Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Wednesday, January 6, 2021

Releksi Akhir Tahun 2020: BERSYUKUR SEPANJANG TAHUN (Bagian 1)

Oleh Much. Khoiri 

(Dosen, penggerak literasi, blogger, penulis buku dari Unesa Surabaya)

Sumber gambar: Dokumen pribadi


TATKALA saya ditodong untuk mengisahkan catatan refleksi akhir tahun 2020, jawaban saya mengerucut pada sebuah frase sederhana, yakni bersyukur sepanjang tahun. Saya tidak sedang sok bergaya santri kali ini, namun saya bahagia berkat rasa syukur yang selalu dilimpahkan Allah ke dalam hati dan pikiran saya. 

Mungkin Anda bertanya, apakah saya mendapat hadiah besar di tahun 2020? Ataukah saya mungkin telah naik pangkat dua tingkat, misalnya? Ataukah saya menemukan harta karun dengan nominal milyaran rupiah? Mohon maaf, janganlah diteruskan! Mohon izin saya obati penasaran Anda: Bahwa rasa syukur saya melimpah di dalam diri saya karena pada tahun 2020 saya kembali ke khittah saya sendiri secara utuh.

Khittah saya sebagai manusia adalah sebagai diri sendiri, dosen, dan penulis. Kembali ke khittah ini berarti saya kembali dari status artifisial atau suplemen pada tahun 2019 ke status eksistensial saya yang sesungguhnya pada awal tahun 2020. Selama 2019 saya menunaikan sebuah jabatan di kampus yang menguras waktu, pikiran dan tenaga—sehingga saya seakan kehilangan _khittah_ saya; sedangkan tahun 2020 saya menjadi dosen biasa tanpa tambahan jabatan.

Di penghujung 2019, menjelang 2020, saya sudah merenung dalam-dalam, dan memutuskan untuk menjadi dosen biasa, sebab tugas jabatan akan makin menenggelamkan jika diteruskan. Banyak tugas-tugas pribadi yang tak terurus (terutama disertasi saya) di tahun 2019, sehingga kehadiran 2020 adalah momentum untuk kembali ke khittah dan membayar utang-utang akademik dan personal.

Pertama, sejak awal 2020 saya bersyukur untuk bisa kembali ke keluarga. Utang kebersamaan ini saya tumpuk selama menjabat, saya kekurangan waktu untuk membersamai mereka—namun semua itu saya bayar di tahun 2020. Terlebih dengan adanya pandemi covid-19, saya juga work-from-home, maka setiap hari saya bersama mereka di rumah: Mengerjakan tugas domestik bersama, makan bersama, shalat berjamaah, atau outing bersama—dalam ketaatan protokol kesehatan, tentunya.

Keluarga menjadi kekayaan yang luar biasa, yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini saya merasakan kuantitas dan kualitas kebersamaan itu. Pandemi bahkan semakin menguatkan soliditas dan solidaritas internal keluarga kami. Pernah saya sakit selama dua bulan, sejak 10 hari ramadhan, dan rentang itulah saya benar-benar sangat menikmati kedekatan kami. Di luar rentang waktu sakit, tahun 2020 adalah waktu terbaik bagi saya untuk bersama keluarga

Kedua, saya terkondisikan mengajar secara daring (dalam jaringan, online). Ada perubahan signifikan kali ini. Saya yang terbiasa dengan pertemuan luring (tatap-muka) mau tak mau bermigrasi ke mode daring, sehingga saya harus beradaptasi dengan cepat, mulai persiapan mengajar hingga penilaian. Demikian pun dalam menguji skripsi atau paper untuk jurnal. Bahkan, dalam urusan administrasi, semisal bertanda-tangan, juga harus dilakukan secara virtual. Ini pengalaman baru yang tak pernah terbayangkan terjadi secepat ini. Inilah era disrupsi dengan aneka perubahan cepat tak terduga.

Ada yang menarik untuk kelas angkatan 2020. Saya mengajar dua kelas matkul “Indonesian Society and Culture” di sini. Bayangkan bagaimana saya dan mahasiswa harus saling mengenal, dan akhirnya menjadi akrab satu sama lain, padahal kami belum pernah bertatap muka sekali pun. Maka, zoom atau google-meet menjadi media yang berkah, sehingga kami bisa saling melihat wajah atau penampilan masing-masing. Di akhir semester ini kami rasakan kedekatan satu sama lain—hingga ketika saya sampaikan kerinduan saya untuk bertatap muka, mereka langsung meneriakkan persetujuan.

Ketiga, dengan menjadi dosen baisa, saya berkesempatan untuk lebih banyak membaca, suatu kewajiban yang menjadi hobi saya selama ini. Membaca apa saja yang ada di rak-rak perpustakaan keluarga—buku literasi, sastra budaya, filsafat, dan sebagainya. Sekali tempo, saya rindu membaca kembali karya Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, dan sebagainya. Mahabharata, karya epos sejarah itu, atau Al-Hikam-nya Ibn Athaillah kerap saya buka-buka lagi untuk memantik inspirasi menulis. Kurang? Saya membeli belasan baru semisal Lentera Kegelapan.

Mengapa membaca sangat membahagiakan, dan selalu saya syukuri? Sebab, bagi saya, membaca itu mengarungi lautan pengetahuan dan berupaya untuk mengambil mutiara yang berada di dalamnya. Pada sisi lain, membaca itu jendela dunia—sehingga membaca membuat saya mengetahui apa saja yang terhampar di sudut-sudut dunia, sebagaimana dikandung di dalam buku. Semakin banyak buku atau bahan baca saya lahap, semakin luas pula hamparan dunia yang bisa saya jelajahi. Ada ungkapan, “Kalau ingin mengenal dunia, membacalah; jika ingin dikenal dunia, menulislah.”


BERSAMBUNG

Sunday, January 3, 2021

JANGAN MAIN MEDSOS SAAT KERJA

Oleh Much. Khoiri

PADA suatu ketika Prof. Dr. Anita Lie, seorang kolega dosen (tepatnya seorang guru besar) dari sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya memberitahu bahwa jika saya mengirimkan pesan penting dan panjang (terkait dengan endorsement buku baru saya), sebaiknya saya mengirimkannya lewat email saja—jangan lewat inbox fesbuk.

Mengapa demikian, tanya saya. Saat itu dia dalam perjalanan menuju kampusnya. Dia menjawab, setiba di kampus dia akan segera memeriksa emailnya—tanpa harus membuka fesbuknya. Soalnya, ada etika disiplin, bahwa dosen dan karyawan dilarang fesbukan atau bermedsos di kampus, selama jam kerja. Email masih diizinkan penggunaannya.

Sepintas, pengakuan kolega ini sederhana, namun sejatinya itu mengandung makna yang penting. Pertama, larangan bermedsos di kampus selama jam kerja. Ini sebuah kebijakan yang tegas dan patut diapresiasi ketika begitu banyak institusi—termasuk institusi pemerintah (negeri)—yang di dalamnya banyak karyawan melakukan medsos ria selama jam kerja.

Sumber gambar: Kompas Tekno

Kalau tak percaya, silakan adakan kunjungan atau inspeksi mendadak (sidak) ke kantor-kantor (pemerintah, bahkan). Hampir pasti, Anda akan menemukan karyawan yang main fesbukan atau bermedsos lain—website, blog, twitter, BBM, dan sebagainya. Jika mereka sedang mengerjakan tugas, tak urung mereka juga membuka lapak medsos. Kilahnya, itu selingan tatkala jenuh dan capek dengan tugas, tinggal klik lapak medsos yang ada.

Dengan memberikan larangan pada karyawan bermedsos selama jam kerja, itu merupakan langkah penting untuk meluruskan pemahaman bahwa kerja ya kerja (work), jangan dicampuradukkan dengan istirahat dan nyantai (leisure). Lazimnya karyawan-karyawan kita mencampuradukkan antara kerja dan leisure—dan akibatnya produktivitas kerja terganggu. Tidak jelas mana work, mana leisure.

Makna kedua, pelarangan bermedsos itu sebenarnya menegakkan etika dan disiplin. Mereka seharusnya sadar bahwa disiplin harus ditegakkan, sebab disiplin merupakan salah satu unsur penting untuk suksesnya people menagement. Sudah jelas, bermedsos selama jam kerja adalah sejatinya pelanggaran disiplin—bahkan melakukan korupsi waktu dan tenaga. Bukankah menajemen karyawan sangat menentukan kesuksesan produktivitas? Jadi, pelarangan bermedsos untuk kondisi karyawan kita sudah tepat sasaran.

Makna ketiga, ingatlah, kolega saya itu seorang guru besar. Sebagai guru besar, kalau mau, dia bisa “memanfaatkan” privilege (hak istimewa) yang dimilikinya untuk meminta tolong pejabat kampus agar diperkenankan membuka medsos. Namun, tidak, dia tidak mau mengambil langkah salah ini. Dia tetap patuh pada aturan yang ditetapkan. Dia juga wajib menghindari penggunaan medsos di kampus selama jam kerja.

Kepatuhan dia terhadap peraturan yang ada menunjukkan betapa dia telah menjadi seorang literat (melek budaya) yang utuh dan mapan. Dia tidak hanya pintar dan lihai dalam berwacana, melainkan juga hebat dalam mengamalkan praktik-praktik yang baik dan mulia. Dia tidak sekadar asbun (asal bunyi), omong kosong. Justru, sebaliknya, dia satunya kata dan perbuatan.

Makna keempat, mungkin itulah yang hendak dia tularkan, yakni nilai keteladanan. Dia mematuhi peraturan, meski dia seorang guru besar. Dia tidak imun dari sanksi. Itu semua dalam rangka memberikan keteladanan. Dia harus memberi teladan bahwa seorang profesor pun juga wajib menaati peraturan—tidak ada perkecualian, tidak ada hak istimewa yang disalahgunakan.

Keteladanan, memang, jauh lebih penting daripada sekadar petuah, imbauan, larangan, dan sebagainya. Action speaks more loudly than words. Tindakan berbicara lebih lantang ketimbang sekadar kata-kata. Bagi sang guru besar, memberikan teladan harus didahulukan, sebelum kemudian dia sendiri ikut mengampanyekan pelarangan bermedsos di kampus selama jam-jam kerja atau jam belajar.

Pertanyaannya, apakah kita telah berada di posisinya yang taat aturan? Apakah kita juga meminta orang lain mengirimkan pesan lewat email saja—dan bukan lewat fesbuk—saat ada larangan bermedsos di tempat kerja selama jam kerja? Apakah kita benar-benar tak ingin mencuri-curi lapak fesbuk sepanjang jam kerja (nyaris) seharian utuh?

Pertanyaan bisa diperpanjang, sebenarnya. Namun, semuanya bermuara pada satu pertanyaan mendasar, sudahkah kita menghormati peraturan yang ditetapkan dengan atau tanpa pengawasan orang lain? Lain kata, sudahkah kita memiliki kesadaran sendiri (dari lubuk hati terdalam) untuk menaati peraturan yang ada—dalam hal ini: larangan bermedsos di kantor selama jam kerja.

Jika kita belum berada di posisi itu, ada baiknya kita merenung sekarang. Masihkah kita termasuk pegawai yang profesional dan loyal terhadap segala peraturan di institusi kita? Atau, masihkah kita tetap mau menjalankan tugas, sekaligus menyelinginya dengan bermedsos? Sungguh, jawaban kita secara jujur menunjukkan siapa diri kita dan seberapa kualitas dan integritas kita.[]

*Much. Khoiri adalah dosen penulis, penggerak literasi, blogger, editor dari Universitas Negeri Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi. 


Friday, November 13, 2020

MOTIVASI MENERBITKAN-ULANG BUKU SOS

Sumber gambar: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri

DALAM sebuah wawancara ulas buku dengan Radio Unesa belum lama ini, ada pertanyaan menarik dari host: “Apakah motivasi Anda menerbitkan-ulang buku SOS?” Yang dimaksud SOS adalah “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (edisi revisi, 2020). Dan saya sebagai penulis buku diminta untuk menjelaskannya. Harapan saya, catatan berikut ini lebih lengkap dari pada yang streaming radio atau di youtube.

Yang pertama dan mendasar, saya menerbitkan-ulang buku itu untuk memenuhi kewajiban menulis saya. Ya, menulis itu bagi saya wajib hukumnya, wajib sebagai sebuah ibadah yang harus saya tunaikan—sama dengan ibadah-ibadah lain. Dengan menerbitkan SOS edisi revisi itu, kewajiban menulis buku saya terbayar lunas. Tiada utang yang harus saya bayar lagi. Setidaknya hingga buku terbit.

Jujur saya tegaskan, kewajiban menulis ini semula saya abadikan di dalam buku “Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku” (2017). Dalam buku itu, saya turunkan dari perintah Allah dalam QS Al-Alaq 1-5. Membaca tentu perlu ada sesuatu yang dibaca, dan yang dibaca adalah teks; sementara, teks harus diproduksi lewat kegiatan menulis. Maka, menulis sama wajibnya dengan membaca. Jadi, sejak 2017 itu, menulis jadi ibadah yang wajib saya tunaikan; jika tidak, saya akan berdosa.

Kedua, tuntutan teman dan pembaca. Baik langsung maupun tak langsung, banyak teman dan pembaca yang ingin membaca buku SOS, sebab mereka penasaran, berkat promosi buku yang saya lakukan di medsos atau forum pelatihan. Dalam promosi, saya selalu menyebut 5 buku teori menulis saya: Rahasia Top Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2017), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Writing Is Selling (2018), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2016, 2020).

Tuntutan hadirnya kembali SOS, ternyata, dibawa serta oleh empat buku lainnya. Hal yang sama terjadi pada empat buku itu; misalnya Rahasia Top Menulis (2014) kini kembali diburu oleh pembaca setelah saya promosikan bersama empat buku lain. Istilahnya, satu gendong-indit yang lain. Maka, buku SOS yang pertama kali terbit pada 2016 harus saya terbitkan dengan edisi revisi pada 2020.

Ketiga, menjadi teladan bagi diri sendiri, keluarga, para sahabat, dan masyarakat. Artinya, untuk menyikapi tuntutan pembaca, penulis juga perlu sigap dan bijak dalam menerbitkan (kembali) bukunya. Dalam konteks ini, sesuai masukan pembaca,  dalam edisi baru ini saya menambah lima artikel pelengkap. Artikel mana saja, semua saya jelaskan dalam “Prakata” dalam buku edisi baru tersebut.

Keteladanan itu penting dalam pembudayaan literasi. Bukan hanya untuk orang lain, melainkan juga untuk diri sendiri. Diri sendiri perlu meneladani diri dari apa yang telah dilakukannya dengan baik sebelumnya. Kesuksesan pada tahap tertentu adalah cermin untuk tahap selanjutnya. Tatkala sekarang saya mampu memenuhi harapan pembaca dengan baik, ke depan saya akan melakukannya dengan lebih baik lagi. Itulah maksud keteladanan bagi diri sendiri.

Terakhir dan yang paling penting dan praktis adalah bahwa saya menerbitkan buku edisi revisi adalah untuk menghadiahi diri buku-buku karya sendiri pada saat ulang-tahun. Menulis buku untuk hadiah ulang tahu pada Maret 2020, sangatlah istimewa, karena saya berusia tepat 55 tahun. Karena itu, sejak September 2019, materi buku sudah saya siapkan: Praktik Literasi Guru Penulis Bojonegoro, Virus Emcho: Melintas Batas Ruang Waktu, dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan.

Tatkala waktunya tiba, Maret 2020, tepatlah rencana saya. Ketiga buku tersebut menjadi hadiah terindah pada saat saya ulang tahun ke-55. Semula ketiga buku akan saya launching dalam acara bedah buku secara luring, namun karena pandemi, launching tidak bisa terlaksana. Maka, saya hanya mengumumkannya di ruang-ruang medsos atau media baru yang saya miliki.

Di samping itu, saya juga menulis artikel “Menulis Buku untuk Hadiah Ultah” yang dimuat di sebuah surat kabar (Radar Surabaya, 22 Maret 2020). Tulisan ini merupakan penanda bagi konsistensi saya dalam menghadiahi diri buku karya sendiri pada saat ulangtahun—ya sudah konsisten dalam 4-5 tahun terakhir. Meski demikian, tahun 2020 ini, terasa istimewa karena pada ultah ke-55, saya menghadiahi diri tiga judul buku.

Demikianlah motivasi terpenting saya dalam menerbitkan kembali buku SOS. Dan sekarang, saya bersyukur, bahwa buku SOS tersedia cukup banyak di pasaran dan di rumah. Satu persatu pesanan buku juga sudah meluncur ke alamat para pemesan. Mudah-mudahan buku segera tiba, dan mereka segera membacanya. Dengan membacanya, mereka berpeluang untuk memetik hikmah dan inspirasinya.[]

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis 45 buku dari Unesa Surabaya. Buku terbaru “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (edisi revisi, 2020). Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Wednesday, November 11, 2020

SEPATAH KATA UNTUK MAHASISWA YANG DIYUDISIUM

Yudisium Online Mahasiswa: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

SETIAP ada perpisahan, sumedhot rasaning ati, hati saya rasanya tersedot. Hari ini ada yudisium bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris—di antaranya 50 mahasiswa prodi Sastra Inggris, dan saya diberi penghormatan untuk memberikan sepatah dua patah kata. Nah, inilah saatnya perpisahan itu—dan saya rasakan sumedhot rasaning ati. Bahkan, tanpa ada yang menyurur, saya sampai mbrebes mili.

Mungkin saya gembeng, mudah mewek. Namun, itulah nyatanya. Yudisium itu, ibarat nikahan, adalah ijab qabul-nya, sudah sah dan halal, sedangkan wisuda itu pesta (wedding party) syukurannya. Substansinya ya di yudisium itu—sedangkan wisuda hanya seremonial. Jadi, tatkala mereka, anak-anak saya, yang telah bersama di kampus selama 4-5 tahun, diyudisium, itu artinya mereka sudah lulus—dan lulus artinya mereka telah mencapai destinasi akhir dari kuliah. Bagaimanapun, itu gong perpisahan.

Maka, tatkala diminta untuk memberikan sepatah kata kesan atau apa pun namanya, saya seperti blangkemen (kelu) untuk bicara; sehingga saya menyampaikannya pelan-pelan. Maaf, saya agak berpura-pura tampak seperti orang yang tegar, padahal pada momen ini saya sedang keropos dan rapuh: Ada yang membuat saya nyaris tak berdaya. Ibaratnya, saya memberikan pesan terakhir guna melepas anak untuk pergi jauh. Bayangkan…!

Saya sampaikan selamat kepada Putu, Aulia, Yoga, Kristin, dan seluruh anak-anak yang yudidium. Empat-lima tahun sudah mereka bersama belajar memahami hidup dari lingkungan akdemik. Saya ingatkan, bagaimana dalam Indonesian Society and Culture (ISC), individu harus belajar bernegosiasi, berintegrasi atau memasang resistensi pada individu lain dalam ranah keluarga, komunitas, masyarakat, etnik, nation, dan dunia. Ada sistem nilai dan norma yang harus dihayati, ada impian yang harus diperjuangkan.

Menyelesaikan studi bukanlah berakhirnta sebuah perjalanan. Yudisium itu destinasi dari impian mahasiswa alias anak-anak saya untuk lulus studi. Tentu, lulus bukanlah destinasi akhir. Sebab, setelah itu, mahasiswa masih akan tetap punya tempat belajar—memang belum tentu sebuah lingkungan akademik, justru akan menempati lingkungan non-akademik di luar sana. Mulai detik ini mereka malah wajib membuat impian baru untuk destinasi-destinasi baru ke depan.

Saya tegaskan, “The world is like a school, and the book is just like a book to read and write.” Dunia ini laksana sekolah, dan hidup ini laksana buku untuk dibaca dan ditulis. Jika dunia dianggap sebagai sekolah, barang tentu, ia harus dipelihara dan dirawat agar ia nyaman dan aman untuk tempat belajar. Sementara itu, hidup ini, laksana buku, perlu dibaca, dipelajari, dihayati, dan ditulislah kebaikan-kebaikan untuk dibagi dengan sesama.

Dengan secuil statemen itu, anak-anak yang yudisium hari ini seharusnya tidak berhenti di sini (sebab ini bukanlah destinasi terakhir). Mereka masih harus mewujudkan impian baru: Mencari kerja, bekerja untuk meniti karir, atau melanjutkan studi. Masih ada jalan membentang di depan sana, yang harus dilalui dengan hati gembira. Mereka menjemput setiap bakul rezeki (dalam arti luas) yang dihujankan Tuhan dari langit, atau disemburkan oleh Tuhan dari dalam perut bumi. Mereka diharapkan mampu menghayati ungkapan “The world is like a school…..” dalam kehidupan.

Maka, meniti jalan hidup ke depan, tentulah berbeda dengan jalan tatklala berkulak ilmu di lingkungan akademik. Mungkin akan lebih berat dan lebih kompleks. Namun, perlu diyakini sepenuh hati, bahwa setiap manusia akan diuji sesuai dengan kekuatannya—dan dia dianugerahi rewards per individu. Jadi, ujian tidak akan pernah keliru. Jika manusia merasa berat dengan suatu ujian, perlu diyakini bahwa Allah maha tahu, manusia itu memang kuat menjalaninya.

Akhirnya, kini, dengan semedhot rasaning ati dan mbrebes mili yangd dalam, saya lepas dan biarkan mereka berjuang melaksanakan kata-kata impian yang mereka yakini.  Pada saat sama saya hanya berdoa, mudah-mudahan mereka dianugerahi bersihnya hati beningnya pikiran, serta selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah, dalam kisah perjuangan mereka menuju destinasi berikutnya. Bismillah, insyaallah bisa! [

Driyorejo, 11 November 2020 pkl 13.00.

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

Saturday, November 7, 2020

BUKU NAGUIB MAHFOUZ, KIRIMAN RATIH DARI MESIR

Sumber gambar: Dokumen Pribadi
Oleh Much. Khoiri

Beberapa waktu lalu ada kiriman buku dan lain-lain dari seseorang yang dulu mahasiswa bimbingan skripsi saya. Dulu dia menulis skripsi tentang Midaq Alley—salah satu karya Naguib Mahfouz, penulis penerima hadiah Nobel sastra yang kini karyanya dipaketkan olehnya ke saya.

Ratih Rahmasari, nama mahasiswa itu, S-1 angkatan 2005, saya bimbing menulis skripsi dengan judul “A Study of Social Mobility of the Characters in Naguib Mahfoudz’s Midaq Alley” (2009). Dia tertarik menulis tentang Naguib sejak kuliah membahas karya penerina hadiah Nobel itu. Tak heran, penulisan skripsinya lancar dan hasilnya bagus.

Sekarang Ratih tinggal di Mesir, mengikuti sang suami yang tahun 2019 mulai kerja sebagai asisten atase pertahanan di KBRI di Mesir. Bersama dua putranya, Ratih dan suami memulai hidup baru sebagai ‘migran’ di negeri orang. Serangkaian ikhtiar dan doa telah memungkinkan mereka berada di negeri impian itu.

Dalam sebuah pesan WA pada 21 Desember 2019 lalu, dia menulis: “10 tahun lalu saya menulis [skripsi] dengan karya ini, dan sekarang ada di sini. Semacam mimpi kok jadi nyata.” Yang dimaksud “karya ini” adalah novel “Midaq Alley”, dan “di sini” adalah kafe legendaris Naguib Maguib. Dia merasa bersyukur dan takjub!

“Naguib Mahfouz coffee shop” itu nama yang sengaja ingin Ratih napaktilasi. Dia bermimpi, jika suatu saat bisa pergi ke Mesir, setting dalam karya Naguib Mahfouz harus bisa dikunjungi satu persatu. Dan impian itu terwujud. Kini dia sudah mengunjungi kafe itu, dan bergambar bersama dua jagoannya yang ganteng. Benar-benar sebuah kafe legendaris!

Ratih dan dua jagoannya di Naguib Mahfouz coffee shop

Ratih tahu persis bahwa saya mengagumi Naguib Mahfouz, pengarang yang memang pantas dikagumi itu, baik pribadi maupun karyanya. Karena itu, ketika tapak tilas kawasan dan objek-objek dalam novel yang dia tulis dalam skripsi, dia menemukan buku-buku Naguib terbaru; maka Ratih langsung mengontak saya, mengabarkan semuanya.

Dia juga mengabarkan adanya bazar buku yang besar-besaran. “Internasional book fair terbesar yang pernah saya kunjungi. Untuk buku berbahasa Inggris ada 1 hall besar sendiri, yang bahasa Arab 4 hall,” tulisnya lewat WA. Apakah yang ingin dikejarnya? Buku karya Naguib Mahfouz. Maka, dia juga mengujungi bazar buku tersebut, guna memuaskan apa yang ingin dicarinya.

Tak lama kemudian, dia mengirimi saya buku-buku baru Naguib Mahfouz. "Hadiah khusus untuk Bapak," katanya, ketika saya tanyakan berapa saya harus transfer untuk semuanya. Dia memang berniat memberi hadiah; dan saya tak bisa menolaknya. Itu buku-buku yang tidak tersedia di toko-toko buku di kota saya.

Judulnya adalah “Karnak Café”, “Children of the Alley”, dan “Voices from the Other World”. Semua baru, jreng, kinyis-kinyis. Saya kenal dengan tema dan gaya tulisan Naguib Mahfouz, pastilah ketiga karya ini juga bagus. Sebenarnya ketiganya sangat menggoda untuk membacanya satu persatu. Namun, saat ini waktunya belum memungkinkan. Saya masih terikat untuk mengerjakan tugas-tugas akademik yang sama wajibnya.

Karena itu, saya harus tunduk pada prioritas! Akhirnya, buku-buku itu saya relakan mengantri di rak buku yang khusus belum saya baca. Ada beberapa yang lain, memang, termasuk buku “Lentera Kegelapan”, buku serial Ensiklopedia, sebagian “Al-Hikam” karya Ibn Athaillah, dan lain-lain. Maklum, saya membaca buku secara ngemil, pelan-pelan, di sela berbagai kesibukan dan tugas akademik yang menyita tenaga, pikiran, dan waktu. Pada gilirannya saya pasti membacanya, insyaallah.[*]

#Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tulisan ini pendapat pribadi.

 

Friday, November 6, 2020

PROLOG: PANDEMI, KREATIVITAS, DAN LITERASI

Oleh: Much. Khoiri

Dalam sejarah peradaban manusia, manusia menjadi hebat akibat ditempa oleh kondisi yang sulit, keras, dan memprihatinkan—bahkan kerap menguras keringat, melinangkan air mata, dan mengucurkan darah. Manusia hebat tidak dihasilkan dari kemalasan dan kemanjaan. Mereka kreatif menemukan solusi atas semua kesulitan yang dihadapinya.

Mereka menemukan solusi karena mereka tidak fokus pada masalah melainkan pada solusi ketika masalah datang menghadang. Agaknya, mereka yakin bahwa berbagai kesulitan dalam hidup bukanlah hukuman, melainkan ujian yang akan menghasilkan hadiah atau anugerah tatkala ujian telah dilalui. Mereka juga yakin bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan; di balik masalah pastilah ada solusinya. Semua itu soal sikap.

Sumber Gbr: https://lpmpjatim.kemdikbud.go.id/site/detailpost/kunci-gerakan-literasi-di-masa-pandemi

                                  

Saat ini Tuhan mengirimkan pandemi covid-19 ke seluruh penjuru bumi. Sekarang, bagaimana sikap manusia dalam menghadapi pandemi? Jika pandemi disikapi secara negatif sebagai musibah atau hukuman, maka dampaknya pastilah merugikan. Lagi pula, untuk apa mengeluh, apatis, dan pesimistik terhadap serangan pandemi? Tidak ada manfaatnya. Maka, lebih bijak kiranya jika pandemi disikapi positif ebagai ujian.

Jika pandemi disikapi secara positif sebagai ujian, masih ada harapan untuk hidup. Mengapa? Dalam hidup sebagai anugerah, manusia memang selalu diuji alias tidak dibiarkan begitu saja. Sadar bahwa hal itu ujian, hidup bersama pandemi harus dilakoni dengan sebaik-baiknya agar mendapat kelulusan terbaik—agar mendapat ganjaran dari apa yang diujikan, mungkin akan berupa naik-tingkat kemuliaan.

Demikianlah, pandemi covid-19 mungkin disikapi negatif oleh sebagian orang, namun di mata orang-orang optimistis pandemi harus disikapi secara positif sebagai ujian. Tatkala mereka bersikap positif, mereka akan mudah terinspirasi untuk melakukan sesuatu, dan kemudian kreatif menemukan berbagai cara untuk melaksanakannya. Jadi, sikap positif sejalan dengan tumbuh-berkembangnya kreativitas.

Para penulis dalam buku ini—para kepala sekolah dan pengawas—bukanlah pihak yang tidak dinaungi mendung pandemi. Mereka juga mengalami (minimal merasakan) semua penderitaan, kesulitan, dan keprihatinan akibat pandemi. Namun, mereka bukan pecundang; melainkan pemenang—setidaknya calon pemenang, dalam menunjukkan kreativitas, yakni menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kali ini mereka bertindak sebagai penulis (mudah-mudahan penulis bukan hanya untuk buku ini.)

Maka, dengan kreativitas masing-masing, para penulis menuangkan gagasan, pengalaman, dan refleksi terkait dengan pandemi. Ada yang menulis tentang lockdown versi guru: belajar di rumah dan mengajar dari rumah. Ada yang menampilkan kontribusi (kecil) peningkatan kesadaran masyarakat terkait covid-19. Ada pula yang membidik sisi positif di balik pandemi covid-19. Ada pula yang menyorot tentang dampak pandemi pada implementasi perubahan kebijakan pendidikan.

Selain itu, ada topik-topik menarik lain yang mereka angkat terkait pandemi: Pandemi menjadi momentum menguji kreativitas guru, pendidikan religi, kesantunan berbahasa, peningkatan literasi teknologi, eksistensi guru pembelajar, eksplorasi nilai kearifan lokal Jawa, rekonstruksi psikologi di balik pandemi, serta refleksi kinerja selama semester ini.

Home learning juga diabadikan di dalam buku, bahkan ditulis oleh beberapa penulis, misalnya home learning sebagai momentum belajar, yang menyuburkan tren pembelajaran virtual yang memanfaatkan teknologi informasi. Ada pertanyaan, memang, apakah orangtua siap menghadapi home learning? Ada yang menjawab dalam tulisan, bahwa mau tak mau orangtua harus siap menjadi guru di rumah. Maka, siapa pun terkondisikan untuk menyiasati home learning.

Tak ketinggalan, ada paparan gagasan tentang konseling di masa pandemi, yakni bertopik cyber counseling. Konseling, yang biasa dilakukan luring (offline, tatap muka), kini ditempuh secara daring (online). Bagaimana rincian paparannya, tentu dapat diikuti selengkapnya di dalam buku ini. Lalu, jangan lupa untuk menemukan artikel yang tak kalah menarik, yakni tentang berliterasi dari rumah dan membangun literasi bangsa.

Dari artikel-artikel mereka di atas, tersusunlah buku ini—sebuah antologi yang menghimpun sekitar duapuluh artikel karya para penulis yang terdiri atas kepala sekolah dan pengawas. Artikel-artikel tersebut telah mereka kerjakan dalam masa sulit dan memprihatinkan, sebagai jawaban nyata atas ujian yang dihadirkan Tuhan. Maka, tak ayal lagi, buku antologi ini merupakan buah perjuangan yang tak kenal lelah.

Tentu, upaya para penulis buku ini patut dihargai sedalam-dalamnya, sebab dengan menyusun buku itu, mereka telah menunjukkan pentingnya nilai keteladanan. Kendati buku ini ditulis bersama, nilai keteladanan tersebut tetap melekat di dalamnya. Dan itu klop dengan tuntutan pembudayaan literasi. Bukankah pembudayaan literasi sangat membutuhkan keteladanan yang nyata?

Keteladanan, ya keteladanan dalam pembudayaan literasi. Para penulis di dalam buku ini agaknya ingin memberikan keteladanan dalam menulis dan menerbitkan buku. Buku tidak harus disusun sendiri, melainkan dapat pula bersama-sama sebagai antologi. Lewat antologi, penulis mengusir kekhawatiran akan dinilai negatif oleh pembaca, dan bahkan menjadi lebih berani menampilkan tulisan. Bukan tak mungkin, penulis-penulis antologi akan menghasilkan buku-buku mandiri.

Keteladanan itu diharapkan berdampak positif bagi sesama kepala sekolah, pengawas, guru, dan pembaca pada umumnya—yakni diteladaninya penulisan antologi atau buku mandiri. Setidaknya, ketika mereka mengajak orang lain untuk menulis buku, mereka telah memiliki otoritas dan kepercayaan diri berkat kapasitas dan pengalaman menulis antologi.

Akhir kata, mudah-mudahan buku ini menemukan takdir terbaiknya di hati pembaca budiman. Mudah-mudahan akan hadir banyak pembaca yang terinspirasi oleh keteladanan para penulis antologi ini. Dengan begitu, disadari atau tidak, mereka akan berupaya untuk menyuburkan titian-titian kontinuitas pengetahuan dari generasi ke generasi. Itulah salah satu tugas penting dunia literasi.[]

*Much. Khoiri adalah dosen Sastra Inggris, penggerak literasi, editor, dan penulis 45 buku dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Buku terbarunya “SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan” (Edisi revisi, 2020).

Thursday, November 5, 2020

TATKALA RTM MASIH DIBURU

Sumber gambar: Dok Pribadi
Oleh: Much. Khoiri 

Di luar dugaan, buku Rahasia Top Menulis (RTM) kini masih diburu pembaca. Buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada akhir 2014 itu selalu ditanyakan publik ketika saya memposting buku-buku teori menulis saya—entah lewat status WA, facebook, atau instagram. Tak saedikit yang masih berharap untuk dapat membeli dan memilikinya.

Seharusnya itu menjadi angin segar bagi saya karena buku yang sudah bertahun berada di pasaran, termasuk toko buku online, ternyata masih dicari pembaca. Ya, tentu, berkat upaya saya yang selalu mengingatkan imej buku itu ke tengah publik. Strategi kecil saya adalah mengingatkan ‘brand’ atau ikon bersama barang sejenis senyampang memperkenalkan barang baru. Itu menguatkan imej.

Kenyataannya, buku RTM masih terus saya promosikan bersama 4 buku teori menulis saya lainnya: Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Writing Is Selling (2020), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (edisi revisi, 2020). Jadi, RTM ikut nebeng keempat buku lain, sekaligus menguatkan eksistensi keempat buku itu.

Kini seharusnya saya bahagia ketika masih cukup banyak publik, terlebih teman dan kenalan dari berbagai status sosial, yang belum sempat membaca RTM itu sekarang ingin memesannya. Namun, apa daya, saya merasa galau, sebab sejujurnya saya sudah kehabisan stok RTM di rumah—tidak seperti empat buku teori menulis lainnya. Yang lainnya ready stock alias tersedia, namun khusus RTM benar-benar habis!

Tahun 2015-2017 saya memiliki stok cukup untuk buku itu, meski ia terpajang di rak-rak sekitar 142 TB Gramedia selama 1,5 tahunan. (Saya kerap mengeceknya secara periodik di dua toko buku Gramedia di Surabaya sepanjang tahun itu.) Saya menyetoknya untuk njagani keperluan mendadak, entah pelatihan, pemesanan, pameran, bedah buku, dan sejenisnya. Jika stok habis, saya memesannya ke gudang Gramedia di Surabaya.

Sejalan bergulirnya waktu, stok RTM pun menyusut dan menipis, mengingat pembelian RTM biasanya bersamaan pembelian sebagian atau seluruh buku teori menulis saya. Lalu, waktu yang khawatirkan itu tiba, yakni tatkala stok RTM benar-benar habis. Dan hal ini terjadi dalam beberapa bulan ini, terutama selama pandemi covid-19 ini. Ketika banyak orang banyak waktu luang dan ingin membaca, stok buku RTM tidak ada.

Sementara itu, saya cukup yakin, di gudang Gramedia cabang Surabaya, buku RTM agaknya tidak tersedia lagi. Pada pemesanan stok terakhir, saya hanya dapat membeli sekitar 100 eksemplar; dan saat itu saya sudah mendapat informasi akan habisnya stok di gudang. Maka, satu-satunya peluang yang paling memungkinkan untuk memenuhi permintaan pasar adalah mencetak ulang kembali.

Poin inilah yang perlu dipertimbangkan. Pada satu sisi, saya ingin memenuhi harapan pembaca agar buku RTM tersedia lagi, sehingga keterbacaannya makin meningkat. Pada sisi lain, saya juga menghitung berbagai konsekwensinya kalau saya memutuskan untuk menghubungi penerbit dalam rangka cetak ulang lagi.

Mudah-mudahan semua ini segera ada solusinya. Saya yakin, bersama kesulitan selalu ada kemudian. Setiap masalah akan ada solusinya. Itu saja!(*)

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, editor, dan penulis buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts