Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Monday, October 19, 2020

MENULIS BUKU, BERKEMBANG BERSAMA TULISAN: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

SESUNGGUHNYA bersama kesulitan ada kemudahan. Sepenggal firman Allah itu sengaja saya kemukakan di sini, guna memperteguh keyakinan kita akan pesan terdalam dari ayat tersebut. Seberapa sulitnya urusan atau masalah yang kita hadapi, pastilah ada solusi, jalan keluar, kemudahan—tentu bagi kita yang mengimaninya dan berusaha keras untuk mengatasi kesulitan itu.

Pandemi covid-19 hadir di antara kita, bahkan menjadi ujian untuk kita semua. Pada sisi tertentu, ia dipandang sebagai kesulitan, mengingat ada perubahan besar dalam tata kehidupan yang harus disesuaikan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan, ada perubahan mendasar dalam pembelajaran, yakni diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan aneka konsekwensinya.

Namun, para guru SMPN 13 Surabaya yakin bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, mau tak mau mereka harus mendisrupsi diri dan sekaligus melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran, baik materi, metode, media, maupun asesmen. Semua menjadi pengalaman mahal bagi para guru. Saking mahalnya, pengalaman itu urgen untuk diabadikan ke dalam tulisan. Buku ini adalah bukti nyata para guru mengabdikan pengalaman PJJ selama pandemic ke dalam tulisan.

Demikianlah pesan pertama yang hendak disampaikan dalam buku ini. Meski kesulitan menghantui PJJ, beberapa penulis dalam buku ini mampu menyulap kesulitan itu sebagai tantangan untuk menulis. Mereka berhasil menjawab tantangan itu dengan karya nyata—berupa tulisan yang amat mungkin dibaca publik, lalu menginspirasi dan dikembangkan menjadi berbagai tulisan, yang intesitasnya tak terduga.

Pesan lainnya, meski hanya beberapa saja, mereka berhasil menambah jumlah guru penulis di negeri tercinta ini. Itu sebuah prestasi yang tak dapat diabaikan. Di tengah kebutuhan buku yang tinggi, kehadiran guru penulis dalam buku ini ibaratnya angin segar yang berhembus di tengah layunya dunia perbukuan. Bahkan, jika mereka ingin meniti profesi tambahan sebagai penulis buku, inilah saatnya mereka untuk memulainya. Dan buku ini adalah tonggak momentum yang terbaik!   

Dalam hal ini, marilah buka kartu! Menurut data statistik nasional, pada 2020 angka melek huruf telah mencapai 98% dari sekitar 268 juta jiwa penduduk Indonesia. Semestinya ini merupakan ladang penerbitan buku sangat subur. Sayangnya, profesi penulis sering dipandang sebelah mata karena kurang menjanjikan penghasilan yang layak, terlebih adanya miskonsepsi tentang kegiatan menulis buku yang kurang memberikan manfaat bagi perkembangan perbukuan di Indonesia.

Mari bandingkan perbukuan di Amerika dan Indonesia. Di Amerika Serikat sejak tahun 2018 telah terbit 75 ribu buku; di Indonesia hanya 10% dari buku terbit di Amerika, bahkan dapat lebih kecil lagi. Padahal dari segi jumlah penduduknya, tahun 2020 penduduk Amerika 330 juta jiwa dan Indonesia 268 juta jiwa. Inilah saatnya kita seharusnya belajar banyak tentang penerbitan buku ini.

Tentu saja ada variabel lain yang menjadi penyebab perbedaan penerbitan buku antara Amerika dan Indonesia, antara lain rendahnya daya beli buku dan budaya membaca masyarakat kita. Dua variabel penting inilah yang justru harus kita perhatikan untuk digarap secara sungguh-sungguh. Karena itu, hadirnya buku-buku karya guru tampaknya akan membantu menyelesaikan masalah yang ada.

Selain itu, hingga saat ini masih ada miskonsepsi mengenai profesi menulis buku. Banyak yang berpandangan bahwa menulis buku adalah pekerjaan yang sulit sekali, memerlukan waktu yang banyak, perlu serius dan memerlukan bakat yang luar biasa untuk buku-buku (genre tertentu). Bahkan ada mitos bahwa menulis buku adalah pekerjaan orang orang yang superkreatif dan para petualang. Semua ini kadang dianggap sebagai mitos-mitos.

Pemerintah memang telah memasukkan program literasi ke dalam kurikulum pendidikan dengan harapan program ini mampu menumbuhkan minat baca bagi masyarakat Indonesia, dan berharap pula bahwa kegiatan membaca nantinya dapat menjadi budaya yang ditumbuhkan mulai dari sekolah-sekolah di Indonesia. Diharapkan pula, program literasi mampu menumbuhkan generasi yang mampu dan hobi membaca serta menulis buku.

Dalam konteks demikian, penting kiranya untuk mengapresiasi para guru penulis yang telah berjuang keras dalam menyusun buku ini. Mereka telah mengalahkan mitos-mitos dalam menulis. Bahkan mereka telah menjadi teladan untuk diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, serta berkembang bersama tulisan.  Mudah-mudahan budaya literasi membaca dan menulis di Indonesia segera berkembang pesat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.[]

Surabaya, 21 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

 


Tuesday, October 13, 2020

TIGA BUKU VIRUS EMCHO

Sumber Gambar: Dokumen pribadi
Oleh Much. Khoiri 

Hingga kini sudah ada tiga buku virus Emcho, yakni buku yang saya susun dari tulisan-tulisan para sahabat tentang diri saya dan buku-buku saya selama ini. Ada tulisan berupa resensi, ada yang feature, ada catatan khusus--baik terpublikasikan di blog, website, grup-grup WA, atau dikirimkan langsung ke saya.

Tiga buku virus Emcho itu adalah (1) Much. Khoiri dalam 38 Wacana (2016), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (2018), dan Virus Emcho: Melintas Batas Ruang Waktu (2020). Satu hal jelas, saya tidak pernah memesan, apalagi mendikte, apa isi yang dituangkan ke dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka menulis sesuai kehendak mereka sendiri. Saya hanya menerima tulisan jadi dari mereka, untuk kemudian saya bukukan.

Mengapa virus Emcho? Baik terang-terangan maupun malu-malu atau tersembunyi, para sahabat penulis di dalam buku-buku tersebut mengakui telah terinspirasi oleh saya atau buku-buku saya. Ibaratnya, mereka telah ketularan virus literasi saya (sebutan untuk saya, Much. Khoiri, yang semula dianggap mereka dari Much. Choiri untuk disingkat menjadi EmCho). Virus Emcho telah menyemangati mereka untuk berkarya.

Waktu berlalu. Adakah akan hadir buku virus Emcho selanjutnya? Hingga kini sudah ada sejumlah artikel yang masuk, namun tentu belum cukup untuk disusun menjadi sebuah buku. Bagi para sahabat penulis yang tulisannya belum dimuat ke dalam buku virus Emcho, ada semacam keinginan mendalam untuk bisa menitipkan tulisan mereka ke dalam buku saya. Mana tahan saya?

Waktu yang indah itu belumlah tiba. Meski demikian, saya bahagia, setidaknya semua itu membuat saya bisa mengerti bagaimana pandangan para sahabat tentang diri dan buku saya. Itu bahan evaluasi dan refleksi yang sangat berharga untuk memperbaiki kualitas tulisan saya ke depan. Bahkan mereka laksana guru baru yang mengajarkan kebaikan untuk saya.

Hanya saja, ada seorang teman dekat yang bilang: "Buku-buku itu pantes sebagai minibiografi njenengan. Dengan begitu, suatu saat, jika ada orang ingin mengenal njenengan lebih dekat, cukuplah membaca buku-buku virus Emcho tersebut." Mak-deg! "Oalah masak toh?" tanya batin saya. Masih ada waktu yang membantu menjawabnya.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Friday, October 9, 2020

MENULIS FRAGMEN NARASI, BERBAGI LITERASI DIRI: Sebuah Kata Pengantar

Oleh: Much. Khoiri 

Ketika kita menyimak kisah sukses Bill Gates atau Jack Ma, kita sejatinya hanya menyimak fragmen hidup mereka yang dinarasikan. Mungkin lewat rekaman video yang di-youtube-kan, mungkin lewat tulisan yang dibukukan, mereka berbagi tentang bagaimana meraih kesuksesan dalam bisnis dan hidup.

Namun, ibarat drama, itu bukan sebuah lakon utuh, itu bukan narasi mereka seutuhnya, melainkan hanya fragmen alias penggalan narasi. Sebagai fragmen, hanya yang penting dan relevan sajalah yang hadir sebagai representasi pikiran dan pengalaman mereka.

Meski hanya berupa fragmen narasi mereka, tak sedikit dari kita yang terinspirasi untuk mengagumi dan mengikuti jejak mereka atau setidaknya melakukan apa yang mereka sarankan lewat narasi. Kita menemukan sesuatu yang membuat kita wajib melakukan perubahan tertentu menuju kondisi lebih baik.

Itulah kira-kira apa maksud yang hendak disampaikan dalam buku bertajuk “Fragmen Narasi Guru” ini. Dalam buku ini para guru menulis pengalaman dan hasil refleksi mereka sendiri, di tengah suasana pandemi yang amat mewarnai tugas mereka sebagai pendidik. Tak terlewat, ada hikmah, semangat, dan harapan yang ingin dibagikan kepada pembaca.

Buku ini memang tidak merajut keseluruhan isi tulisan fragmen narasi yang ada menjadi sebuah lembaran kain yang sewarna dan sebahan. Sebaliknya, ia merajut fragmen-fragmen berwarna-warni dengan judul yang tepat, sementara membiarkan pemaknaan atas teks laksana karya seni kain perca ini kepada pembaca.

Dengan kata lain, buku ini agaknya, tidak dimaksudkan untuk menggiring pembaca menuju pemaknaan tunggal dan monoton. Mengapa? Sangat diyakini bahwa pembaca adalah subjek aktif yang memiliki otoritas pemaknaan atas teks yang dihadapinya. Jadi, biarlah teks-teks tersebut yang berbicara, dan biarlah pembaca memaknainya dengan sendirinya.

Pada sisi lain, para penulis dalam buku ini, yakni para guru, menulis pengalaman mereka bukan tanpa alasan dan tujuan. Disadari atau tidak, mereka sedang dan telah meliterasi diri—mendidik diri menghayati literasi membaca dan menulis pengalaman dengan aneka ide dan gayanya. Dan itu bukan tindakan sepele, melainkan bisa jadi perjuangan yang tidak main-main.

Ada perjuangan yang harus dimenangkan, bukan hanya mengalahkan berbagai kesibukan yang menumpuk, melainkan juga harus keluar dari selongsong kemalasan yang telah menyelimuti sekian tahun lamanya. Menulis itu keluar dari zona nyaman, memasuki zona baru literasi diri.

Literasi diri harus dihayati sendiri oleh para penulis, tidak bisa diwakilkan, dalam rangka memantaskan diri sebagai figur teladan bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Jika mereka telah suka membaca dan menulis, tidak sulit bagi mereka untuk mengajak orang lain.

Mungkin mereka tidak sadar bahwa tulisan fragmen narasi mereka kelak menggugah pembaca untuk melakukan hal yang sama. Entah ini keajaiban atau peristiwa tansendental—yang jelas itu sesuatu yang absurd, hadir di luar nalar waras kita. Kita hanya yakin, bahwa setiap tulisan, sebagaimana perkataan, menemukan pembaca atau penikmatnya sendiri.

Pertanyaannya, apakah literasi diri yang dituliskan berupa fragmen narasi akan mempengaruhi alam pikiran dan tindakan pembaca? Waktulah yang akan membuktikannya. Namun, jauh di lubuk hati, para penulis pastilah berharap demikian. Setidaknya, kita yakin bahwa, ketika menulis, mereka sejatinya sedang bertindak sebagai “agen perubahan” dalam literasi.

Sebagai agen perubahan, selain mengkomunikasikan gagasan dan pengalaman, mereka juga menggantungkan harapan lewat pesan dalam fragmen narasi yang diteladankan. Mereka telah berani menulis, maka berani pulalah mereka mengajak pembaca untuk menulis. Mereka tidak “omdo” alias omong doang, melainkan membuktikannya lewat karya nyata.

Sejauh itu, tentu kita berharap buku ini akan menemukan nasib terbaiknya, yakni menjadi hikmah dan inspirasi yang terindah bagi pembaca untuk dikembangkan menjadi wacana atau tulisan yang baru. Jika hal ini terwujud, ekspektasi terpendam dari para penulis dalam buku ini terbayar lunas.[]

Driyorejo, 9 Oktober 2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Universitas Negeri Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan, Edisi Revisi” (2020).

Tuesday, October 6, 2020

MERAUP BERKAH, BERBAGI HIKMAH: Sebuah Kata Pengantar

Sumber gambar: Dokumen Penulis
Oleh Much. Khoiri

ALANGKAH lemahnya kita sebagai manusia. Ketika kita diuji dengan kesulitan atau ketidaknyamanan, rasanya hati ingin mengeluh, memprotes, bahkan memberontak—jauh dari rasa syukur. Terlebih tatkala kita dicerabut dari tempat yang sangat membahagiakan, rasanya kita ingin menangis dan mengutuk nasib—kadang ngrasani Tuhan mengapa ujian itu ditimpakan pada kita.

Pemberontakan semacam itu tentu bergejolak pada hari-hari tatkala ujian mulai dijalani. Kita belum tahu rahasia apa di balik semuanya. Hati kita masih terselimut amarah, belum menjadi tenang. Maka, waktu demi waktu, kita belajar memungut percik-percik makna di sana, dan dari situlah kita mulai memahami bahwa apa yang diujikan kepada kita hanyalah untuk meningkatkan kemuliaan. Emas dan mutiara akan kelihatan wujudnya setelah ditempa dan digosok. Ternyata, setelah waktu berlalu, ada berkah-berkah yang harus diraup dan bahkan layak dibagikan kepada sejawat.

Inilah yang agaknya hendak disampaikan oleh penulis buku ini, Sri Rahayu M.Pd. Dalam buku bertajuk “Meraup Berkah di Sekolah Baru” ini penulis memaparkan dengan indah (meski isinya bukan tentang hal-hal indah) pengalamannya menjadi guru mutasi: dari sekolah yang telah menyamannya selama 25 tahun ke sekolah baru. Semula dia melihatnya sebagai sesuatu yang berat, namun dengan man jadda wajada, dia menjadi kuat menapaki setiap langkah di tempat barunya.

Penulis buku ini telah berusaha mengubah stigma negatif tentang mutasi—bahwa mutasi itu berarti turun harga diri, bahwa mutasi itu berarti ada kesalahan yang dilakukan, bahwa mutasi itu diakali orang lain. Stigma negative itu harus diubah dan diluruskan. Yang benar, mutasi hanyalah peristiwa biasa, sunnatullah, dinamika, yang tak perlu ditangisi, melainkan perlu diterima sebagai wahana pengabdian yang baru.

Penulis mencurhatkan pengalamannya ke dalam lima-belas artikel (catatan harian yang ditambah dengan refleksi) dengan gaya bebas dan indah, kadang dibumbui ungkapan filosofis. Namun, maksud penulis dapat kita tangkap dengan baik dari gaya bahasa yang enak dari setiap tulisan yang ada. Flow of thought-nya enak diikuti, dan bahasanya lancar dan menjenakkan pembaca.

Justru dengan gaya bahasa semacam itu, agaknya, penulis ingin mendekat kepada pembaca, ingin berbagi, bukan menggurui. Untuk apa? Untuk mengabarkan betapa melimpahnya berkah yang dia raup dari penghayatan sebagai mutan di sekolah baru. Pada saat sama, dia juga ingin membagikan hikmah-hikmah yang dipetiknya kepada para pembaca agar semua itu menjadi pelajaran hidup yang penting.

Tentu, saya mengapresiasi keberanian penulis untuk menyusun dan menerbitkan buku ini. Tidak banyak guru yang berani mencurhatkan pengalaman kurang-enaknya kepada pembaca. Namun, saya menangkap, penulis justru wajib mengabarkan bahwa mutasi bukanlah hukuman, melainkan ujian yang justru akan menambah keberkahan.

Akhirnya, saya ucapkan selamat kepada penulis yang telah berhasil menerbitkan buku pertamanya. Ini capaian yang luar biasa—sesuatu yang telah diimpikannya sejak lama. Tentu saya berharap, buku ini bukanlah terminal akhir, melainkan terminal pertama dalam sebuah perjalanan panjang terdiri atas belasan atau puluhan terminal. Dan pada setiap terminal, dia berkabar tentang berkah dan berbagi hikmah.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya. Buku terbaru berjudul “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (edisi revisi, 2020). 

 

Wednesday, September 30, 2020

TURNING POINT: BUKU SEBAGAI PRASASTI KEBERANIAN (Sebuah Kata Pengantar)

Sumber gambar: Dokumen penulis
Oleh Much. Khoiri

Untuk menulis secara ajeg (rutin, istikomah), orang perlu keberanian menaklukkan berbagai hambatan internal dan eksternal yang menghantuinya. Bahkan tak jarang serentetan godaan menghadang tatkala menulis berproses. Maka, menulis ajeg adalah bukti kemenangan yang mungkin perlu dirayakan. 

Terlebih, jika menulis buku, itu benar-benar melampaui kemenangan orang tersebut, melampaui kemenangannya dalam menaklukkan hambatan internal dan eksternal dalam menulis. Menulis buku itu satu tingkat lebih tinggi dari pada menulis tulisan non-buku secara ajeg. Bahkan, menulis buku menjadi bukti sah bagi statusnya sebagai penulis. Buku menjadi semacam kartu nama bagi penulis.

Demikianlah kira-kira gambaran singkat tentang penulis buku ini, Agung Sucipto. Sesuai Prakata yang disampaikan, dia bersyukur atas hadirnya keberaniaan untuk menerbitkan buku pertamanya ini: Turning Point. Baginya, butuh waktu tiga tahun untuk menunggu kesempatan (baca: momentum) penting itu: Berani menulis buku sendiri, apa pun bentuknya. Itu sesuatu yang telah dia impikan sejak bertahun silam.

Maka, keberanian menyusun buku itu dia tindaklanjuti dengan mengumpulkan tulisan-tulisan ringkasnya yang dia pasang di dinding Facebook pada setiap hari Jumat selama dua tahun terakhir. Tulisan-tulisan ringkas itu, dia yakini, layak untuk dibukukan—dan itulah pula sebabnya timbul keberanian untuk membukukannya. Mengapa? Dia yakin bahwa setiap tulisan menemukan pembacanya.

Pada sisi lain, dia telah menaklukkan kekhawatiran (anxiety) yang menghantaui kebanyakan orang yang seprofesi dengan penulis buku ini. Banyak guru yang khawatir atau bahkan takut untuk menulis dan menerbitkan buku, sebab mereka khawatir bahwa mereka tidak mampu menulis, dan bahwa tulisan mereka tidak layak dibaca publik. Itulah yang membelenggu kebanyakan guru dalam hal berkarya.

Penulis buku ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Surabaya. Profesinya sebagai guru pastilah membuatnya sangat sibuk dalam menunaikan tugas-tugasnya. Jika ada guru yang menyiasati aneka kesibukan, dan mau keluar dari zona nyaman serta mengobarkan keberanian untuk menyusun buku, itulah penulis buku ini. Dengan kata lain, buku ini menjadi prasasti keberanian penulisnya.

Dalam pengantar pendek ini saya tidak akan membahas tulisan-tulisan yang ada. Namun, saya lebih tertarik untuk membincang keteladanan penulis buku ini. Dalam dunia literasi keteladanan sangat penting maknanya. Dengan keteladanan, diseminasi literasi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat akan menemukan kemudahannya. Dan penulis buku ini telah menunjukkan keteladanan—yakni menyusun buku dari tulisan-tulisan Jumatnya selama ini, sesuatu yang mungkin menginspirasi para pembaca.

Dengan demikian, penulis buku ini termasuk salah satu manusia langka di antara guru-guru sejawatnya, sebab kebanyakan guru belum menulis buku. Bahkan, di antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris se-Surabaya, guru penulis belumlah banyak jumlahnya. Penulis buku ini menambah daftar nama guru penulis yang langka tersebut.

Tentu saja, secara pribadi, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penulis buku ini atas keberanian untuk menerbitkan bukunya. Saya teringat pertama kali saya menerbitkan buku pertama kali pada tahun 2011, meski sesungguhnya saya telah menekuni menulis sejak 1986/1987. Sungguh, keberanian itu mahal harganya! Namun, ketika keberanian menemukan hasilnya, hadirlah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan.

Saya berharap, penulis buku ini terus merawat keberaniannya dalam menyusun buku, sehingga ke depan akan lahir buku-buku lain dari kreativitas dan sentuhan tangannya. Pada sisi lain, saya berharap keteladanan yang dia berikan menginspirasi para pembaca untuk membangkitkan keberanian mereka sendiri melakukan hal yang sama.

Akhirnya, untuk pembaca budiman, selamat membaca buku ini, dan selamat menemukan hikmah serta inspirasinya. Mudah-mudahan pembaca budiman, selepas membaca buku ini, segera membangkitkan keberanian untuk segera menulis buku sendiri. Hanya dengan begitu, buku ini menemukan signifikansinya.[]

Driyorejo, 26/9/2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis 42 buku dari Universitas Negeri Surabaya. Kata pengantar ini pendapat pribadi.

ASAH ILMU DENGAN AMAL

Sumber gambar: Dokumen pribadi

Oleh Much. Khoiri 

Sebagaimana pisau perlu diasah untuk menjadikannya tajam, ilmu perlu diasah agar menjadi “tajam” dan “manjing” (merasuk) ke dalam si empunya ilmu. Mengasahnya dengan apa? Tidak lain dan tidak bukan: dengan amal (laku, perbuatan).

Setajam apa pun sebuah pisau (yang telah dibeli dari penjualnya), ia tidak awet ketajamannya jika jarang atau tidak pernah diasah. Demikian pun, sehebat apa pun ilmu yang diperoleh seorang santri atau murid dari sang guru, ia akan kehilangan kehebatannya jika tidak diamalkan. Bahkan, sepanjang tidak diamalkan, ilmu hanya ibarat gelas tanpa isi, atau ibarat benih yang tidak pernah ditanam. Ilmu itu tidak merasuk ke dalam pemiliknya.

Orang punya ilmu tentang pentingnya sedekah, misalnya, bahwa sedekah adalah amal mulia yang selain berdimensi ukhrawiyah (karena menunaikan perintah Tuhan), juga berdimensi sosial (karena membantu orang lain). Ilmu orang itu tentang sedekah tidak pernah ada gunanya sepanjang dia tidak melakukan amal atau laku bersedekah kepada sesame. Ilmu sedekahnya kosong, tanpa membuahkan hasil, karena memang tidak ditanam dan dirawat.

Orang tahu bahwa shalat itu wajib bagi setiap muslim. Orang itu akan memetik buah manfaatnya dari shalat tersebut jika dia menunaikan shalat dengan khusyu dan istiqamah. Sebaliknya, meski dia “alim” dalam syariah shalat, jika tidak mengamalkannya, tiada hikmah manfaat yang bakal diperolehnya.

Dalam dunia persilatan, seorang murid tidak akan mencapai sabuk tertentu karena dia tidak mau mempraktikkan ilmu dan jurus-jurus yang telah diajarkan oleh gurunya. Jurus-jurus yang diberikan sang guru berhenti sebatas pengetahuan, ilmu, syariah. Karena itu, agar jurus tersebut manjing pada dirinya, dia harus berlatih setiap waktu dan tanpa kenal lelah.

Tiga ilustrasi di atas hanya untuk menggambarkan betapa ilmu menulis juga harus diasah dengan “amal” menulis. Ilmu (teori) menulis penting, namun pengamalannya jauh lebih penting. Dalam kalimat lain, teori penting, latihan wajib dilakukan. Tanpa latihan, teori menulis ibarat gelas yang kosong atau ibarat benih yang tidak pernah ditanam atau ibarat pisau yang tak pernah diasah.

Maka, mari asah ilmu menulis dengan amal menulis. Karena ilmu menulis itu sendiri luas—mulai tataran ide/gagasan, pengorganisasian ide/gagasan, hingga penggunaan bahasa--, maka seluas itu pula kita perlu mempraktikkannya dengan sebaik-baiknya. Semakin luas amal menulis yang kita jalani, semakin dalam “manjing”-nya (merasuknya) ilmu dan ketrampilan menulis dalam diri kita.

Oleh sebab itu, banyak motivator kepenulisan menyarankan penulis (pemula) untuk menulis setiap hari. Untuk apa? Ya membiasakan diri untuk mengamalkan ilmu menulis. Mungkin penulis (pemula) diminta untuk menulis dengan gaya bebas (free writing), agar menemukan kenyamaman sebagaimana dia berbicara kepada sesamnya. Seiring berjalannya waktu, amat mungkin pula, gaya bebas itu memang menjadi ars poetica penulis itu—menjadi “hak paten” gaya kepenulisan yang telah menyatu dengannya.

Dalam mengamalkan teori (ilmu) menulis, secara individual, orang akan menemukan ilmu-ilmu baru yang khas melekati si pengamal ilmu menulis. Dia akan belajar lagi bagaimana menentukan ide paling unik yang layak ditulis untuk koran, misalnya, termasuk bagaimana mengemasnya dan bagaimana bahasa ciamik (keren) digunakannya.

Dengan kata lain, pengalaman unik yang diperoleh seseorang selama mengamalkan teori (ilmu) menulis akan berkembang dan dikembangkan di dalam dirinya. Pada gilirannya, dia akan mampu mensitesiskan teori (ilmu) menulis baru yang siap dibagikan kepada orang lain. Inilah bukti manjingnya ilmu menyebabkan seseorang memanen buah ilmunya—yang bisa disuguhkan untuk pemburu ilmu setelahnya.

Maka, tak perlu ragu, mari kembali ke hakikat kepenulisan yang sesungguhnya: Mengasah ilmu dengan mengamalkannya. Memburu ilmu menulis sangat penting agar tahu apa yang harus dilakukan, namun mengamalkannya lewat serangkaian latihan adalah wajib adanya. Itu.!

 Driyorejo, 25/9/2020

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

Saturday, September 12, 2020

SAHABAT LITERASI

Sumber gambar: Dok pribadi

Oleh Much. Khoiri

Kedudukan makna ‘orang lain’, ‘kenalan’, ‘teman’, dan ‘sahabat’ berbeda. Makna ‘sahabat’ memiliki kedudukan makna tertinggi dan termulia dibandingkan dengan ‘teman’, ‘kenalan’, apalagi ‘orang lain’ yang bukan kenalan dan bukan teman. ‘Sahabat literasi’, dalam hal ini, dimaksudkan untuk menyebut mereka yang berkedudukan makna mulia di dalam bidang literasi.

Dalam kedudukan semacam itu, sahabat literasi—diharapkan—menjadi mitra yang paling dekat dan seia-sekata dalam perjuangan menghidupkan pembudayaan literasi di negeri ini, entah pada ranah sekolah (Gerakan Literasi Sekolah, GLS), ranah masyarakat (Gerakan Literasi Masyarakat, GLM), maupun ranah keluarga (Gerakan Literasi Keluarga, GLK). Jika kini masih bergelut dalam GLS, ia siap melanjutkan perjuangan dalam GLM dan GLK—sehingga pada gilirannya ia pun beriur dalam ikut mensukseskan gerakan literasi nasional (GLN).

Pertanyaannya, dalam pembudayaan literasi, Sahabat termasuk ketegori manakah: sahabat literasi, teman literasi, kenalan literasi, atau orang lain (dalam) literasi? Saya sendiri, tentu, berharap Sahabat menjadi sahabat literasi bagi saya—setidaknya teman literasi atau kenalan literasi yang masih memiliki rasa sayang dan kepedulian bagi gerakan pembudayaan literasi. Jangan sampai menjadi orang lain (dalam) literasi, yang cuek dan acuh tak acuh—apalagi memusuhi pembudayaan mereka yang bergerak memajukan literasi.

Tentu saja, sebagai sahabat literasi, Sahabat mau belajar menjadi menguasai konsep dan strategi gerakannya. Sahabat tahu literasi dasar baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Pahami dan kuasai dengan baik panduan gerakan literasi, baik ranah sekolah, ranah masyarakat, maupun ranah keluarga.

Dengan memahaminya dengan baik, ada kesiapan mental jika mendapati kendala-kendala tertentu selama perjuangan. Ini perjuangan, tak mungkin tidak ada kendala dan ujian—identik dengan hidup, tak mungkin tiada konflik sepanjang hidup manusia. Namun, bagi si besar hati, yang penting bukan masalahnya, melainkan fokus menemukan solusi bagi masalah tersebut. Sahabat literasi perlu menyikapinya semacam itu.

Ilustrasi di atas sengaja saya paparkan di sini guna memberikan tantangan bagi sahabat-sahabat guru yang saya ajak Ngopi (ngobrol pintar) di SMP Negeri 55 Surabaya pada 5 September 2020 kemarin. Seharusnya ada sebelas orang, namun karena alasan tertentu, ada dua orang yang tidak hadir. Jadilah sembilan orang yang hadir, plus tuan rumah, jadi totalnya sepuluh. Karena mereka representasi dari sekolah masing-masing—yang di belakang mereka ada puluhan guru—maka sejatinya saya sedang berhadapan (imajiner) dengan ratusan guru sekaligus.

Untuk semua guru yang hadir serta mereka yang berada di belakang mereka, saya tentu berharap bahwa mereka menjadi sahabat-sahabat literasi bagi saya. Meski demikian, saya tak hendak menutup kemungkinan, kadar intensitas pelibatan mereka dalam literasi boleh jadi berbeda antara satu dan lainnya. Tentu, saya tidak punya hak untuk menghakiminya. Biarlah waktu yang membuktikan apakah mereka benar-benar sahabat literasi sejati, ataukah teman literasi, kenalan literasi, dan seterusnya.

Ini yang saya pegang: Integritas sebagai sahabat literasi akan nampak bleger (wujudnya) tatkala teruji masa kritis. Ketika kesibukan menumpuk pada hari ini, misalnya, apakah para Sahabat masih meluangkan waktu (make time) untuk membaca atau menulis? Jika masih, para Sahabat berhak lulus sebagai sahabat literasi. Namun, jika tidak, integritas Sahabat boleh diragukan, bukan? Cukup jawab pertanyaan ini di dalam hati.[]

Driyorejo, 11/9/2020

 *Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

    

 


Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts