalah bukti nyata para guru mengabdikan pengalaman PJJ selama pandemi ke dalam tulisan.

Demikianlah pesan pertama yang hendak disampaikan dalam buku ini. Meski kesulitan menghantui PJJ, beberapa penulis dalam buku ini mampu menyulap kesulitan itu sebagai tantangan untuk menulis. Mereka berhasil menjawab tantangan itu dengan karya nyata—berupa tulisan yang amat mungkin dibaca publik, lalu menginspirasi dan dikembangkan menjadi berbagai tulisan, yang intesitasnya tak terduga.

Pesan lainnya, meski hanya beberapa saja, mereka berhasil menambah jumlah guru penulis di negeri tercinta ini. Itu sebuah prestasi yang tak dapat diabaikan. Di tengah kebutuhan buku yang tinggi, kehadiran guru penulis dalam buku ini ibaratnya angin segar yang berhembus di tengah layunya dunia perbukuan. Bahkan, jika mereka ingin meniti profesi tambahan sebagai penulis buku, inilah saatnya mereka untuk memulainya. Dan buku ini adalah tonggak momentum yang terbaik!   

Dalam hal ini, marilah buka kartu! Menurut data statistik nasional, pada 2020 angka melek huruf telah mencapai 98% dari sekitar 268 juta jiwa penduduk Indonesia. Semestinya ini merupakan ladang penerbitan buku sangat subur. Sayangnya, profesi penulis sering dipandang sebelah mata karena kurang menjanjikan penghasilan yang layak, terlebih adanya miskonsepsi tentang kegiatan menulis buku yang kurang memberikan manfaat bagi perkembangan perbukuan di Indonesia.

Mari bandingkan perbukuan di Amerika dan Indonesia. Di Amerika Serikat sejak tahun 2018 telah terbit 75 ribu buku; di Indonesia hanya 10% dari buku terbit di Amerika, bahkan dapat lebih kecil lagi. Padahal dari segi jumlah penduduknya, tahun 2020 penduduk Amerika 330 juta jiwa dan Indonesia 268 juta jiwa. Inilah saatnya kita seharusnya belajar banyak tentang penerbitan buku ini.

Tentu saja ada variabel lain yang menjadi penyebab perbedaan penerbitan buku antara Amerika dan Indonesia, antara lain rendahnya daya beli buku dan budaya membaca masyarakat kita. Dua variabel penting inilah yang justru harus kita perhatikan untuk digarap secara sungguh-sungguh. Karena itu, hadirnya buku-buku karya guru tampaknya akan membantu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain itu, hingga saat ini masih ada miskonsepsi mengenai profesi menulis buku. Banyak yang berpandangan bahwa menulis buku adalah pekerjaan yang sulit sekali, memerlukan waktu yang banyak, perlu serius dan memerlukan bakat yang luar biasa untuk buku-buku (genre tertentu). Bahkan ada mitos bahwa menulis buku adalah pekerjaan orang orang yang superkreatif dan para petualang. Semua ini kadang dianggap sebagai mitos-mitos.

Pemerintah memang telah memasukkan program literasi ke dalam kurikulum pendidikan dengan harapan program ini mampu menumbuhkan minat baca bagi masyarakat Indonesia, dan berharap pula bahwa kegiatan membaca nantinya dapat menjadi budaya yang ditumbuhkan mulai dari sekolah-sekolah di Indonesia. Diharapkan pula, program literasi mampu menumbuhkan generasi yang mampu dan hobi membaca serta menulis buku.

Dalam konteks demikian, penting kiranya untuk mengapresiasi para guru penulis yang telah berjuang keras dalam menyusun buku ini. Mereka telah mengalahkan mitos-mitos dalam menulis. Bahkan mereka telah menjadi teladan untuk diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, serta berkembang bersama tulisan.  Mudah-mudahan budaya literasi membaca dan menulis di Indonesia segera berkembang pesat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.[]

Surabaya, 21 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

 

Monday, October 19, 2020

MENULIS BUKU, BERKEMBANG BERSAMA TULISAN: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

SESUNGGUHNYA bersama kesulitan ada kemudahan. Sepenggal firman Allah itu sengaja saya kemukakan di sini, guna memperteguh keyakinan kita akan pesan terdalam dari ayat tersebut. Seberapa sulitnya urusan atau masalah yang kita hadapi, pastilah ada solusi, jalan keluar, kemudahan—tentu bagi kita yang mengimaninya dan berusaha keras untuk mengatasi kesulitan itu.

Pandemi covid-19 hadir di antara kita, bahkan menjadi ujian untuk kita semua. Pada sisi tertentu, ia dipandang sebagai kesulitan, mengingat ada perubahan besar dalam tata kehidupan yang harus disesuaikan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan, ada perubahan mendasar dalam pembelajaran, yakni diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan aneka konsekwensinya.

Namun, para guru SMPN 13 Surabaya yakin bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, mau tak mau mereka harus mendisrupsi diri dan sekaligus melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran, baik materi, metode, media, maupun asesmen. Semua menjadi pengalaman mahal bagi para guru. Saking mahalnya, pengalaman itu urgen untuk diabadikan ke dalam tulisan. Buku ini adalah bukti nyata para guru mengabdikan pengalaman PJJ selama pandemic ke dalam tulisan.

Demikianlah pesan pertama yang hendak disampaikan dalam buku ini. Meski kesulitan menghantui PJJ, beberapa penulis dalam buku ini mampu menyulap kesulitan itu sebagai tantangan untuk menulis. Mereka berhasil menjawab tantangan itu dengan karya nyata—berupa tulisan yang amat mungkin dibaca publik, lalu menginspirasi dan dikembangkan menjadi berbagai tulisan, yang intesitasnya tak terduga.

Pesan lainnya, meski hanya beberapa saja, mereka berhasil menambah jumlah guru penulis di negeri tercinta ini. Itu sebuah prestasi yang tak dapat diabaikan. Di tengah kebutuhan buku yang tinggi, kehadiran guru penulis dalam buku ini ibaratnya angin segar yang berhembus di tengah layunya dunia perbukuan. Bahkan, jika mereka ingin meniti profesi tambahan sebagai penulis buku, inilah saatnya mereka untuk memulainya. Dan buku ini adalah tonggak momentum yang terbaik!   

Dalam hal ini, marilah buka kartu! Menurut data statistik nasional, pada 2020 angka melek huruf telah mencapai 98% dari sekitar 268 juta jiwa penduduk Indonesia. Semestinya ini merupakan ladang penerbitan buku sangat subur. Sayangnya, profesi penulis sering dipandang sebelah mata karena kurang menjanjikan penghasilan yang layak, terlebih adanya miskonsepsi tentang kegiatan menulis buku yang kurang memberikan manfaat bagi perkembangan perbukuan di Indonesia.

Mari bandingkan perbukuan di Amerika dan Indonesia. Di Amerika Serikat sejak tahun 2018 telah terbit 75 ribu buku; di Indonesia hanya 10% dari buku terbit di Amerika, bahkan dapat lebih kecil lagi. Padahal dari segi jumlah penduduknya, tahun 2020 penduduk Amerika 330 juta jiwa dan Indonesia 268 juta jiwa. Inilah saatnya kita seharusnya belajar banyak tentang penerbitan buku ini.

Tentu saja ada variabel lain yang menjadi penyebab perbedaan penerbitan buku antara Amerika dan Indonesia, antara lain rendahnya daya beli buku dan budaya membaca masyarakat kita. Dua variabel penting inilah yang justru harus kita perhatikan untuk digarap secara sungguh-sungguh. Karena itu, hadirnya buku-buku karya guru tampaknya akan membantu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain itu, hingga saat ini masih ada miskonsepsi mengenai profesi menulis buku. Banyak yang berpandangan bahwa menulis buku adalah pekerjaan yang sulit sekali, memerlukan waktu yang banyak, perlu serius dan memerlukan bakat yang luar biasa untuk buku-buku (genre tertentu). Bahkan ada mitos bahwa menulis buku adalah pekerjaan orang orang yang superkreatif dan para petualang. Semua ini kadang dianggap sebagai mitos-mitos.

Pemerintah memang telah memasukkan program literasi ke dalam kurikulum pendidikan dengan harapan program ini mampu menumbuhkan minat baca bagi masyarakat Indonesia, dan berharap pula bahwa kegiatan membaca nantinya dapat menjadi budaya yang ditumbuhkan mulai dari sekolah-sekolah di Indonesia. Diharapkan pula, program literasi mampu menumbuhkan generasi yang mampu dan hobi membaca serta menulis buku.

Dalam konteks demikian, penting kiranya untuk mengapresiasi para guru penulis yang telah berjuang keras dalam menyusun buku ini. Mereka telah mengalahkan mitos-mitos dalam menulis. Bahkan mereka telah menjadi teladan untuk diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, serta berkembang bersama tulisan.  Mudah-mudahan budaya literasi membaca dan menulis di Indonesia segera berkembang pesat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.[]

Surabaya, 21 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

 


Tuesday, October 13, 2020

TIGA BUKU VIRUS EMCHO

Sumber Gambar: Dokumen pribadi
Oleh Much. Khoiri 

Hingga kini sudah ada tiga buku virus Emcho, yakni buku yang saya susun dari tulisan-tulisan para sahabat tentang diri saya dan buku-buku saya selama ini. Ada tulisan berupa resensi, ada yang feature, ada catatan khusus--baik terpublikasikan di blog, website, grup-grup WA, atau dikirimkan langsung ke saya.

Tiga buku virus Emcho itu adalah (1) Much. Khoiri dalam 38 Wacana (2016), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (2018), dan Virus Emcho: Melintas Batas Ruang Waktu (2020). Satu hal jelas, saya tidak pernah memesan, apalagi mendikte, apa isi yang dituangkan ke dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka menulis sesuai kehendak mereka sendiri. Saya hanya menerima tulisan jadi dari mereka, untuk kemudian saya bukukan.

Mengapa virus Emcho? Baik terang-terangan maupun malu-malu atau tersembunyi, para sahabat penulis di dalam buku-buku tersebut mengakui telah terinspirasi oleh saya atau buku-buku saya. Ibaratnya, mereka telah ketularan virus literasi saya (sebutan untuk saya, Much. Khoiri, yang semula dianggap mereka dari Much. Choiri untuk disingkat menjadi EmCho). Virus Emcho telah menyemangati mereka untuk berkarya.

Waktu berlalu. Adakah akan hadir buku virus Emcho selanjutnya? Hingga kini sudah ada sejumlah artikel yang masuk, namun tentu belum cukup untuk disusun menjadi sebuah buku. Bagi para sahabat penulis yang tulisannya belum dimuat ke dalam buku virus Emcho, ada semacam keinginan mendalam untuk bisa menitipkan tulisan mereka ke dalam buku saya. Mana tahan saya?

Waktu yang indah itu belumlah tiba. Meski demikian, saya bahagia, setidaknya semua itu membuat saya bisa mengerti bagaimana pandangan para sahabat tentang diri dan buku saya. Itu bahan evaluasi dan refleksi yang sangat berharga untuk memperbaiki kualitas tulisan saya ke depan. Bahkan mereka laksana guru baru yang mengajarkan kebaikan untuk saya.

Hanya saja, ada seorang teman dekat yang bilang: "Buku-buku itu pantes sebagai minibiografi njenengan. Dengan begitu, suatu saat, jika ada orang ingin mengenal njenengan lebih dekat, cukuplah membaca buku-buku virus Emcho tersebut." Mak-deg! "Oalah masak toh?" tanya batin saya. Masih ada waktu yang membantu menjawabnya.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Friday, October 9, 2020

MENULIS FRAGMEN NARASI, BERBAGI LITERASI DIRI: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

Ketika kita menyimak kisah sukses Bill Gates atau Jack Ma, kita sejatinya hanya menyimak fragmen hidup mereka yang dinarasikan. Mungkin lewat rekaman video yang di-youtube-kan, mungkin lewat tulisan yang dibukukan, mereka berbagi tentang bagaimana meraih kesuksesan dalam bisnis dan hidup.

Namun, ibarat drama, itu bukan sebuah lakon utuh, itu bukan narasi mereka seutuhnya, melainkan hanya fragmen alias penggalan narasi. Sebagai fragmen, hanya yang penting dan relevan sajalah yang hadir sebagai representasi pikiran dan pengalaman mereka.

Meski hanya berupa fragmen narasi mereka, tak sedikit dari kita yang terinspirasi untuk mengagumi dan mengikuti jejak mereka atau setidaknya melakukan apa yang mereka sarankan lewat narasi. Kita menemukan sesuatu yang membuat kita wajib melakukan perubahan tertentu menuju kondisi lebih baik.

Itulah kira-kira apa maksud yang hendak disampaikan dalam buku bertajuk “Fragmen Narasi Guru” ini. Dalam buku ini para guru menulis pengalaman dan hasil refleksi mereka sendiri, di tengah suasana pandemi yang amat mewarnai tugas mereka sebagai pendidik. Tak terlewat, ada hikmah, semangat, dan harapan yang ingin dibagikan kepada pembaca.

Buku ini memang tidak merajut keseluruhan isi tulisan fragmen narasi yang ada menjadi sebuah lembaran kain yang sewarna dan sebahan. Sebaliknya, ia merajut fragmen-fragmen berwarna-warni dengan judul yang tepat, sementara membiarkan pemaknaan atas teks laksana karya seni kain perca ini kepada pembaca.

Dengan kata lain, buku ini agaknya, tidak dimaksudkan untuk menggiring pembaca menuju pemaknaan tunggal dan monoton. Mengapa? Sangat diyakini bahwa pembaca adalah subjek aktif yang memiliki otoritas pemaknaan atas teks yang dihadapinya. Jadi, biarlah teks-teks tersebut yang berbicara, dan biarlah pembaca memaknainya dengan sendirinya.

Pada sisi lain, para penulis dalam buku ini, yakni para guru, menulis pengalaman mereka bukan tanpa alasan dan tujuan. Disadari atau tidak, mereka sedang dan telah meliterasi diri—mendidik diri menghayati literasi membaca dan menulis pengalaman dengan aneka ide dan gayanya. Dan itu bukan tindakan sepele, melainkan bisa jadi perjuangan yang tidak main-main.

Ada perjuangan yang harus dimenangkan, bukan hanya mengalahkan berbagai kesibukan yang menumpuk, melainkan juga harus keluar dari selongsong kemalasan yang telah menyelimuti sekian tahun lamanya. Menulis itu keluar dari zona nyaman, memasuki zona baru literasi diri.

Literasi diri harus dihayati sendiri oleh para penulis, tidak bisa diwakilkan, dalam rangka memantaskan diri sebagai figur teladan bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Jika mereka telah suka membaca dan menulis, tidak sulit bagi mereka untuk mengajak orang lain.

Mungkin mereka tidak sadar bahwa tulisan fragmen narasi mereka kelak menggugah pembaca untuk melakukan hal yang sama. Entah ini keajaiban atau peristiwa tansendental—yang jelas itu sesuatu yang absurd, hadir di luar nalar waras kita. Kita hanya yakin, bahwa setiap tulisan, sebagaimana perkataan, menemukan pembaca atau penikmatnya sendiri.

Pertanyaannya, apakah literasi diri yang dituliskan berupa fragmen narasi akan mempengaruhi alam pikiran dan tindakan pembaca? Waktulah yang akan membuktikannya. Namun, jauh di lubuk hati, para penulis pastilah berharap demikian. Setidaknya, kita yakin bahwa, ketika menulis, mereka sejatinya sedang bertindak sebagai “agen perubahan” dalam literasi.

Sebagai agen perubahan, selain mengkomunikasikan gagasan dan pengalaman, mereka juga menggantungkan harapan lewat pesan dalam fragmen narasi yang diteladankan. Mereka telah berani menulis, maka berani pulalah mereka mengajak pembaca untuk menulis. Mereka tidak “omdo” alias omong doang, melainkan membuktikannya lewat karya nyata.

Sejauh itu, tentu kita berharap buku ini akan menemukan nasib terbaiknya, yakni menjadi hikmah dan inspirasi yang terindah bagi pembaca untuk dikembangkan menjadi wacana atau tulisan yang baru. Jika hal ini terwujud, ekspektasi terpendam dari para penulis dalam buku ini terbayar lunas.[]

Driyorejo, 9 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Universitas Negeri Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan, Edisi Revisi” (2020).

Tuesday, October 6, 2020

MERAUP BERKAH, BERBAGI HIKMAH: Sebuah Kata Pengantar

Sumber gambar: Dokumen Penulis
Oleh Much. Khoiri

ALANGKAH lemahnya kita sebagai manusia. Ketika kita diuji dengan kesulitan atau ketidaknyamanan, rasanya hati ingin mengeluh, memprotes, bahkan memberontak—jauh dari rasa syukur. Terlebih tatkala kita dicerabut dari tempat yang sangat membahagiakan, rasanya kita ingin menangis dan mengutuk nasib—kadang ngrasani Tuhan mengapa ujian itu ditimpakan pada kita.

Pemberontakan semacam itu tentu bergejolak pada hari-hari tatkala ujian mulai dijalani. Kita belum tahu rahasia apa di balik semuanya. Hati kita masih terselimut amarah, belum menjadi tenang. Maka, waktu demi waktu, kita belajar memungut percik-percik makna di sana, dan dari situlah kita mulai memahami bahwa apa yang diujikan kepada kita hanyalah untuk meningkatkan kemuliaan. Emas dan mutiara akan kelihatan wujudnya setelah ditempa dan digosok. Ternyata, setelah waktu berlalu, ada berkah-berkah yang harus diraup dan bahkan layak dibagikan kepada sejawat.

Inilah yang agaknya hendak disampaikan oleh penulis buku ini, Sri Rahayu M.Pd. Dalam buku bertajuk “Meraup Berkah di Sekolah Baru” ini penulis memaparkan dengan indah (meski isinya bukan tentang hal-hal indah) pengalamannya menjadi guru mutasi: dari sekolah yang telah menyamannya selama 25 tahun ke sekolah baru. Semula dia melihatnya sebagai sesuatu yang berat, namun dengan man jadda wajada, dia menjadi kuat menapaki setiap langkah di tempat barunya.

Penulis buku ini telah berusaha mengubah stigma negatif tentang mutasi—bahwa mutasi itu berarti turun harga diri, bahwa mutasi itu berarti ada kesalahan yang dilakukan, bahwa mutasi itu diakali orang lain. Stigma negative itu harus diubah dan diluruskan. Yang benar, mutasi hanyalah peristiwa biasa, sunnatullah, dinamika, yang tak perlu ditangisi, melainkan perlu diterima sebagai wahana pengabdian yang baru.

Penulis mencurhatkan pengalamannya ke dalam lima-belas artikel (catatan harian yang ditambah dengan refleksi) dengan gaya bebas dan indah, kadang dibumbui ungkapan filosofis. Namun, maksud penulis dapat kita tangkap dengan baik dari gaya bahasa yang enak dari setiap tulisan yang ada. Flow of thought-nya enak diikuti, dan bahasanya lancar dan menjenakkan pembaca.

Justru dengan gaya bahasa semacam itu, agaknya, penulis ingin mendekat kepada pembaca, ingin berbagi, bukan menggurui. Untuk apa? Untuk mengabarkan betapa melimpahnya berkah yang dia raup dari penghayatan sebagai mutan di sekolah baru. Pada saat sama, dia juga ingin membagikan hikmah-hikmah yang dipetiknya kepada para pembaca agar semua itu menjadi pelajaran hidup yang penting.

Tentu, saya mengapresiasi keberanian penulis untuk menyusun dan menerbitkan buku ini. Tidak banyak guru yang berani mencurhatkan pengalaman kurang-enaknya kepada pembaca. Namun, saya menangkap, penulis justru wajib mengabarkan bahwa mutasi bukanlah hukuman, melainkan ujian yang justru akan menambah keberkahan.

Akhirnya, saya ucapkan selamat kepada penulis yang telah berhasil menerbitkan buku pertamanya. Ini capaian yang luar biasa—sesuatu yang telah diimpikannya sejak lama. Tentu saya berharap, buku ini bukanlah terminal akhir, melainkan terminal pertama dalam sebuah perjalanan panjang terdiri atas belasan atau puluhan terminal. Dan pada setiap terminal, dia berkabar tentang berkah dan berbagi hikmah.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (edisi revisi, 2020). 

 

Wednesday, September 30, 2020

TURNING POINT: BUKU SEBAGAI PRASASTI KEBERANIAN (Sebuah Kata Pengantar)

Sumber gambar: Dokumen penulis
Oleh Much. Khoiri

Untuk menulis secara ajeg (rutin, istikomah), orang perlu keberanian menaklukkan berbagai hambatan internal dan eksternal yang menghantuinya. Bahkan tak jarang serentetan godaan menghadang tatkala menulis berproses. Maka, menulis ajeg adalah bukti kemenangan yang mungkin perlu dirayakan. 

Terlebih, jika menulis buku, itu benar-benar melampaui kemenangan orang tersebut, melampaui kemenangannya dalam menaklukkan hambatan internal dan eksternal dalam menulis. Menulis buku itu satu tingkat lebih tinggi dari pada menulis tulisan non-buku secara ajeg. Bahkan, menulis buku menjadi bukti sah bagi statusnya sebagai penulis. Buku menjadi semacam kartu nama bagi penulis.

Demikianlah kira-kira gambaran singkat tentang penulis buku ini, Agung Sucipto. Sesuai Prakata yang disampaikan, dia bersyukur atas hadirnya keberaniaan untuk menerbitkan buku pertamanya ini: Turning Point. Baginya, butuh waktu tiga tahun untuk menunggu kesempatan (baca: momentum) penting itu: Berani menulis buku sendiri, apa pun bentuknya. Itu sesuatu yang telah dia impikan sejak bertahun silam.

Maka, keberanian menyusun buku itu dia tindaklanjuti dengan mengumpulkan tulisan-tulisan ringkasnya yang dia pasang di dinding Facebook pada setiap hari Jumat selama dua tahun terakhir. Tulisan-tulisan ringkas itu, dia yakini, layak untuk dibukukan—dan itulah pula sebabnya timbul keberanian untuk membukukannya. Mengapa? Dia yakin bahwa setiap tulisan menemukan pembacanya.

Pada sisi lain, dia telah menaklukkan kekhawatiran (anxiety) yang menghantaui kebanyakan orang yang seprofesi dengan penulis buku ini. Banyak guru yang khawatir atau bahkan takut untuk menulis dan menerbitkan buku, sebab mereka khawatir bahwa mereka tidak mampu menulis, dan bahwa tulisan mereka tidak layak dibaca publik. Itulah yang membelenggu kebanyakan guru dalam hal berkarya.

Penulis buku ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Surabaya. Profesinya sebagai guru pastilah membuatnya sangat sibuk dalam menunaikan tugas-tugasnya. Jika ada guru yang menyiasati aneka kesibukan, dan mau keluar dari zona nyaman serta mengobarkan keberanian untuk menyusun buku, itulah penulis buku ini. Dengan kata lain, buku ini menjadi prasasti keberanian penulisnya.

Dalam pengantar pendek ini saya tidak akan membahas tulisan-tulisan yang ada. Namun, saya lebih tertarik untuk membincang keteladanan penulis buku ini. Dalam dunia literasi keteladanan sangat penting maknanya. Dengan keteladanan, diseminasi literasi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat akan menemukan kemudahannya. Dan penulis buku ini telah menunjukkan keteladanan—yakni menyusun buku dari tulisan-tulisan Jumatnya selama ini, sesuatu yang mungkin menginspirasi para pembaca.

Dengan demikian, penulis buku ini termasuk salah satu manusia langka di antara guru-guru sejawatnya, sebab kebanyakan guru belum menulis buku. Bahkan, di antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Surabaya, guru penulis belumlah banyak jumlahnya. Penulis buku ini menambah daftar nama guru penulis yang langka tersebut.

Tentu saja, secara pribadi, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penulis buku ini atas keberanian untuk menerbitkan bukunya. Saya teringat pertama kali saya menerbitkan buku pertama kali pada tahun 2011, meski sesungguhnya saya telah menekuni menulis sejak 1986/1987. Sungguh, keberanian itu mahal harganya! Namun, ketika keberanian menemukan hasilnya, hadirlah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan.

Saya berharap, penulis buku ini terus merawat keberaniannya dalam menyusun buku, sehingga ke depan akan lahir buku-buku lain dari kreativitas dan sentuhan tangannya. Pada sisi lain, saya berharap keteladanan yang dia berikan menginspirasi para pembaca untuk membangkitkan keberanian mereka sendiri melakukan hal yang sama.

Akhirnya, untuk pembaca budiman, selamat membaca buku ini, dan selamat menemukan hikmah serta inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca budiman, selepas membaca buku ini, segera membangkitkan keberanian untuk segera menulis buku sendiri. Hanya dengan begitu, buku ini menemukan signifikansinya.[]

Driyorejo, 26/9/2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 42 buku dari Universitas Negeri Surabaya. Kata pengantar ini pendapat pribadi.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts