Inilah Ruang Kreatif untuk Refleksi dan Narasi Literasi: Corong Virus Emcho Menyuarakan Pikiran, Imajinasi, dan Emosi Tanpa Batas Ruang dan Waktu. Gigih Berjuang Lewat Tulisan!

Sunday, April 12, 2020

Prakata “Much. Khoiri dalam 38 Wacana”

Buku karya Much. Khoiri

Oleh MUCH. KHOIRI
SEPUTAR gebyar tahun baru 2016 sebuah akrobat kecil terjadi dalam diri saya. Hingga 31 Desember 2015 tengah hari, sebenarnya fokus saya masih pada menulis buku, yang judulnya tak perlu saya sebutkan di sini. Sore hingga petang saya mendampingi keluarga jalan-jalan di mal Sutos, makan di Kampoeng Surabaya, dan menonton film Negeri Van Oranje—sepaket wisata budaya yang pas untuk menyegarkan dan mencerahkan diri. Terlebih, dentum musik yang malamnya akan mengiringi Raisha masih terdengar saat kami beranjak meninggalkan Sutos. Dalam sikon semacam ini fokus saya masih pada buku yang sedang saya kerjakan.
Akrobat itu—ah, ternyata tidak kecil—terjadi tatkala, menjelang tengah malam, saya mulai menghadap laptop guna mencari sebuah informasi di Google search. Entah kekuatan apa yang menggerakkan, tiba-tiba jari-jari saya mengetik nama saya: Much. Khoiri. Maka, terpampanglah di layar laptop itu beberapa alamat laman website yang memajang nama saya, tulisan saya, atau tulisan orang lain tentang saya. Terpana, saya coba buka satu-persatu dengan penasaran. Lalu, saya buka layar berikutnya dan selanjutnya—hingga saya temukan banyak tautan di sana. Saya begitu excited karenanya sehingga saya tidak peduli dengan kembang api yang berpendaran atau suara terompet tahun baru yang bersahutan di luar sana. “Dahsyat! Ini harus dijadikan sebuah buku,” pikir saya spontan.
Dan saat itulah jungkir-balik itu menghantam dan menguji saya. Saya sisihkan proyek buku saya dari pikiran dan jiwa saya, dan saya berpaling pada gagasan baru yang sedang memberontak. Gagasan itu ialah menghimpun tulisan-tulisan orang lain tentang saya dan buku-buku saya, terutama Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014), Rahasia TOP Menulis (2014), dan Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015). Tulisan-tulisan itu berupa resensi, catatan, opini, berita, atau tinjauan biografis tentang saya. Maka, mulailah saya mengunduh semua tulisan yang ada.
Ternyata, total jenderalnya, ada puluhan artikel yang bisa saya peroleh, saya temukan, bukan saya pesan. Ada yang dari blog Kompasiana.com, ada yang dari website lembaga, ada yang dari blog pribadi, dan ada pula yang dari suratkabar online.  Semuanya membuat saya sangat antusias dan semakin membulatkan tekad saya. Tekad saya, do it with passion or not at all, lakukan dengan sepenuh gairah atau tidak sama sekali. Menyusun buku perlu memenuhi prinsip semacam ini: Do it with passion or not at all.
Kemudian, hasil unduhan saya pilah dan pilih untuk merancang sebuah buku. Yang tak relevan saya sisihkan, yang relevan saya pasang—dan untuk melengkapinya saya temukan tulisan lain atau arsip unduhan jauh-jauh hari. Akhirnya, dengan perjuangan yang menggairahkan, saya pilah buku bertajuk Much. Khoiri dalam 38 Wacana ini menjadi empat bagian: tentang Jejak Budaya Meretas Peradaban, tentang Rahasia TOP Menulis, tentang Pagi Pegawai Petang Pengarang, dan tinjauan biografis/apresiasi. Yang dimaksud  “wacana” di sini mengacu ke jenis atau genre tulisan semisal resensi, catatan, opini, berita, atau tinjauan biografis. “Tinggal membuat prakata, menemukan pakar untuk kata pengantar, dan membuat epilog,” begitu pikir saya.
Mengapa menggairahkan? Pertama, karena saya menemukan tulisan-tulisan yang berserakan itu tanpa sengaja dan tanpa pesanan. Ibaratnya, saya menemukan harta karun yang amat berharga. Kedua, saya mendapati persepsi, pendapat, dan sikap yang apa adanya (bukan hanya pujian melainkan juga kritik dan masukan) dari pembaca atau penulis lain terhadap saya dan buku-buku saya. Respons mereka sangat berharga bagi saya untuk bahan refleksi diri. Ketiga, saya ingin menuntaskan buku ini untuk kemudian segera kembali ke buku yang tak kalah menariknya bagi saya.
Terhadap naskah-naskah yang ada, saya hanya melakukan pemolesan bahasa serba sedikit alias seperlunya jika bahasa yang digunakan para penulis berpotensi mengganggu komunikasi; sementara substansi isinya tetap utuh. Tata tulis, tanda baca, kata penghubung, dan sejenisnya perlu saya perhatikan dalam penyuntingan. Paragraf yang terlalu panjang juga saya pecah menjadi dua atau tiga paragraf, guna menghindari kejenuhan pembaca. Singkatnya, tugas saya dalam penyuntingan ini hanya membantu agar pesan naskah bakal sampai pada pembaca.
Jadi begitulah, tahun baru 2016 adalah momentum emas yang membuat saya berpindah perhatian dari buku satu ke buku lain—akibat begitu kuat daya berontaknya untuk minta segera “dilahirkan”. Hingga hari ketiga, Minggu 3 Januari 2016, saya telah tersedot ke dalam permainan akrobat ini—tentu, dalam waktu tugas avokasi menulis saya. Saya menata artikel unduhan, menyuntingnya, mendokumentasikan sumbernya, mencarikan foto-foto untuk menambah refleksi, dan mengontak para penulis artikel. Hari-hari ke depan saya yakin, saya masih akan bergerak di dalam kumparan ini, hingga akhirnya semua bahan itu terajut dan menemukan takdirnya sebagai buku.
Proses kreatif, memang, sering tidak bisa ditebak ke mana juntrungnya. Tak jarang proses kreatif secara absurd mempermainkan orang yang melakoninya. Selama menggarap sebuah gagasan, terlebih karya panjang semisal buku, kita mungkin “diserang” gagasan-gagasan lain. Menulis, bagaimanapun juga, adalah proses dialog diri dan pergulatan bathin; dan di sanalah tumbuh gagasan-gagasan baru yang mungkin memperkaya gagasan yang sedang dikerjakan atau malah “menyerang” kita. Mana yang lebih kuat, itulah yang menguasai kita. Dan akrobat semacam ini telah membuat saya tersandera untuk menuntaskannya. Dalam hal ini saya terpaksa tunduk pada takdir proses kreatif saya.
Maka, mau tak mau saya harus menyelesaikan tanggungjawab saya, sebab sebenarnya sebagai penulis saya juga memikul tanggungjawab itu. Di sini taggungjawab saya ialah meladeni tantangan pemberontakan gagasan baru, dan kemudian saya akan segera kembali untuk melunasi utang saya, yakni menuntaskan buku saya yang tertunda. Itulah mengapa “pengorbanan” saya untuk mewujudkan gagasan baru—berupa buku yang Anda pegang ini—saya harapkan cukup sepadan dengan kemanfaatannya bagi Anda sebagai pembaca.
Mudah-mudahan Anda menemukan hikmah dan inspirasi yang berlimpah, dan dari sanalah Anda juga akan menebarkan virus hikmah dan inspirasi kepada ribuan pembaca Anda. Selamat membaca dan menulis untuk melunasi tanggungjawab Anda dalam ikut mencerdaskan anak bangsa. Insyaallah kelak kita akan bersua di dalam jiwa-jiwa mereka dan buku-buku mereka.*[]
Driyorejo, 11 Januari 2016
*Tulisan di atas diambil dari buku Much. Khoiri “Much. Khoiri dalam 38 Wacana” (Unesa University Press, Surabaya, 2016), halaman ix-xiii.
**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Serial Virus Emcho (4): AMPLOP BERKAH DARI PAK EMCHO

Buku karya Much. Khoiri

Oleh A Mustamsikin Koiri

Sore tadi tukang pos dengan senyuman khasnya, menyapa penulis untuk mengantar sebuah amplop paketan. Dengan sigap penulis pun menghampiri tukang pos seraya menyapa dengan penuh akrab untuk sekadar mengherek-herek (baca: menandatangani, ed.) resi kiriman.

Sembari menerima amplop tersebut penulis, penulis membaca sepintas pengirimnya, seraya mengucap syukur dalam batin. Amplop kali ini benar-benar membuat penulis merasa amat bahagia. Bukan saja karena deretan kata yang ditulis rapi di luar amplop belaka, melainkan lebih pada isinya.

Sembari mengetahui pengirimnya, kemudian penulis meyakinkan dalam hati bahwa isi dalam amplop tersebut pasti sebuah buku. Ternyata, dugaan penulis semula benar. Bahwa isi amplop tersebut adalah sebuah buku--yang kemudian penulis namai dengan 'amplop berkah'.

Buku tersebut disusun dan dikirim langsung oleh Pak Emcho--sapaan akrab Much Khoiri---pegiat literasi, penulis kondang, dan dosen Unesa Surabaya. Dari pengirimnya, segenap pembaca pasti telah cukup banyak mengetahui, kemashurannnya di bidang literasi.

Buku kiriman Pak Emcho kali ini sungguh membawa kebahagiaan bagi saya. Selain oleh sebab buku ini dikirim langsung oleh penyusunnya, dalam buku ini terdapat segelintir paragraf yang saya persembahkan untuk Pak Emcho.

Sepintas buku ini merupakan efek virus literasi yang disebarkan oleh Pak Emcho. Virus-virus yang ditularkan oleh Pak Emcho sungguh telah menjangkiti segenap penulis dalam buku tersebut.

Selanjutnya, perlu dipahami dengan kata virus di sini bukan virus penyakit, melainkan virus penebar cinta literasi yang menjangkiti pembaca oleh sebab banyak hal yang bersangkut-paut dengan Pak Emcho. Termasuk yang bersangkutan dengan Pak Emcho adalah inspirasinya untuk selalu konsisten menulis. Ia selalu membawa inspirasi bagi siapapun untuk mencintai dunia literasi, baik inspirasi tersebut dengan membaca buku karya Pak Emcho, atau pun bersapa akrab melalui tatap muka dengannya.

Tidak dimungkiri, memang Pak Emcho merupakan sosok yang amat inspiratif dan humoris. Tulisan-tulisannya selalu menggugah pembaca untuk segera menulis.

Kenyataan yang demikian pun terekam jelas dalam buku ini. Buku ini memberikan informasi yang cukup memadai untuk meneguhkan betapa besar virus literasi yang telah ditebarkan oleh Pak Emcho.

Sebagai pemungkas tulisan ini, penulis berterimakasih banyak kepada Pak Emcho yang telah mengikutsertakan sederet kalimat dalam buku tersebut. Untuk keduakalinya, penulis amat berterimakasih atas buku gratisnya. Semoga Pak Emcho senantiasa mendapat keberkahan dari-Nya, serta terus dapat menginspirasi siapapun.[]

Wallahu A'lam Bisshawab.

Kediri, 23 Januari 2018.

*Artikel di atas diambil dari buku karya Much. Khoiri “Virus Emcho Melintas Batas Ruang Waktu” (Sidoarjo, Tankali, 2020), hlm. 10-12.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Kata Pengantar: MEMBIASAKAN ANAK MENULIS

Buku karya Farida Hanum
Oleh: MUCH. KHOIRI

PEMBIASAAN sikap dan perilaku serta penanaman nilai-nilai membuahkan hasil signifikan ketika pembiasaan dimulai sejak masa kanak-kanak. Semakin intensif pembiasaan itu, semakin signifikan dampaknya. Mengikuti perspektif behavioristik ini, pembiasaan kegemaran menulis anak bisa ditumbuhkembangkan dengan berbagai upaya yang disengaja.

Agaknya itulah yang dimaksudkan oleh penulis buku ini, seorang guru yang sehari-hari berperan sebagai guru dan sekaligus ibu. Berangkat dari keprihatinannya atas kondisi menyedihkan terkait dunia anak yang rendah kebiasaan menulisnya, penulis buku ini mengajak pembaca, terutama orangtua, untuk menumbuhkan kegemaran anak menulis.

Menurut penulis buku, menumbuhkan kegemaran menulis anak, tentu, tidaklah mudah. Salah satu tantangan adalah kehadiran gadget yang lebih menarik dari pada buku, yang cenderung membuat mereka terlena untuk bermain-main. Di ponsel mereka lebih cenderung menulis pesan entah apa saja dengan bahasa seenaknya pula. Mereka berkomunikasi dengan "register" khas mereka. Singkatnya, andaikata mereka membaca dan menulis, semua itu masih tidak beraturan.

Membangun kegemaran dan kebiasaan menulis anak, dengan demikian, urgen dilakukan. Untuk itu, bagi penulis buku ini, orangtua perlu memahami karakter anak dengan baik. Kebiasaan membaca pun perlu dibangun, sebab membaca itu sumber pengetahuan untuk menulis. Selain itu, peran orangtua dan guru, keteladanan keluarga, serta dukungan pihak sekolah sangat diperlukan. Terutama keteladanan, sungguh sangat penting maknanya.

Membimbing anak menulis dengan keteladanan itu memiliki dampak yang sangat kuat. Anak akan menurut apa yang diarahkan oleh guru atau orangtua ketika keteladanan diberikan. Ibaratnya, anak akan mau mandi kalau orangtua sudah mandi, mau mengaji kalau orangtua suka mengaji, mau ke tempat ibadah kalau orangtua suka beribadah, dan seterusnya. Tanpa keteladanan, bimbingan atau pendampingan akan kehilangan (setidaknya kekurangan) daya pengaruhnya.

Penulis buku ini, dengan caranya sendiri, mengarahkan pembaca, terutama orangtua, dari bagaimana memahami karakter anak, membangun kebiasaan membaca, hingga seputar tulisan anak. Pada bab terakhir dia memaparkan trik menulis, menulis dari nol, menulis pengalaman, membuat anak gila menulis, dan menerbitkan tulisan anak. Sekali lagi, bimbingan atau pendampingan perlu disertai keteladanan yang memadai. Dengan begitu, tepat kiranya guru atau orangtua menggunakan kalimat ajakan: "Yuk menulis, Nak."

Tentu saja, penulisan buku ini diharapkan menjadi virus bagi guru lain atau pembaca umumnya. Ia akan menebar ke berbagai lini sekolah, menyapa ribuan atau jutaan guru sehingga mereka tergerak untuk menulis buku tentang aneka strategi membudayakan literasi di sekolah dan rumah. Mereka akan menjadi bagian dari rentangan tali kontinuitas pengetahuan yang berkesinambungan. Anda, tentu, termasuk di dalamnya.

Mudah-mudahan seluruh pembaca buku ini menemukan mutiara hikmah dan inspirasi untuk mengabadikan berbagai gagasan dan pengalaman ke dalam buku yang menyejarah. Tatkala itu terjadi, impian terpendam penulis buku ini menjadi kenyataan. Betapa bahagianya saat menulis menjadi amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir tanpa jeda.[]

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Farida Hanum berjudul “Yuk Menulis, Nak!: Menumbuhkan Anak Gemar Menulis” (Jakarta Utara, Mediaguru Digital Indonesia, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Friday, April 10, 2020

Kata Pengantar: LITERASI DIRI, BUDAYA INDIVIDU UNTUK BANGSA

Buku karya Rita Audriyanti

Oleh: MUCH. KHOIRI

Literasi diri, yang hakikatnya juga bagian dari budaya individu, memiliki potensi untuk mewarnai budaya kolektif suatu bangsa. Seberapa besar intensitas literasi diri menentukan seberapa signifikan pewarnaan yang ditimbulkannya. Sebagai budaya individu, literasi diri urgen dipraktikkan bagi siapapun juga yang berghirah besar untuk memperkaya budaya bangsa. Semakin banyak individu yang mempraktikannya, semakin cepat proses pewarnaan budaya itu.

Salah satu literasi diri yang terukur adalah literasi menulis. Ya, produk nyata dari menulis itu jelas—yakni berupa tulisan yang diterbitkan baik di blog, website, surat-kabar, majalah, jurnal, maupun buku. Dengan pikiran kritis pembaca dapat memetik informasi dan membaca sikap penulis dari tulisan itu. Dari tulisan itu pula pembaca menilai seberapa tinggi kualitasnya. Lalu, setelah mencermati tulisan itu, mungkin saja pembaca akan terinspirasi untuk menulis gagasanya sendiri dan akan menginspirasi pembaca selanjutnya.

Menulis itu sendiri, tak terelakkan lagi, menuntut kegiatan membaca yang kritis dan memadai. Tanpa membaca, menulis akan tersendat dan miskin data atau informasi pendukung. Sementara itu, pembacaan itu bukan hanya mengacu ke pembacaan teks tertulis, melainkan juga pembacaan teks tak tertulis—yang bertebaran tak terbatas. Maka, kontinuitas pengetahuan berestafet dari penulis ke pembaca, yang selanjutnya berkembang menjadi tulisan baru secara berkesinambungan. Penulis satu berutang pada penulis sebelumnya, dan seterusnya hingga ke maha-guru awalnya. 

Meminjam perspektif J.J. Hoenigman, menulis itu pengejawantahan tiga wujud budaya, mulai wujud ideal (gagasan), wujud aktivitas, dan wujud artefak. Dalam proses menulis, seseorang bergulat dan bergelut dalam proses kreatif dengan berpikir tingkat tinggi, menjalaninya secara fisik sebagai aktivitas, dan menghasilkan artefak yang estetik berupa sebuah tulisan. Dengan menulis aneka gagasan berdasarkan pembacaan dan perenungan atas fenomena dan pengalaman sehari-hari, budaya individu diabadikan dalam artefak tulisan yang diharapkan, sesuai dengan ars poetica penulis.

Lalu, bagaimana budaya individu, khususnya literasi menulis, berperan dalam mewarnai budaya kolektif bangsa? Perlu dicatat, budaya individu yang aktif akan berpotensi mempengaruhi dan mewarnai budaya komunitas. Kemudian, budaya komunitas yang aktif akan mempengaruhi budaya masyarakat dan bangsa. Kuncinya, jika budaya individu ini memiliki kekuatan pengaruh yang besar; maka, warna budaya yang dipengaruhi juga kentara. Kumpulan individu penulis sangat potensial untuk ikut memberi warna pelangi budaya bangsa.

Praktisnya, menulis itu memiliki kekuatan keabadian yang jauh lebih kokoh dari pada pikiran, ucapan, dan tindakan. Apa yang kita pikirkan akan lenyap, apa yang kita ucapkan dan lakukan akan tak berbekas—kecuali benar-benar dituliskan. Padahal, gerak pikiran, ucapan, dan tindakan itu sendiri merupakan praktik budaya. Dalam hal ini literasi menulis merekam dan mengabadikan praktik budaya manusia. 

Sementara itu, hasil tulisan itu akan dibaca sekian banyak orang. Tulisan-tulisan yang ada akan menyegarkan, mencerahkan, dan menginspirasi sekian banyak orang. Tulisan-tulisan itu akan beranak-pinak menjadi dua kali lipat, sepuluh kali lipat, atau seribu kali lipat dari pada sebelumnya. Jumlah tulisan yang tumbuh belakangan dapat tak terhingga karena melampaui batas ruang dan batas waktu. 

Begitulah sistem kerjanya tulisan dalam membangun budaya kolektif bangsa. Ketika seseorang menghasilkan tulisan (terlebih dengan kualitas tinggi), dia akan mempengaruhi atau menginspirasi sekian banyak orang—baik untuk memperkaya wawasan, maupun untuk menulis tulisan lain secara estafet. Dalam hal ini dia telah ikut membangun kebudayaan—jika pun tidak tampak sekarang, dampaknya akan tampak entah berapa tahun lagi ke depan.

Tak sedikit tokoh negeri ini yang menulis—dan kemudian menginspirasi ribuan atau jutaan masyarakat; dan sebagian masyarakat itu juga terinspirasi untuk menulis dan akhirnya juga menginspirasi masyarakat lain untuk berkarya pula. Begitu seterusnya. Dengan demikian, akumulasi dari gagasan yang inspiratif, yang berkembang dan dikembangkan secara berkelanjutan itu, semakin meluas dan mendalam dalam sistem sosial masyarakat. Penulis semacam WS Rendra, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Budi Darma, Emha Ainun Nadjib dan sebagainya pastilah memberikan sumbangsih penting bagi negeri ini.

Sekarang, tengoklah Rita Audriyanti, penulis buku HATI YANG SELESAI: Catatan dari Melbourne ini. Penulis sejumlah buku—juga ketua Sahabat Pena Nusantara cabang Malaysia—ini pada dasarnya juga mempraktikkan budaya individu lewat literasi  diri. Membaca dan menulis telah menyatu dalam dirinya. Dengan gaya penuturan yang enak diikuti karena pelibatan emosi yang kental, dia mengabadikan pengalaman dan perenungan dari Melbourne, Australia, tempat bungsunya mengambil studi lanjut. 

Pemahaman dan penghayatan yang utuh tentang topik-topik yang ditulisnya—antara lain “Cita-Cita Jadi Pilot”,  “Proses Pendaftaran”, “Nyaris Batal Terbang”, “Kota Modern dengan Cita Rasa Kuno”, “Jumpa Craig McKenzy”, “Nostalgia dan Blusukan ke Kampus”, “Warna Warni Kota Melbourne”, “High Trust Society”, “Ada yang Berbeda”, “Hati yang Selesai”—membuat tulisan-tulisan yang dihimpun di dalam buku ini bernas dan meyakinkan. Semua ini karena penulis menulis apa yang paling diketahuinya.

Apakah artefak budaya individu penulis ini akan memungkinkan adanya kontribusi tertentu dalam mewarnai budaya kolektif bangsa? Ada baiknya kita menengok sejarah. Ada beberapa sastrawan di negeri ini yang memilih pengalaman pribadinya sebagai salah satu dari karyanya, semisal Ilya Dzirkvelov (Agen KGB), Kevin Aprilio (Kevin Aprilio Official Box: Out of The Box), Iwan Setyawan (9 Summers 10 Autums), Andrea Hirata (Laskar Pelangi), A. Fuadi (Negeri 5 Menara). Beberapa karya Asma Nadia juga dihasilkan berdasarkan pengalaman pribadi.  

Buku-buku nonfiksi berbasis pengalaman, antara lain, karya Luthfiyah Nurlaela Ibu Guru, Saya Ingin Membaca (2012) dan Jangan Tinggalkan Kami (2013);  karya BMI Miracle of Life, Sandiwara Upik Abu (2012); karya tim Kompas Ekspedisi Jejak Peradaban (2011); karya Much. Khoiri Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014); dan karya Taufik Uiks Mengembara ke Masid-Masjid di Pelosok Dunia (2015). Sepintas buku-buku semacam ini hanya sekumpulan rekaman pengalaman (perjalanan), namun sebenarnya ia merupakan manifestasi budaya individu yang sarat muatan-muatan makna.

Untuk saat ini, rasanya tidak mudah mengukur keberhasilan penulis buku-buku tersebut—sama persis dengan kehadiran buku Rita Audriyanti. Namun, kita perlu optimistis, buku ini akan menerbarkan virus hikmah dan inspirasi menulis kepada keluarga, tetangga, sahabat, komunitas, dan siapapun yang membacanya. Ditambah hasil pembacaan karya-karya yang lain, para pembaca mungkin akan menulis karya mereka sendiri dan kemudian membuat pembaca selanjutnya menulis buku mereka sendiri. 

Tentu saja, tugas Rita Audriyanti sebagai penulis tentu bukan mengukur apa yang dilakukannya. Tugas utamanya adalah menulis dengan sebaik-baiknya; selebihnya pembacalah yang akan menindaklanjutinya. Generasi penerus kitalah yang akan membuktikannya—baik lewat ungkapan maupun karya mereka. Puncaknya, sejarah akan mencatat apakah buku ini memberikan kontribusi yang signifikan di masa depan. 

Meski demikian, penulis mesti menjunjung harapan dan keyakinan, bahwa tulisan tidaklah diam mematung, melainkan bergerak menemukan makna dan konteks barunya. Tulisan kita bahkan menyejarah lebih lanjut—ia akan berkembang dan dikembangkan menjadi pengetahuan-pengetahuan baru dari masa ke masa.  Di sinilah ungkapan Pramoedya Ananta Toer “menulis untuk keabadian” menemukan konteksnya.[] 
     
*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Rita Audriyanti berjudul “
Hati yang Selesai: Catatan dari Melbourne” (Yogyakarta, Diandra Kreatif, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Serial Virus Emcho (3): MENULIS DALAM KESIBUKAN

Karya anyar Much. Khoiri

Oleh A Mustamsikin Koiri

Judul tulisan ringan ini berangkat dari salah satu pegiat literasi dan dosen kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yakni Much. Khoiri, dalam status FB beliau mengenai aktivitas menulis. Much Khoiri--yang lebih sering disapa dengan Pak Emcho-- memang seorang pegiat literasi yang amat moncer dikenal saat ini.

Dalam dunia tulis menulis, Pak Emcho memiki tips atau sebuah jargon untuk selalu merawat semangat menulis, yakni “Menulis atau Mati.” Bahkan, secara nyata beliau juga menulis sebuah buku yang berjudul SOS (Sapa Ora Sibuk): Menulis dalam Kesibukan (2016), yang cukup mengelitik bagi penulis untuk disimak.

Jika melihat jargon yang dibuat oleh Pak Emcho ini, tentu dapat disimpulkan bahwa beliau merupakan seorang tokoh yang amat mencintai dunia literasi. Dari jargon ini pula, beliau banyak dikutip oleh para penulis lain, termasuk Pak Naim—sapaan akrab Dr. Ngainun Naim-- dalam bukunya The Power of Writing ( hal. 53).

Selain itu, belaiu bukan hanya lihai dalam berteori menulis, namun juga secara praktis beliau telah memberikan teladan bagi pegiat literasi, terlebih mengenai tulis menulis. Bukti nyata mengenai kelihaian beliau tertuang jelas dalam buku yang telah penulis sebutkan di atas.

Meski kesibukan terus menghampiri beliau, serasa tiada henti, namun karena kuatnya perinsip yang belaiu bangun beliau tetap menulis. Menulis dalam pandangan beliau merupakan hidup itu sendiri; sehingga sesibuk apapun beliau tetap menulis.

Dalam hal ini, penulis pun "sementara" sepakat dengan perinsip beliau, meskipun tentu tidak semudah itu dalam praktiknya. Pandangan penulis sejauh ini masih bertahan pada ungkapan bahwa menulis--dalam arti yang sesungguhnya--itu tidak mudah.
Mungkin pembaca boleh sepakat dan boleh tidak sepakat mengenai hal ini. Akan tetapi, tidak salah jika pembaca mencobanya. Dengan demikian, pembaca akan dapat membuktikan apakah menulis itu mudah--dalam kesibukan--atau sulit. So, cobalah. Anda akan merasakannya.[]

Wallahu A'lam Bisshawab.

Kediri, 21 Maret 2017

*Artikel di atas dikutip dari buku karya Much. Khoiri “Virus Emcho Melintas Batas Ruang Waktu” (Sidoarjo, Tankali, 2020), hlm. 8-9.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789

Tuesday, April 7, 2020

Kata Pengantar: MEMBACA LITERASI CINTA

Kumpulan Puisi karya Cecep Gaos

Oleh MUCH. KHOIRI

Literasi cinta bukan semata membaca dan menulis (tentang) cinta. Literasi cinta lamat-lamat disampaikan oleh penulis buku ini sebagai kemampuan menangkap ruh informasi cinta, memahami, mengolahnya, dan mengungkapkannya. Manusia yang literat cinta bukan hanya menghayatinya makna cinta itu sendiri, melainkan juga mampu mengungkapkannya dengan berbagai moda yang memungkinkan.

Penyair—tepatnya penulis buku ini—, dengan kapasitasnya sendiri, telah mencoba menangkap ruh cinta, memahami, mengolah, dan mengungkapkannya lewat bahasanya sendiri. Cinta itu, baginya, bukan hanya cinta kepada kekasih, melainkan kepada cinta kepada siswa, keluarga, ibu, istri, dan sesama. Cinta mengandung keluasan dan kedalaman yang sulit diukur namun bisa diungkapkan—meski hanya sebagian dari keseluruhan. Seakan ia sedang membicarakan fragmen-fragmen suara hati kepada yang dicintainya.

Inilah catatan pertama dari buku ini: puisi-puisi dalam buku ini seakan persembahan-persembahan cinta dengan sepenuh penghayatan untuk mereka yang dicintainya. Cinta kekasih, misalnya, dapat ditelisik di dalam puisi “Bersandarlah di Bahuku”, cinta siswa di dalam “Itu Semua Karena Cinta”, cinta keluarga di dalam “Malamku, Tidurku”, cinta ibu di dalam “Umnuha, Umnuha, Umnuha”, dan cinta istri di dalam “Istriku, Aku Pena untuk Kertas Putihmu” atau “Istriku, Kau Dokter Cintaku.”

Lewat puisi-puisi yang ada kita diajak untuk memahami (kembali) atau memaknai cinta dengan aneka rasa. Sejatinya kita sangat akrab dengan cinta, karena kita mengalaminya setiap waktu. Namun, kadangkala kita terlena atau abai dalam mengungkapkannya dengan cerdas dan pas. Maka, kehadiran buku ini mencubit kita untuk menyadari betapa cinta harus senantiasa dijaga, dihidupkan, dan disuburkan—tidak cukup untuk dianggap sudah bersemayam di dalam jiwa.

Catatan kedua, penulis buku menyelipkan judul puisi-puisinya di dalam salah satu baris atau bait, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bagian. Menariknya, hal ini konsisten diterapkan, entah sengaja atau tidak, dalam puisi-puisi yang ada. Jika dicermati, teknik demikian seakan telah terbiasakan oleh penyair ini, seakan mengalir mengikuti luapan perasaan yang deras, tanpa rekaan yang semu. Agaknya hal ini merupakan licentia poetica penyair, yakni kekhasan pengucapan dalam berkarya yang berbeda dengan penyair lain, sehingga kekhasan itu merupakan ikon bagi dirinya.

Misalnya, dalam puisi “Bersandarlah di Bahuku”, kita bisa melacak judul ini di baris pertama bait keempat: Jika kau ingin berkeluh kesah, bersandarlah di bahuku. Telah kusediakan bahu yang kokoh untukmu. Tuk menopang segala beban yang kaurasakan. Hingga ia menjadi ringan, seringan kapas butih yang terbang melayang ditiup angin malam. Dalam puisi “Ingin Kuungkap Sebuah Rahasia Malam”, kita juga bisa menengok judul ini dalam bait kedua: Ingin kuungkap sebuah rahasia malam. Rahasia tentang keindahan malam berpadunya insan dalam syahdunya temaram.

Yang ketiga, buku kumpulan puisi ini adalah wahana komunikasi penyampai pesan (speaker) kepada sesuatu benda, person, atau yang dipersonifikasikan. Ada semacam model komunikasi yang disampaikan oleh “aku” kepada “kau” dalam arti luas. Seakan tidak ada jarak sosial dan emosional antara “aku dan “kau”—bahkan kadang digunakan sebutan “kita”, sebuah upaya pelibatan empatik pembaca di dalamnya. Hal ini tampak dalam puisi “Membicarakan Hati” berikut ini:

Membicarakan hati tak seperti memakan sepotong roti. Yang bisa
dimakan sesuka hati. Tanpa harus menunggunya hingga basi.

Membicarakan hati tak seperti bernyanyi di kamar mandi. Tak peduli
apakah ada orang lain yang menikmati. Yang penting rasa senang di hati
sendiri sudah terpenuhi.

Membicarakan hati itu seperti meminum secangkir kopi. Sesekali kita
tiupi. Kita aduk agar rasanya tak saling melebihi. Sesekali kita cicipi. Agar
tahu rasanya apakah sudah pas di hati. Sesekali kita hirup aromanya.
Lalu kita menikmatinya.

Dalam puisi ini penggunaan “kita” menyiratkan adanya “aku” dan “kau” untuk diajak memahami hakikat membicarakan hati. Ada ruang berbagi tentang membicarakan hati—yang bukan seperti memakan roti atau bernyanyi di kamar mandi, melainkan seperti meminum secangir kopi. Simile yang indah dan menarik: secangkir kopi—minuman yang rasanya bisa diatur dan diolah sesuai selera peminumnya.

Komunikasi yang tanpa jarak inilah yang, agaknya, telah menyebabkan penyair untuk mengungkapkan suara hatinya dengan lancar—bahkan kadang terkesan begitu lugas dan telanjang. Bahkan penyair memposisikan diri sebagai speaker sebegitu dekatnya sehingga keduanya tak terpisahkan, menjadi kanal yang mulus untuk komunikasi. Bagaimanapun, puisi merupakan wahana komunikasi.

Di samping itu, kita sebagai pembaca dapat mengambil posisi sebagai “aku” ataupun “kau”—atau “kita” sekalian, namun kita mesti bersiap untuk tidak menemukan pengelompokan tema cinta. Tema-tema cinta yang ditanamkan oleh penyair disebar ke segala arah buku ini. Kita tidak disandera olehnya untuk memahami cinta secara kaku; sebaliknya, kita diberi kebebasan untuk memilih mana bunga-bunga cinta yang bermekaran di taman luas—yang telah ditanam dengan penuh penghayatan.

Puisi, sebagaimana karya sastra lain, memang terbuka untuk ditafsirkan, diinterpretasi; dan seberapa kualitas interpretasi bergantung pada seberapa luas pengalaman penafsirnya. Karena itu, terhadap puisi-puisi yang ada, kita mungkin memiliki keluasan dan kedalaman penafsiran yang berbeda. Itu sah-sah saja, sebagaimana kita juga bebas memaknai ayat-ayat alam tak tertulis sepanjang hidup ini. 

Sejauh itu, itulah puisi. Puisi adalah bahasa jiwa. Setiap penyair memiliki keunikan, kekhasan, dan seleranya sendiri dalam licentia poetica. Apapun bentuknya, sebagai bahasa jiwa, puisi-puisi dalam buku ini adalah bukti betapa penyair memiliki literasi cinta yang cukup paripurna. Sementara itu, sebagai pembaca, mari menjadi pembaca baik dan cerdas. Seberapa dalam dan luas dampaknya bagi kita, mari bawa hasil pembacaan kita ini untuk membaca literasi cinta kita sendiri.

Selamat membaca serta memetik inspirasi dan hikmahnya.

*Artikel ini adalah kata pengantar untuk buku Cecep Gaos berjudul “Literasi Cinta: Kumpulan Puisi” (Bogor, Seraung Dharma Dahana, 2018). Terima kasih disampaikan kepada penulis buku dan penerbit.

**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789



SEKAPUR SIRIH "JEJAK BUDAYA MERETAS PERADABAN"


Oleh Much. Khoiri

Selamat datang di buku ini, sebuah buku yang mengajak Anda menjelajahi, menyusuri, dan mencoba memaknai beragam jejak budaya yang saya hayati selama ini. Ia terdiri atas empat puluh satu tulisan, yang diabadikan dari amatan, pengalaman, pelibatan, dan refleksi saya dalam konteks praktik-praktik budaya sehari-hari.
Tulisan-tulisan dalam buku ini, yang kebanyakan telah saya unggah di blog sosial www.kompasiana.com/much-khoiri, semula tidak dimaksudkan secara khusus untuk disusun menjadi buku. Namun, karena desakan sejumlah kolega, tulisan-tulisan yang berserakan itu saya susun ke dalam kategori-kategori yang bisa mewadahi topik-topik yang ada.
Maka, jadilah tiga bagian buku ini. Bagian pertama, dengan empat-belas artikel, memotret jejak safari budaya yang saya telah hayati, terutama, sepanjang tahun 2013. Pengalaman melintasi Khatulistiwa, mengarungi sungai Barito, terbang paling menegangkan, atau bersua (kembali) dengan kolega lama menghiasi bagian pertama ini—termasuk keunikan dan kekhasan di dalam kesemestaannya.
Bagian kedua merekam jejak etos-inspirasi yang diharapkan membekas indah dan berkembang di benak Anda. Dengan tiga belas artikel, saya berharap untuk bisa menawarkan semangat dan inspirasi bagi Anda sebagai pembaca aktif dan kreatif—semisal tentang gagasan buku sebagai hadiah, pengalaman berhenti merokok, menambah teman setiap hari, jurus jitu mengingat nama, hingga pentingnya spirit multikulturalisme.
Bagian ketiga, dengan empat-belas tulisan, menampilkan jejak-jejak hikmah-kearifan yang mungkin pas dengan apa yang Anda hayati. Di bagian ini Anda diajak untuk mengarungi mutiara hikmah-kearifan yang tersimpan dari berbagai fenomena sehari-hari yang sepintas kelihatan remeh dan sederhana. Namun, justru di balik keremehan dan kesederhanaan itulah hikmah-kearifan bisa ditangkap dengan pikiran jernih dan hati bersih.
Tentu saja, buku ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak, termasuk Anda pegiat literasi, pegiat budaya, pendidik, peserta didik atau mahasiswa, dan pembaca umum yang haus bacaan. Khusus untuk mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra (Asing), buku ini bermanfaat sebagai bahan bacaan pengayaan dan penunjang (supplementary reading) untuk mendalami tentang manusia dan kebudayaan Indonesia, dan pemahaman silang-budaya (cross-cultural understanding).
Meski demikian, upaya kultural yang kecil ini tidak akan terwujud tanpa bantuan banyak pihak. Karena itu, pertama saya sampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Hj. Lies Amin Lestari, M.A., M.Pd. yang telah berkenan mencermati dan memberi kata pengantar untuk buku ini. Kedua, saya berutang-budi kepada kolega dan sesama penulis yang telah mendorong saya untuk membukukan tulisan-tulisan ini. Tidak lupa, saya juga berterima kasih kepada tim penyunting dan penerbit, yang telah memungkinkan buku ini terbit dalam bentuknya sekarang ini.
Akhir kata, mudah-mudahan buku ini menemukan tempatnya di hati Anda, menginspirasi dan menggerakkan Anda untuk “membaca alam” dengan lebih tajam dan/atau melahirkan aneka tulisan yang lebih mencerahkan. Saya telah mulai selangkah merekam sebabak jejak budaya meretas peradaban dengan cara saya sendiri, dan kini giliran Anda untuk menyambungnya.
Surabaya, April 2014
*Tulisan di atas diambil dari buku Much. Khoiri “Jejak Budaya Meretas Peradaban” (Jalindo-Satu Kata, Sidoarjo, 2014), halaman xi-xii.
**Pesan buku, hubungi HP/WA: 081331450689 / 081233838789





Dulgemuk Berbagi (6): TULISAN MENUNJUKKAN PENULISNYA

Oleh Much. Khoiri DALAM cangkrukan petang ini, setelah menyimak video-video tentang tokoh yang mengklaim dan diklaim sebagai imam besar, P...

Popular Posts