Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Wednesday, April 15, 2020

MENEBAR VIRUS KARAKTER RELIJIUS, Sebuah Kata Pengantar

Buku karya Priyandono

Oleh: MUCH. KHOIRI

BEBERAPA dasa warsa lalu, masyarakat sangat mengagungkan kecerdasan akademik atau lebih akrab dengan IQ (intelligence quotient) sebagai penentu kesuksesan. Barangsiapa memiliki IQ tinggi, dialah yang dipercaya meraih sukses di masa depan. Ternyata, sejalan pergeseran waktu dan konsep kesuksesan, bergeserlah keyakinan masyarakat tentang apa yang berpengaruh besar pada kesuksesan: ada keserdasan emosional (emotional quotient, EQ), kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ), kecerdasan emosional-spritual (emotional and spiritual quotient, ESQ) dan sebagainya.

Penulis buku ini, Sdr. Priyandono, menegaskan pentingnya “karakter relijius.” Meski tidak secara eksplisit mengatakannya, dia sangat yakin bahwa karakter relijius bisa menjadi “kata kuncinya”. Dengan menempatkan karakter sebagai kata kunci, kita bisa mengukur seberapa penting hal ini bagi kerangka pikir dalam penyusunan buku ini.

Karakter relijius sendiri merupakan salah satu karakter utama yang digarap pemerintah kita dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang didukung dengan pembudayaan literasi. Empat karakter utama lain adalah nasionalisme, gotong royong, mandiri, dan integritas. Dalam pandangan penulis buku, karakter relijius merupakan karakter mendasar yang bersumber pada keyakinan pada Tuhan yang sangat penting untuk ditumbuhkembangkan bagi siapa saja—yang dengan sendirinya memperkuat empat karakter lain.

Tatkala orang memiliki karakter relijius kuat, amat boleh jadi dia memiliki jiwa nasionalisme kuat pula; sebab, berbagai Agama juga mewajibkan umatnya untuk membela negara. Orang berkarakter relijius kuat juga suka bergotong-royong; selain karena harus saling-mengenal, dia hakikatnya makhluk sosial yang wajib membantu orang lain. Orang berkarakter relijius juga harus mandiri—malu untuk bergantung pada orang lain; karena itu, dia akan bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Selain itu, orang berkarakter relijius membentuk diri sebagai manusia berintegritas. Dia memiliki konsep diri dan keyakinan diri yang kokoh berkat pengenalan diri yang paripurna.

Bagi penulis buku ini, karakter relijius sangat penting agar setiap gerak dan langkah seseorang selalu menghadirkan Tuhan. Menurutnya, tidak ada satu pun yang diraih seseorang tanpa intervensi Tuhan. Bagi orang berkarakter relijius, Tuhan senantiasa hadir di dalam dirinya: pikiran, perasaan, ucapan, sikap dan perilakunya. Inilah, menurut penulis buku, yang harus ditebarkan dan disuburkan hidupnya di ruang persemaian yang lebih luas.

Menebar virus karakter relijius, tentu, bisa beragam caranya. Dalam buku ini, penulis buku berbagi tulisannya—dengan keyakinan bahwa artikel-artikel yang ada berpotensi memiliki andil besar membentuk karakter relijius. Bahkan, dia menegaskan, buku ini dapat menuntun seseorang menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Tentu saja, semua itu terjadi tatkala artikel ini dibaca, dipahami, dan diamalkan dengan segenap hati. Jangan percaya sekarang; bacalah dulu isinya, barulah Anda boleh bersikap.

 Terdapat 15 artikel yang menarik untuk dituntaskan satu per satu—yang kebanyakan merupakan artikel reflektif dan evaluatif atas fenomena atau pengalaman hidup yang beragam. Artikel pertama, yang menjadi judul buku ini, adalah “Bisnis dengan Tuhan” yang mengisyaratkan kepada pembaca untuk hanya berbisnis atau bertransaksi dengan Tuhan. Jika kita beribadah, lakukan yang terbaik dan ikhlas, dan biarlah Tuhan “membayar” nilai pengabdian yang kita tunaikan. Demikian pun ketika kita bersedekah, beramal shalih, dan sebagainya. Artikel ini mengandung bias-bias makna yang luas, sehingga tepat rasanya jika ia jadikan judul buku ini.

Artikel-artikel lain seperti “Mencari Berkahnya, Bukan Jumlahnya”, “Rezeki Terbaik adalah Sabar”, “Padukan Kesalehan Ritual dengan Kesalehan Natural”, “Menghadirkan Tuhan di Sekolah”, dan sebagainya menawarkan pencerahan-pencerahan  yang patut dipetik hikmah dan inspirasinya. Akan lebih indah maknanya tatkala kita sebagai pembaca melakukan refleksi kritis dan evaluatif setelah membaca setiap satu artikel. Rasakan ada dialog kecil internal yang mengayakan.

Saya berharap, seluruh artikel dalam buku ini menyapa pembaca dengan telaten hingga titik terakhir. Setidaknya seperti yang saya alami, buku ini membuat saya betah membacanya—karena buku disajikan dengan bahasa egaliter, sederhana, dan mengalir. Bagi siapapun yang memburu karakter relijius—baik siswa, guru, praktisi pendidikan, maupun masyarakat umum—buku ini pantas dijadikan dalah satu koleksi bacaan yang mencerahkan.

Tentu saja, dalam kesempatan ini, saya sampaikan apresiasi kepada penulis buku ini, seseorang guru yang memang suka menulis di berbagai media massa dan jurnal ilmiah. Diterbitkannya buku ini membuktikan bahwa penulis buku ini termasuk dalam jajaran “guru penulis”, yakni guru yang profesional dan sekaligus menekuni avokasi (profesi tambahan) sebagai penulis. Mudah-mudahan Pak Pri—begitu saya sering menyapanya—istiqamah dalam berkarya dan menyandang status guru penulis.

Dengan memohon ridha Tuhan yang Maha Pemurah, saya panjatkan doa dari lubuk hati paling dalam agar virus relijius menebar luas ke segala penjuru negeri tercinta ini. Insyaallah kelak kita akan mendapati lebih banyak manusia Indonesia yang kuat karakter relijiusnya. Akhirnya, selamat membaca dengan segenap hati, dan selamat memetik mutiara hikmah dan inspirasi.[]

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Ki Priyandono berjudul “Berbisnis dengan Tuhan” (Jakarta, Elex Media Komputindo, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789




JARAK FISIK, BUKAN JARAK SOSIAL

Dok. Pribadi

Oleh: Much. Khoiri

KALAU Anda akan masuk ke wilayah kami, salah satu blok di Perumnas Kotabaru Driyorejo, kami mohon maaf telah menerapkan sterilisasi wilayah. Pasalnya, kami harus melindungi keamanan dan kenyaman warga kami, dari kemungkinan penyebaran Covid-19. Kami mencoba memutus penyebaran itu.

Di gang-gang masuk, palang pintu kami pasang, dengan tulisan informatif tentang sterilisasi itu. Mohon pengertiaannya. Kami pun juga tidak bisa keluar lewat gang berpalang itu. Dari wilayah empat RT, hanya satu pintu masuk-keluar kami; selebihnya tertutup palang. Pengurus kampung ingin menegakkan hal ini. Jadi, Anda yang terbiasa melintas kampung kami, sudilah kiranya untuk memutar sedikit lewat jalan tengah.

Kalau ada tamu dari luar wilayah ke salah satu warga kami, protokol kesehatan dijalankan. Kami sampaikan ke pengurus jika perlu. Bukan hanya jaga jarak fisik, termasuk tidak bersalaman dan mengatur tempat duduk, namun juga mencuci tangan dengan sabun. Untuk itu, pengurus telah menyediakan air pancur dan sabun di sejumlah bagian jalan kampung.

Demi kewaspadaan, kami bahkan melakukan penyemprotan disinfektan satu kali seminggu, setidaknya sampai ke beranda setiap rumah. Seluruh pengurus dan adik-adik remas (remaja masjid), plus dukungan donasi dari para dermawan, semoga dibalas Allah dengan limpahan pahala kebaikan. Tak terlewat, seluruh warga pun berpartisipasi di dalam menjaga kebersihan lingkungan. Semoga semua tercatat sebagai amal shalih.

Jangankan yang bersifat klasikal seperti itu. Dalam skala kecil pun, kami harus menerapkan jaga-jarak fisik (physical distancing). Untuk Anda yang terbiasa melewati kampung kami, kali ini, mohon maaf, kami tidak bisa bersalaman dengan Anda. Bukan berarti kami sombong, namun kami hanya waspada, sebab Covid-19 bisa menyebar lewat sentuhan. Kita harus memutus itu.

Jika Anda tidak mau bersalaman, kami juga sudah paham. Termasuk, untuk ibu-ibu, kami paham jika tidak ada ritual cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Kami tidak akan mengecap Anda sombong atau arogan, tidak sama sekali. Kita cukup mengangkat setangkup dua tapak tangan kita di dada, dan mengatakan permohonan maaf atau salam. Itu kiranya sudah cukup untuk mewakili salaman kita.

Jangankan bersalaman atau cipika-cipiki dalam pergaulan. Seusai ibadah shalat pun, kali ini kami tidak saling berjabatan tangan. Setelah salam, kami langsung berwirid dan berdoa secukupnya, dan lekas pulang ke rumah masing-masing. Sebagian di antara kami masih harus memakai masker selama shalat di masjid.

Jadi, mohon dipahami, semua itu hanya jaga jarak fisik, jangan dimaknai sebagai jaga jarak sosial (social distancing). Ada perbedaan antara jarak fisik (physical distance) dan jarak sosial (social distance). Imbuhan –ing pada kata distance bermakna “ambil jarak”.

Jarak sosial itu jarak antar individu dalam kehidupan sosial. Jarak sosial itu mengasosiasikan dekat-jauhnya hubungan sosial antara warga satu dan warga lain. Jika kami tetap merasa rukun, bersama, dan berjiwa gotong-royong—termasuk dalam penerapan sterilisasi wilayah---itu artinya jarak sosial kami dekat. Sebaliknya, jarak sosial kami jauh andaikata kami tidak pernah saling menyapa atau bahkan berkonflik.

Nah, dalam sikon lock-down atau sterilisasi wilayah ini, biarlah kami mengalami jaga jarak fisik saja, tetapi jangan sampai terjadi jarak sosial yang jauh. Dengan kata lain, meski kami tidak saling bersalaman, mengobrol bersama, dan berkerumun dalam hajatan, kami pastikan kami adalah saudara yang saling menyayangi—dengan jarak sosial yang amat dekat. Bahkan, kita ibaratnya tanpa jarak sosial.

Justru dengan kedekatan jarak sosial, masih tetap berdoa bersama, entah berjamaah di masjid atau di rumah masing-masing, itu menguatkan solidaritas sosial kami. Bahkan ikatan sosial kami menjadi semakin kuat. Senasib sepenanggungan kami alami bersama, termasuk menghadapi ujian covid-19 sendiri. Kebersamaan kami hadir dalam kehidupan.

Kami punya Allah, Tuhan Yang Maha Segala-galanya. Kami percaya, firman Allah dalam QS Al-Insyirah (ayat 6): “inna ma’al-‘usri yusraa, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Dengan ikhtiar dan doa kami bersama kami akan diberi kekuatan untuk melewati ujian covid-19 dengan baik-baik saja. Semoga Allah menhabulkannya. Aamiinx100.[]

*Much. Khoiri adalah penggerak literasi, dosen, trainer, editor, dan penulis 42 buku dari Unesa Surabaya. Tulisan ini pendapat pribadi.


Monday, April 13, 2020

Berguru pada Aceng (2): Sadar dan Bangkit

Gambar dari ikiwonosobomas.com

Oleh: Much. Khoiri

Tidak selamanya hitam itu hitam; ia bisa berubah, mungkin menjadi abu-abu atau putih. Begitulah, Aceng tidak stagnan menjadi preman yang biasa memalak orang lain. Manusia bisa berubah menjadi lebih baik. Dia sadar akan siapa dirinya karena suatu sebab yang sangat penting. Sebuah pemicu (trigger) hadir untuk menggugah kesadarannya.

Ya, pemicu kesadaran itu kelihatannya sederhana, namun sangat dahsyat membangun kesadaran Aceng. Yakni, ada seorang difabel, seperti dirinya, melewati dirinya bersama istri cantiknya dan empat anaknya. “Wah, dia yang difabel saja bisa punya istri cantik dan punya empat anak, berarti aku juga bisa dong,” begitu pikirnya. “Aku tidak boleh putus asa. Aku harus bangkit menjadi manusia yang baik.”

Maka, pensiunlah dia dari statusnya sebagai preman. Dia ingin menjadi Aceng yang baru. Metamorfosis. Setidaknya, dia juga ingin menjadi manusia yang “normal”, memiliki keluarga seperti difabel yang beristri cantik dan beranak empat orang. Maka, dia memutar otak untuk menemukan talenta terpendamnya. Dia belajar bermain gitar! Tidak singkat waktunya. Enam tahun dia berlatih bermain gitar!

Itulah prinsip hidupnya yang tak mudah tergoyahkan, yakni semangat belajar. Dia bersemangat belajar main gitar dan menyanyi meski di mata orang normal semua itu mustahil, setidaknya sangat sulit dilakukan. Bagaimana mungkin Aceng bermain gitar hanya dengan jari-jari kakinya; sedangkan bermain dengan jemari tangan saja tidaklah mudah. Bagaimana jari-jari kakinya bisa memencet senar-senar gitar dengan pola-pola tertentu untuk menghasilkan suara yang diinginkan? Sekali lagi, belajar!

Bahkan, kepada Kich Andy, dia mengaku, dia bisa makan dengan supit pun karena mau belajar. Kick Andy sejenak terkejut atas pengakuan itu. “Saya saja kesulitan makan pakai supit,” selorohnya. Maka, spontan, Aceng menukasnya: “Nggak mau belajar sih.” Dia lantas tertawa berderai. Kick Anda juga menanggapinya dengan tawaan, disertai gemuruh tepuk tangan hadirin di dalam studio rekaman.

Namun, kepahitan belum lagi sirna dari kisah perjanalan Aceng. Begitulah, emas tidak akan kelihatan emas jika tidak digosok dan diolah. Emasnya Aceng ya karena dia diuji dengan berbagai kesulitan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Dia digosok dan diolah untuk menjadi Aceng baru yang memiliki kualitas emas. Apa gosokan itu? Salah satunya adalah dia pernah---bahkan dua kali---berniat melakukan upaya bunuh diri, semua karena cinta. Orangtua gadis yang dicintainya tidak menyetujui hubungan asmara tidak normal itu. Dia ditolak camer alias calon mertua.

Penolakan orangtua gadis yang dicintainya, dua kali bahkan, permah membuatnya ingin bunuh diri. Pikirnya, tidak ada gunanya Aceng hidup lebih lama lagi. Dunia terasa gelap, nyaris tiada cahaya terang bagi hatinya. Namun, dia teringat janji hatinya untuk menjadi manusia yang baik. Maka, Aceng mengurungkan niatnya untuk melunasi hidupnya. Selain terhantui rasa berdosa, bunuh diri tidak menyelesaikan masalah apa pun. Lagi pula, tetangga yang diminta memasangkan tali gantung, tidak mau, malah ketakutan.

Karena itu, kasus penolakan itu tidak membuatnya bunuh diri, melainkan menyebabkan tekadnya membaja untuk menunjukkan bahwa dia bisa menjadi manusia berprestasi. Maka, makin rajinlah dia berlatih main gitar dan menyanyi. Dia rela menjadi pengamen untuk sumber penghidupan, dan baginya itu lebih mulia ketimbang menjadi preman. Itu halal, sehalal bekerja keras seperti para tenaga kasar yang mengucurkan keringat setiap saat. Istilahnya, itu kerja keras banting tulang.

Maka, emas itu akhirnya jadilah. Apa yang digosok, kelihatanlah hasilnya. Apa yang telah Aceng tanam, akhirnya dia panen. Penghargaan MURI diterimanya pada 2006, berkat kemampuannya bermain gitar dan menyanyi sekaligus. Subhanallah, Tuhan tidaklah tidur. Doa dan harapan Aceng dikabulkan oleh-Nya. Dan itu ada konsekwensinya. Termasuk, dia akhirnya diundang Kick Andy untuk sebuah wawancara ekslusif.

Dia sudah menjadi “orang” sekarang. Namun, rasa syukurnya telah dia wujudkan ke dalam kebaikan. Dia menemukan perempuan shalihah sebagai istrinya, yang kini telah memberikannya seorang anak laki-laki. Anak laki-laki normal fisik, yang paling dia sayang. Jangankan menjadi preman, pekerjaan yang tidak halal pun dia tidak mau jalani. “Saya jadi juru parkir. Itu lebih baik daripada meminta-minta,” begitu pungkasnya.

Deg! Coba bayangkan, apa yang kita bisa lakukan seandainya kita berada di posisi Aceng, sama halnya kalau kita berada di posisi Lena. Sungguh sulit dibayangkan, bukan? Dia begitu tangguh, begitu besar semangat belajarnya, begitu tabah hatinya, begitu hebat prestasinya, dan begitu indah kebanggaan yang dia teladankan kepada anaknya. Terus terang, kita bisa belajar banyak dari Aceng, ilmu-ilmu laku yang sangat menggetarkan siapa saja. Kita bisa belajar pintar padanya; kita juga bisa belajar kebijaksanaan hidup padanya.[]

TAMAT

Berguru pada Aceng (1): Hadirnya Siluet Lena

Gambar dari ikiwonosobomas.com 

Oleh: Much. Khoiri

TATKALA “berkenalan” dengan Aceng alias Albert Dany Setiawan (alm), tuna daksa dari Wonosobo, lewat acara Kick Andy, sejenak ingatan saya terlempar pada sebuah video berkisah tentang Lena. Kondisi Lena hampir sama dengan Aceng, sama-sama tuna daksa, namun sama-sama menjadi manusia luar biasa di balik ketunaan fisik. Bedanya Lena perempuan, sedangkan Aceng laki-laki.

Dalam video itu tampak Lena kecil yang terlahir tanpa tangan, sama persis dengan kondisi Aceng. Lena diasuh orangtuanya dengan kasih sayang mendalam, karena orangtuanya berada dan berpendidikan. Mereka tahu bagaimana mendidik dan menggali potensi anak. Maka, Lena dididik sebagaimana anak normal, termasuk dilatih berenang, makan sendiri, dan sebagainya. Justru, Lena dididik secara lebih telaten dibandingkan anak normal. Ayahnya suka mengajarinya berenang.

Maka, sejalan dengan waktu berputar, Lena tumbuh menjadi gadis mandiri, dengan berbagai talenta yang dimilikinya. Dia bisa melakukan semua tugas domestik dengan kakinya sendiri. Melihatnya, kadang hati tersedot habis, air mata meleleh. Dia bermain piano, memasak, membersihkan rumah, dan sebagainya. Bahkan, dia menjuarai lomba renang difabel tingkat internasional. Juara, bayangkan! Maka, jangan kaget, dia bisa melakukan lebih dari itu—berarti melampaui kondisi fisiknya!

Ya, dia akhirnya berkeluarga. Ada lelaki berhati lembut yang menjadi tempat kepala Lena bersandar, tempat hati Lena berlabuh, dan tempat Lena berbagi hari demi hari yang dilaluinya. Dialah lelaki yang sekali tempo membiarkan Lena juga menyetir mobil sendiri. Sebuah pembiaran yang hakikatnya menghargai nilai kemandirian, sebuah wujud kasih sayang yang sesungguhnya.

Waktu pertama kali saya menonton video Lena, saya sangat malu. Sebenarnya! Itu beberapa tahun silam, tatkala saya masih cukup muda, dengan anggota tubuh lengkap dan sempurna. Malu karena saya belum mencapai prestasi yang Lena ukir sampai tingkat internasional. Belum lagi jika dijejer apa saja yang bisa dilakukan Lena, dengan kondisi fisik tanpa kedua tangan, sungguh, saya semakin malu. Saya tersudut di pojok onggokan sampah kehidupan. Saya bukanlah siapa-siapa.

Ternyata, kini siluet Lena kembali terbayang di depan mata. Ya, tepat di depan mata saya yang telanjang. Dia menjelma sebagai Aceng, tuna daksa Wonosobo yang diundang ke acara Kick Andy. Dari status sosial ekonomi, Aceng memang tidak sesejahtera Lena, demikian pun orangtua Aceng juga tidak sebanding orangtua Lena. Orangtua Lena cukup berada dan berpendidikan, namun tidak demikian orangtua Aceng.

Menurut pengakuan Aceng yang polos, kondisi tanpa kedua tangan itu pembawaan sejak lahir, sama dengan kondisi Lena. Namun, kelahiran Aceng laksana prahara dalam rumah tangga orangtuanya. Ibunya shock dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aceng tidak punya dua tangan. Itu kenyataan teramat pahit dan getir, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Merasa malu teramat sangat. Bahkan, ayahnya juga ikut-ikutan malu seperti ibu Aceng.

Saking besarnya rasa malu itu, pernah suatu ketika kedua orangtuanya berniat membunuh Aceng. Namun, niat itu diurungkan, mengingat mereka perlahan tahu bahwa Aceng ternyata bisa menjalani hidup seperti anak normal teman sepermainannya. Aceng kecil juga makan sendiri, main kelereng, main layang-layang, naik sepeda, dan sebagainya. Belakangan, makan dengan supit pun bisa!

Berlatar sosial ekonomi rendah, semasa remaja Aceng tumbuh menjadi preman. Agak menggelikan, memang. Bagaimana mungkin Aceng tanpa tangan bisa menyandang predikat preman? Ya, dia telah berlatih taekwondo. Bela dirinya bagus. Satu lagi, nekad! Jika berkelahi, dia nekad, sebab tidak ada yang disayangkan di dunia ini. Jika mati karena berkelahi, misalnya, dia tidak punya harta yang ditinggalkan. Ibaratnya, tidak ada yang digandoli. Maka, status preman disandangnya untuk beberapa tahun lamanya.

(BERSAMBUNG)


Sunday, April 12, 2020

Prakata “Much. Khoiri dalam 38 Wacana”

Buku karya Much. Khoiri

Oleh MUCH. KHOIRI
SEPUTAR gebyar tahun baru 2016 sebuah akrobat kecil terjadi dalam diri saya. Hingga 31 Desember 2015 tengah hari, sebenarnya fokus saya masih pada menulis buku, yang judulnya tak perlu saya sebutkan di sini. Sore hingga petang saya mendampingi keluarga jalan-jalan di mal Sutos, makan di Kampoeng Surabaya, dan menonton film Negeri Van Oranje—sepaket wisata budaya yang pas untuk menyegarkan dan mencerahkan diri. Terlebih, dentum musik yang malamnya akan mengiringi Raisha masih terdengar saat kami beranjak meninggalkan Sutos. Dalam sikon semacam ini fokus saya masih pada buku yang sedang saya kerjakan.
Akrobat itu—ah, ternyata tidak kecil—terjadi tatkala, menjelang tengah malam, saya mulai menghadap laptop guna mencari sebuah informasi di Google search. Entah kekuatan apa yang menggerakkan, tiba-tiba jari-jari saya mengetik nama saya: Much. Khoiri. Maka, terpampanglah di layar laptop itu beberapa alamat laman website yang memajang nama saya, tulisan saya, atau tulisan orang lain tentang saya. Terpana, saya coba buka satu-persatu dengan penasaran. Lalu, saya buka layar berikutnya dan selanjutnya—hingga saya temukan banyak tautan di sana. Saya begitu excited karenanya sehingga saya tidak peduli dengan kembang api yang berpendaran atau suara terompet tahun baru yang bersahutan di luar sana. “Dahsyat! Ini harus dijadikan sebuah buku,” pikir saya spontan.
Dan saat itulah jungkir-balik itu menghantam dan menguji saya. Saya sisihkan proyek buku saya dari pikiran dan jiwa saya, dan saya berpaling pada gagasan baru yang sedang memberontak. Gagasan itu ialah menghimpun tulisan-tulisan orang lain tentang saya dan buku-buku saya, terutama Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014), Rahasia TOP Menulis (2014), dan Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015). Tulisan-tulisan itu berupa resensi, catatan, opini, berita, atau tinjauan biografis tentang saya. Maka, mulailah saya mengunduh semua tulisan yang ada.
Ternyata, total jenderalnya, ada puluhan artikel yang bisa saya peroleh, saya temukan, bukan saya pesan. Ada yang dari blog Kompasiana.com, ada yang dari website lembaga, ada yang dari blog pribadi, dan ada pula yang dari suratkabar online.  Semuanya membuat saya sangat antusias dan semakin membulatkan tekad saya. Tekad saya, do it with passion or not at all, lakukan dengan sepenuh gairah atau tidak sama sekali. Menyusun buku perlu memenuhi prinsip semacam ini: Do it with passion or not at all.
Kemudian, hasil unduhan saya pilah dan pilih untuk merancang sebuah buku. Yang tak relevan saya sisihkan, yang relevan saya pasang—dan untuk melengkapinya saya temukan tulisan lain atau arsip unduhan jauh-jauh hari. Akhirnya, dengan perjuangan yang menggairahkan, saya pilah buku bertajuk Much. Khoiri dalam 38 Wacana ini menjadi empat bagian: tentang Jejak Budaya Meretas Peradaban, tentang Rahasia TOP Menulis, tentang Pagi Pegawai Petang Pengarang, dan tinjauan biografis/apresiasi. Yang dimaksud  “wacana” di sini mengacu ke jenis atau genre tulisan semisal resensi, catatan, opini, berita, atau tinjauan biografis. “Tinggal membuat prakata, menemukan pakar untuk kata pengantar, dan membuat epilog,” begitu pikir saya.
Mengapa menggairahkan? Pertama, karena saya menemukan tulisan-tulisan yang berserakan itu tanpa sengaja dan tanpa pesanan. Ibaratnya, saya menemukan harta karun yang amat berharga. Kedua, saya mendapati persepsi, pendapat, dan sikap yang apa adanya (bukan hanya pujian melainkan juga kritik dan masukan) dari pembaca atau penulis lain terhadap saya dan buku-buku saya. Respons mereka sangat berharga bagi saya untuk bahan refleksi diri. Ketiga, saya ingin menuntaskan buku ini untuk kemudian segera kembali ke buku yang tak kalah menariknya bagi saya.
Terhadap naskah-naskah yang ada, saya hanya melakukan pemolesan bahasa serba sedikit alias seperlunya jika bahasa yang digunakan para penulis berpotensi mengganggu komunikasi; sementara substansi isinya tetap utuh. Tata tulis, tanda baca, kata penghubung, dan sejenisnya perlu saya perhatikan dalam penyuntingan. Paragraf yang terlalu panjang juga saya pecah menjadi dua atau tiga paragraf, guna menghindari kejenuhan pembaca. Singkatnya, tugas saya dalam penyuntingan ini hanya membantu agar pesan naskah bakal sampai pada pembaca.
Jadi begitulah, tahun baru 2016 adalah momentum emas yang membuat saya berpindah perhatian dari buku satu ke buku lain—akibat begitu kuat daya berontaknya untuk minta segera “dilahirkan”. Hingga hari ketiga, Minggu 3 Januari 2016, saya telah tersedot ke dalam permainan akrobat ini—tentu, dalam waktu tugas avokasi menulis saya. Saya menata artikel unduhan, menyuntingnya, mendokumentasikan sumbernya, mencarikan foto-foto untuk menambah refleksi, dan mengontak para penulis artikel. Hari-hari ke depan saya yakin, saya masih akan bergerak di dalam kumparan ini, hingga akhirnya semua bahan itu terajut dan menemukan takdirnya sebagai buku.
Proses kreatif, memang, sering tidak bisa ditebak ke mana juntrungnya. Tak jarang proses kreatif secara absurd mempermainkan orang yang melakoninya. Selama menggarap sebuah gagasan, terlebih karya panjang semisal buku, kita mungkin “diserang” gagasan-gagasan lain. Menulis, bagaimanapun juga, adalah proses dialog diri dan pergulatan bathin; dan di sanalah tumbuh gagasan-gagasan baru yang mungkin memperkaya gagasan yang sedang dikerjakan atau malah “menyerang” kita. Mana yang lebih kuat, itulah yang menguasai kita. Dan akrobat semacam ini telah membuat saya tersandera untuk menuntaskannya. Dalam hal ini saya terpaksa tunduk pada takdir proses kreatif saya.
Maka, mau tak mau saya harus menyelesaikan tanggungjawab saya, sebab sebenarnya sebagai penulis saya juga memikul tanggungjawab itu. Di sini taggungjawab saya ialah meladeni tantangan pemberontakan gagasan baru, dan kemudian saya akan segera kembali untuk melunasi utang saya, yakni menuntaskan buku saya yang tertunda. Itulah mengapa “pengorbanan” saya untuk mewujudkan gagasan baru—berupa buku yang Anda pegang ini—saya harapkan cukup sepadan dengan kemanfaatannya bagi Anda sebagai pembaca.
Mudah-mudahan Anda menemukan hikmah dan inspirasi yang berlimpah, dan dari sanalah Anda juga akan menebarkan virus hikmah dan inspirasi kepada ribuan pembaca Anda. Selamat membaca dan menulis untuk melunasi tanggungjawab Anda dalam ikut mencerdaskan anak bangsa. Insyaallah kelak kita akan bersua di dalam jiwa-jiwa mereka dan buku-buku mereka.*[]
Driyorejo, 11 Januari 2016
*Tulisan di atas diambil dari buku Much. Khoiri “Much. Khoiri dalam 38 Wacana” (Unesa University Press, Surabaya, 2016), halaman ix-xiii.
**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Serial Virus Emcho (4): AMPLOP BERKAH DARI PAK EMCHO

Buku karya Much. Khoiri

Oleh A Mustamsikin Koiri

Sore tadi tukang pos dengan senyuman khasnya, menyapa penulis untuk mengantar sebuah amplop paketan. Dengan sigap penulis pun menghampiri tukang pos seraya menyapa dengan penuh akrab untuk sekadar mengherek-herek (baca: menandatangani, ed.) resi kiriman.

Sembari menerima amplop tersebut penulis, penulis membaca sepintas pengirimnya, seraya mengucap syukur dalam batin. Amplop kali ini benar-benar membuat penulis merasa amat bahagia. Bukan saja karena deretan kata yang ditulis rapi di luar amplop belaka, melainkan lebih pada isinya.

Sembari mengetahui pengirimnya, kemudian penulis meyakinkan dalam hati bahwa isi dalam amplop tersebut pasti sebuah buku. Ternyata, dugaan penulis semula benar. Bahwa isi amplop tersebut adalah sebuah buku--yang kemudian penulis namai dengan 'amplop berkah'.

Buku tersebut disusun dan dikirim langsung oleh Pak Emcho--sapaan akrab Much Khoiri---pegiat literasi, penulis kondang, dan dosen Unesa Surabaya. Dari pengirimnya, segenap pembaca pasti telah cukup banyak mengetahui, kemashurannnya di bidang literasi.

Buku kiriman Pak Emcho kali ini sungguh membawa kebahagiaan bagi saya. Selain oleh sebab buku ini dikirim langsung oleh penyusunnya, dalam buku ini terdapat segelintir paragraf yang saya persembahkan untuk Pak Emcho.

Sepintas buku ini merupakan efek virus literasi yang disebarkan oleh Pak Emcho. Virus-virus yang ditularkan oleh Pak Emcho sungguh telah menjangkiti segenap penulis dalam buku tersebut.

Selanjutnya, perlu dipahami dengan kata virus di sini bukan virus penyakit, melainkan virus penebar cinta literasi yang menjangkiti pembaca oleh sebab banyak hal yang bersangkut-paut dengan Pak Emcho. Termasuk yang bersangkutan dengan Pak Emcho adalah inspirasinya untuk selalu konsisten menulis. Ia selalu membawa inspirasi bagi siapapun untuk mencintai dunia literasi, baik inspirasi tersebut dengan membaca buku karya Pak Emcho, atau pun bersapa akrab melalui tatap muka dengannya.

Tidak dimungkiri, memang Pak Emcho merupakan sosok yang amat inspiratif dan humoris. Tulisan-tulisannya selalu menggugah pembaca untuk segera menulis.

Kenyataan yang demikian pun terekam jelas dalam buku ini. Buku ini memberikan informasi yang cukup memadai untuk meneguhkan betapa besar virus literasi yang telah ditebarkan oleh Pak Emcho.

Sebagai pemungkas tulisan ini, penulis berterimakasih banyak kepada Pak Emcho yang telah mengikutsertakan sederet kalimat dalam buku tersebut. Untuk keduakalinya, penulis amat berterimakasih atas buku gratisnya. Semoga Pak Emcho senantiasa mendapat keberkahan dari-Nya, serta terus dapat menginspirasi siapapun.[]

Wallahu A'lam Bisshawab.

Kediri, 23 Januari 2018.

*Artikel di atas diambil dari buku karya Much. Khoiri “Virus Emcho Melintas Batas Ruang Waktu” (Sidoarjo, Tankali, 2020), hlm. 10-12.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Kata Pengantar: MEMBIASAKAN ANAK MENULIS

Buku karya Farida Hanum
Oleh: MUCH. KHOIRI

PEMBIASAAN sikap dan perilaku serta penanaman nilai-nilai membuahkan hasil signifikan ketika pembiasaan dimulai sejak masa kanak-kanak. Semakin intensif pembiasaan itu, semakin signifikan dampaknya. Mengikuti perspektif behavioristik ini, pembiasaan kegemaran menulis anak bisa ditumbuhkembangkan dengan berbagai upaya yang disengaja.

Agaknya itulah yang dimaksudkan oleh penulis buku ini, seorang guru yang sehari-hari berperan sebagai guru dan sekaligus ibu. Berangkat dari keprihatinannya atas kondisi menyedihkan terkait dunia anak yang rendah kebiasaan menulisnya, penulis buku ini mengajak pembaca, terutama orangtua, untuk menumbuhkan kegemaran anak menulis.

Menurut penulis buku, menumbuhkan kegemaran menulis anak, tentu, tidaklah mudah. Salah satu tantangan adalah kehadiran gadget yang lebih menarik dari pada buku, yang cenderung membuat mereka terlena untuk bermain-main. Di ponsel mereka lebih cenderung menulis pesan entah apa saja dengan bahasa seenaknya pula. Mereka berkomunikasi dengan "register" khas mereka. Singkatnya, andaikata mereka membaca dan menulis, semua itu masih tidak beraturan.

Membangun kegemaran dan kebiasaan menulis anak, dengan demikian, urgen dilakukan. Untuk itu, bagi penulis buku ini, orangtua perlu memahami karakter anak dengan baik. Kebiasaan membaca pun perlu dibangun, sebab membaca itu sumber pengetahuan untuk menulis. Selain itu, peran orangtua dan guru, keteladanan keluarga, serta dukungan pihak sekolah sangat diperlukan. Terutama keteladanan, sungguh sangat penting maknanya.

Membimbing anak menulis dengan keteladanan itu memiliki dampak yang sangat kuat. Anak akan menurut apa yang diarahkan oleh guru atau orangtua ketika keteladanan diberikan. Ibaratnya, anak akan mau mandi kalau orangtua sudah mandi, mau mengaji kalau orangtua suka mengaji, mau ke tempat ibadah kalau orangtua suka beribadah, dan seterusnya. Tanpa keteladanan, bimbingan atau pendampingan akan kehilangan (setidaknya kekurangan) daya pengaruhnya.

Penulis buku ini, dengan caranya sendiri, mengarahkan pembaca, terutama orangtua, dari bagaimana memahami karakter anak, membangun kebiasaan membaca, hingga seputar tulisan anak. Pada bab terakhir dia memaparkan trik menulis, menulis dari nol, menulis pengalaman, membuat anak gila menulis, dan menerbitkan tulisan anak. Sekali lagi, bimbingan atau pendampingan perlu disertai keteladanan yang memadai. Dengan begitu, tepat kiranya guru atau orangtua menggunakan kalimat ajakan: "Yuk menulis, Nak."

Tentu saja, penulisan buku ini diharapkan menjadi virus bagi guru lain atau pembaca umumnya. Ia akan menebar ke berbagai lini sekolah, menyapa ribuan atau jutaan guru sehingga mereka tergerak untuk menulis buku tentang aneka strategi membudayakan literasi di sekolah dan rumah. Mereka akan menjadi bagian dari rentangan tali kontinuitas pengetahuan yang berkesinambungan. Anda, tentu, termasuk di dalamnya.

Mudah-mudahan seluruh pembaca buku ini menemukan mutiara hikmah dan inspirasi untuk mengabadikan berbagai gagasan dan pengalaman ke dalam buku yang menyejarah. Tatkala itu terjadi, impian terpendam penulis buku ini menjadi kenyataan. Betapa bahagianya saat menulis menjadi amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir tanpa jeda.[]

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Farida Hanum berjudul “Yuk Menulis, Nak!: Menumbuhkan Anak Gemar Menulis” (Jakarta Utara, Mediaguru Digital Indonesia, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts